Jumat, 04 November 2011

psychotique (27)

hari ini mungkin adalah hari yang paling tidak ingin dilewati Bianca, dia ingin memutar waktu kembali sejauh mungkin hingga dia lebih lama untuk sampai di hari ini. matanya masih sembap. isak tangisnya masih terdengar samar-samar. tubuhnya masi lemas dipangkuan Zora. tenaganya sudah habis untuk meraung memprotes kepada Tuhan tentang keadaan yang tidak dia inginkan ini.hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. pikirannya masih terus bergejolak tentang kebenaran. ini beban yang terlalu berat untuknya, tak peduli masih ada berjuta-juta orang yang lebih menderita darinya di luar sana. dia tetap merasa ini adalah titik dimana dia jatuh terpuruk ke dasar jurang paling dalam bernama kesedihan.

duduk di lorong dengan tembok dingin dan hanya ditemani oleh kekasih tercintanya pun tak bisa membuat dia ceria lagi, yang diinginkannya saat ini hanyalah kesembuhan mamanya..

Zora dengan telaten mengusap-usap rambut Bianca. hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menenangkan wanita nya. Dio kemudian datang membawa 2 botol jus segar. Bianca memang suka sekali dengan jus jeruk. Dio berharap jus jeruk ini bisa membuat Bianca lebih tenang.

"Ini Bi, diminum dulu ya.." ujar Zora sambil sedikit membangunkan posisi Bianca.
Dio duduk disebelah Bianca dan melihat penuh iba wanita yang biasanya kuat dan dikaguminya, sekarang terpuruk.
Bianca menyeruput jus jeruknya. menarik napas panjang.
"makasih ya zor, Yo.." ucapnya.
"hehe, iya sama sama Bi.. gue seneng kok bantu lo.." Dio berusaha menyembunyikan perasaan ibanya.
"Bokap gue dimana?" tanyanya lagi.
"Oh itu ada di ruangan sebelah sana. lagi sama mama lo." kata Dio menunjukkan tempat dimana Papanya Bianca berada.
"Gue kesana dulu ya.. mau lihat mama.." ujarnya berusaha bangkit, tapi Zora menahan tangannya..
"Kamu uda kuat?" Bianca hanya mengangguk, lalu dengan langkah lunglai menuju ruangan yang tadi ditunjukkan Dio.

langkahnya terasa berat. dia harus siap melihat keadaan mamanya.. dia harus kuat dan tidak boleh kelihatan sedih.. dia harus!!!

sedikit demi sedikit dia berusaha mengubah mimik wajahnya yang tadinya tanpa ekspresi. menarik napas panjang untuk kesekian kalinya.
setelah memakai masker dan jubah berwarna hijau itu, dia membuka pintu perlahan.
berhenti sebentar melihat papanya yang sedang duduk disamping tempat tidur. memegang tangan istrinya tercinta...

dengan perlahan Bianca mencolek papanya.. lalu memberi isyarat untuk gantian.
papanya mengangguk kemudian keluar ruangan.
Dia sangat paham tentang kondisi kejiwaan anaknya yang sangat down mengetahui kondisi mamanya saat ini.

"Mah.." katanya tertahan di balik masker. air matanya perlahan meleleh lagi tapi buru buru dihapus.
dia sangat tidak ingin mamanya tahu dia sedih.
"cepet sembuh yah mah... Bi tau kok mama itu kuat.. iya kan mah?" Mamanya hanya terbujur kaku.
"nanti kalo mama udah sembuh, kita jalan jalan ya ke Lombok lagi. kan mama paling suka kesana. nanti kita main di pantai seharian, mama sama papa yang bangun istana pasir, terus Bi ancurin.." Bianca tersenyum sebentar mengenang masa lalu "malemnya Bi yang masak buat mama sama papa.. kita makan bertiga.."  Bianca tersenyum lagi, tapi disertai lelehan air mata. "nanti tengah malem, Bi pindah ke kamar mama sama papa saking Bi takut tidur sendirian. gangguin mama sama papa main kartu sampe subuh.." tangisnya mulai meledak..tapi tetap ditahan sekuat tenaga.
"mama denger kan? makanya cepet sembuh yah mah.. Bianca pergi dulu ya mah... i love you mom.." katanya seraya mencium kening mamanya.. setelah itu, dia keluar ruangan, mencopot maskernya dan meledaklah tangisannya... isak tangisnya memecah kesunyian ruang. Papanya memeluk Bi untuk menenangkan. mengusap-usap kepala Bi. Papanya pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah daripada Bi, tapi dia berusaha tegar agar putri kesayangannya ini bisa mencontohnya.

begitu kuat pesona sang mama di keluarga ini, tak ada satupun yang rela untuk ditinggalkan pelan pelan seperti itu.
Zora hanya bisa berdoa dalam hatinya, "yang sabar yah sayang.. aku tau kamu kuat..."
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 26 Oktober 2011

psychotique (26)

Bianca menyandarkan tubuhnya di dinding dingin depan ruangan itu. panik. itu yang terpancar dari wajahnya. Bekas air mata yang mengering  tampak jelas menghiasi pipinya. Entahlah, pikirannya melayang ke negeri entah berantah, dia hanya bisa mengingat bahwa tadi dia sangat panik melihat mamanya terkulai lemah.
Zora pun tampak panik, dia berjalan lunglai meninggalkan Bianca sendirian menuju ke kantin di rumah sakit itu.
sampainya disana, dia pun menyalakan rokoknya dengan korek api lumba-lumba. berharap semua kepanikan dan prasangka buruk tentang mamanya Bianca akan berlalu bersama asap rokok  yang sekarang sudah bertengger manis di bibirnya yang merekah.
tiba tiba Dio yang sudah tidak tahan ingin bertanya tentang keadaan mamanya Bianca, menghampiri Zora yang duduk di kantin.
"eh, kok lo ada disini?" tanya Zora kaget.
"e.. i.. iya.. tadi gue pas nyampe depan rumahnya Bianca, lo sama Bianca udah pergi lagi naek mobil ngebut, pas gue tanya ke pembantunya katanya pada kerumah sakit. makanya gue susulin deh."
"oooh.. iya, mamanya Bianca kambuh." jelas Zora sambil mempersilakan Dio untuk duduk di depannya.
"terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Dio.
"Belum tau, papanya masih ada di ruang dokter."
"sama Bianca?"
"enggak, Bianca ada di depan ruang dokter. dia daritadi kayak patung, gue ajak ngomong gak bisa. gue ikutan panik. jadi daripada nanti gue ribut sama dia ya gue kesini aja. nenangin diri." Zora menghembuskan asapnya kelangit.
"ohh begitu, yaudah deh gue mau nemuin Bianca dulu. dimana ruangannya?" tanya Dio bergegas.
"dari sini lurus sampe mentok belok kanan."
"oke, caw dulu ya Zor.." Zora mengiyakan dengan mengangkat tangannya.

Dio berjalan menghampiri Bianca,
"hey,," sapanya singkat.
Bianca hanya tersenyum simpul.
"gimana?" tanya dio lagi berusaha mencairkan suasana yang kaku. Bianca hanya mengangkat kedua bahunya.
Dio kemudian terdiam. Lalu papanya Bianca keluar dari ruangan dokter. lelaki tegap itu tampak lemah dan lesu.
tak berkata apa-apa, hanya duduk disebelah Dio yang masih terdiam, tak berani menanyakan apa apa.
Bianca yang masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding membuka suara "gimana pa?"
"Mama kamu sudah gak bisa diselamatkan lagi. kankernya sudah terlalu ganas, diangkat pun gak bisa. even papa bilang bakal di bawa kerumah sakit luar negeri mana saja yang terbagus, the doctor said itu akan percuma." Papanya menangis terisak.
Bianca membisu, airmatanya menetes dan terjatuh di lantai. beberapa detik kemudian meledak lah tangis Bianca.
"Gak mungkin paaaah... mama itu masih sehat, mama masih bisa senyum sama Bi!!" Bianca lemas tak bisa lagi menahan tubuhnya. Dio dengan sigap menahan tubuh Bianca.
"sabar Bi, lo gak boleh begini.." Dio coba menenangkan pujaannya itu.
"SABAR GIMANA?!!" Bianca berteriak histeris masih smbil menangis meraung.
Zora datang, kaget. tapi dia bisa melihat ketidakberesan disini. pertanyaannya dia simpan untuk nanti.
dia merangkul kekasih rahasianya itu, "hey.. you are strong girl.. gak boleh begini ya.." Bianca tak memperdulikan sekelilingnya, terus saja menangis. Begitu pedih baginya untuk menyadari kalau cepat atau lambat dia akan ditinggal oleh orang nomor satu di hidupnya.
"Om mau tengok Tante dulu ya.." Papanya mungkin sudah tak kuat melihat anak satu satunya menangis begitu pilu.
lalu dia pun berlalu.
Zora dan Dio kerepotan untuk menenangkan Bianca yang histeris.
"udah ya tenang, kalo gak tenang tenang gimana bisa nengok mama?" Zora berkata selembut mungkin.
"gi..ma..na bisa te..nang... mama zoooor.. mamaaaa... dokter bilang mama tuh udah gak bi...sa di obatin la.. la..gi..."Bianca bicara terbata bata, mengatur napasnya.
"itu takdir Bi, seenggaknya kan kamu bisa ngebahagiain mama sebelum mama dipanggil ke sisi-Nya.."
"Gak mau Zor, aku mau aku aja yang gantiin tempatnya mama!!!!" Bianca makin histeris.
"hus, gak boleh begitu.. kamu harus sabar, nanti mamanya kasian loh.." Zora memeluk Bianca.
Bianca makin kencang menangis di pelukan Zora, entahlah.. dunianya seakan runtuh.
dia tidak bisa membayangkan kalau tidak ada mamanya yang mendampingi hidupnya lagi, tak bisa membayangkan kalau tidak ada yang cerewet membangunkannya pagi pagi dan menyuruhnya sarapan.. tidak bisa membayangkan kalau tidak ada yang tersenyum disaat dia melakukan hal hal konyol dirumah, tidak bisa membayangkan kalau tidak ada pelukan penuh kehangatan lagi yang dia butuhkan sewaktu waktu....
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 21 Oktober 2011

psychotique (25)


"loh, kok kalian disini" Sapa Dio yang kebetulan lewat cafe tempat Bianca dan Zora makan.
"eh iya.." Zora salah tingkah dan berhenti melahap makannnya.
"Ngapain lo disini, Yo?" tanya Bianca setengah kaget.
"hmm.. gue mau ke toko buku yang disana.. mau nyari komik.." Dio garuk garuk kepala.
"oh.." Bianca datar.
"yaudah yah gue kesana dulu.." kata Dio lalu di iyakan oleh Zora dan Bianca.

"untung kamu lagi gakpegang tangan aku beb..." bisik Zora.
Bianca hanya cengengesan.

***

setelah selesai makan, mereka berdua pergi.
Dio membuntuti dengan motor sport besarnya.

didalam mobil,
"Biiiiiii....." Zora mengeluh manja.
"Apa sih? kenapa?" Bi fokus menyetir.
"Aku kekenyangan niiihhhhh.." Bi tersenyum melihat tingkah pacarnya yang seperti anak kecil. lalu mengelus perlahan perut sang Zora.
Dio menjajarkan motornya dengan mobil Bianca, dan tak sengaja melihat perlakuan Bi kepada Zora.
kaget melihatnya, shock!
"gila ini ada yang salah nih.. gak bener.." rutuk Dio .
Dio lalu memelankan laju motornya agar tidaksejajar lagi dengan mobilnya Bianca dan terus membuntutinya.

***

akhirnya sampai lah dirumahnya Bianca.
Zora turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sementara Bianca memarkir mobilnya.
Dio duduk diatas motornya dikejauhan dan mengawasi mereka.
sudah tercium hawa hawa tak enak di pikiran Dio.
tetapi Dio tak ingin mengambil kesimpulan yang nantinya malah akan membawa kesalah pahaman.

didalam rumah, papanya Bianca sudah bersimbah air mata memegang tubuh lunglai istrinya tercinta.
Zora terpaku melihat pemandangan itu, dia shock. dia takut membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi pada mamanya Bianca.
"Hah?!! mama....." Bianca agak berteriak, kaget melihat kondisi yang terjadi di ruang tamu rumahnya. seketika itu juga Bianca menghampiri mamanya..
"Ini kenapa? kenapa?!!!" Bianca berteriak kepada papanya. sedangkan papanya hanya menangis tak menjawab.
Bianca dengan sigap mencoba menggotong tubuh mamanya yang memang sudah kurus sekali di geragoti kanker dalam tubuhnya.
"biar papa aja, kamu siapin mobilnya." Papanya baru tersadar akan apa yang harusnya dilakukan. dia tidak boleh terlambat bertindak.
Bianca berlari ke depan sambil menghapus air matanya, sesigap mungkin dia menyalakan mobilnya kembali.
Zora pun membantu papanya menggotong mama Bi.
dan meluncurlah mereka ke rumah sakit terdekat.
Dio kaget, karena baru saja Bianca dan Zora masuk ke rumah lalu tiba tiba ada ribut ribut.
Dio kembali menunggangi motornya dan membuntuti dari belakang.

antara konsen dan tidak Bi menyetir mobilnya ke rumah sakit terdekat..
yang ada di pikirannya adalah dia harus cepat sampai agar mamanya selamat dari maut.
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 05 Oktober 2011

psychotique (24)


"Hai Zor.." sapa laki-laki ganteng bertubuh tegak.
"duduk." Sambut Zora dingin. Laki-laki itu menuruti perintah Zora.
Zora menyundut rokoknya. "Mau lo tuh apa sih cup sbenernya?"
"Gue gak mau apa-apa kok Zor." Jawab Ucup.
"Nah terus kenapa lo balik lagi ngehubungin gue? Gue itu udah sangat tenteram tanpa lo."
"Apa gak ada kesempatan kedua buat gue?" Ucup memelas.
"Udah gak ada." Zora sengit.
"Gue cuma mau perbaikin kesalahan gue waktu itu. Gue mau yakinin lo kalo gue itu dijebak sama Rara. Kenapa sih gak bisa?"
"Eh gausah maksa lo ya. Lo bener kan emang tidur sama Rara waktu itu?" Tanya Zora sudah mulai emosi.
"Oke, iya itu bener. tapi wktu itu gue mabok. gue gak sadar.." Sanggah Ucup.
"Alah, lo kira gue bego? gak sadar gak sadar.. Emangnya badan Rara segede apa ampe bisa perkosa lo? Gue bukan anak kecil, Cup. Lo nya emang dasarnya mau."
"Tapi gue gak sadar, Zor..."
"Gak ngaruh buat gue." Jawab Zora Acuh.
"Bener-bener gak ada kesempatan bagi gue? walau cuma mau bertemen sama lo???" Ucup sepertinya sudah patah semangat.
"Kalo masalah bertemen, nanti gue pikir-pikir lagi. Yang penting lo gak usah rese lagi. Gue pusing nih ngadepin Bianca. Lo tau kan Bianca benci banget sama lo. bisa darah tinggi dia kalo tau lo sebegini ngototnya mau ngejelasin yang uda lewat." Ucup hanya tertunduk. Zora mematikan rokoknya yang masi setengah batang. Lalu beranjak pergi.
"Mau kemana?" Cegah Ucup.
"Pulang lah.." Zora tak peduli.
"Gue anter ya?" Tawar Ucup.
"Gue bawa motor kali, Cup." Zora kemudian berlalu meninggalkan Ucup yang masih sakit hati mendengar perkataan Zora tadi.
Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya, kesalahan masa lalunya terlalu fatal untuknya. Wanita yang dicintainya pun pergi karena kebodohannya. Dia hanya sendiri.

***

"Sumpah ya Zor, kamu lama banget." Ujar Bianca yang telah menunggu sejak tadi.
"Hehe.. maaf sayang.. Tadi ada masalah yang harus aku kelarin." Zora nyengir sambil membuka helm nya.
"Masalah apa?" Bianca mencium seesuatu mencurigakan.
"Udah deh, nanti aku ceritain.. Ayok kita masuk." Zora merangkul pinggang bianca masuk ke sbuah toko buku.
Disana mereka memilih-milih buku yang akan dibeli. maklum lah sbentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional. suatu momok yang menakutkan bagi pelajar.
"sst.. kamu mau cerita apa sih?" bisik Bianca.
"ntar aja udah, sambil makan. aku laper nih." Zora menyikut Bianca.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah khusyu kembali memilih buku.
Setelah membayar buku yang dibelinya, mereka jalan keluar menuju sebuah cafe didekat situ.
"hmm... aku mau lasagna nya dooooong.." Ujar Zora manja.
Bianca sibuk memesan makanan, sedangkan Zora melihat-lihat lagi buku yang sudah dibelinya tadi.
"So, apa yang kamu mau ceritain?" Tanya Bi stelah beres memesan.
"Sebenernya tuh beberapa hari yang lalu Ucup mulai hubungin aku lagi. Gak tau deh dapet nomor aku dari siapa. Aku mau bilang kamu, tapi takut kamu emosi. Jadi aku baru berani bilang sekarang deh." Muka Bi langsung berubah datar.
"Trus?"
"Yah trus tadi tuh aku temuin Ucup dulu sebelum kesini. Bilang dan minta dia supaya gak ganggu aku lagi. Soalnya aku uda tenang tanpa dia. Awalnya dia maksa..."
"Brengsek..." Gumam Bianca memotong pembicaraan Zora.
"Sabar dulu.. aku terus kekeh bilang gak ada kesempatan kedua lagi buat dia. Yah akhirnya dia nyerah sih.. dia bilang yaudah pengen sekedar jadi temen aja." Zora menceritakan dengan muka tanpa dosa.
"Alah, alesan itu! dasar cowo gak tau diri.." Bianca emosi. "Itu pasti yang ngasih nomor kamu ke dia si Dio.." lanjut Bianca.
"Yaaaaa aku sih curiganya begitu."
"Pasti, siapa lagi kalo bukan dia. Inget ya sayang, aku gak suka sama dia. jangankan dia bertemen sama kamu, dia ketemu kamu gak sengaja pun aku gak suka. jauhin itu orang! kalo kamu sayang aku, kamu pasti ngerti." Bianca berusaha menahan emosinya.
Zora hanya mengangguk angguk. menahan perutnya yang keroncongan.
Akhurnya makanan pun datang, tanpa ba bi bu lagi Zora langsung menyambar makanan nya.. Bianca kebingungan melihat kekasihnya yang dengan napsunya melahap makanannya.
"Kamu gak makan dari SD ya sayang?"
»»  BERSAMBUNG... >>