hari ini mungkin adalah hari yang paling tidak ingin dilewati Bianca, dia ingin memutar waktu kembali sejauh mungkin hingga dia lebih lama untuk sampai di hari ini. matanya masih sembap. isak tangisnya masih terdengar samar-samar. tubuhnya masi lemas dipangkuan Zora. tenaganya sudah habis untuk meraung memprotes kepada Tuhan tentang keadaan yang tidak dia inginkan ini.hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. pikirannya masih terus bergejolak tentang kebenaran. ini beban yang terlalu berat untuknya, tak peduli masih ada berjuta-juta orang yang lebih menderita darinya di luar sana. dia tetap merasa ini adalah titik dimana dia jatuh terpuruk ke dasar jurang paling dalam bernama kesedihan.
duduk di lorong dengan tembok dingin dan hanya ditemani oleh kekasih tercintanya pun tak bisa membuat dia ceria lagi, yang diinginkannya saat ini hanyalah kesembuhan mamanya..
Zora dengan telaten mengusap-usap rambut Bianca. hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menenangkan wanita nya. Dio kemudian datang membawa 2 botol jus segar. Bianca memang suka sekali dengan jus jeruk. Dio berharap jus jeruk ini bisa membuat Bianca lebih tenang.
"Ini Bi, diminum dulu ya.." ujar Zora sambil sedikit membangunkan posisi Bianca.
Dio duduk disebelah Bianca dan melihat penuh iba wanita yang biasanya kuat dan dikaguminya, sekarang terpuruk.
Bianca menyeruput jus jeruknya. menarik napas panjang.
"makasih ya zor, Yo.." ucapnya.
"hehe, iya sama sama Bi.. gue seneng kok bantu lo.." Dio berusaha menyembunyikan perasaan ibanya.
"Bokap gue dimana?" tanyanya lagi.
"Oh itu ada di ruangan sebelah sana. lagi sama mama lo." kata Dio menunjukkan tempat dimana Papanya Bianca berada.
"Gue kesana dulu ya.. mau lihat mama.." ujarnya berusaha bangkit, tapi Zora menahan tangannya..
"Kamu uda kuat?" Bianca hanya mengangguk, lalu dengan langkah lunglai menuju ruangan yang tadi ditunjukkan Dio.
langkahnya terasa berat. dia harus siap melihat keadaan mamanya.. dia harus kuat dan tidak boleh kelihatan sedih.. dia harus!!!
sedikit demi sedikit dia berusaha mengubah mimik wajahnya yang tadinya tanpa ekspresi. menarik napas panjang untuk kesekian kalinya.
setelah memakai masker dan jubah berwarna hijau itu, dia membuka pintu perlahan.
berhenti sebentar melihat papanya yang sedang duduk disamping tempat tidur. memegang tangan istrinya tercinta...
dengan perlahan Bianca mencolek papanya.. lalu memberi isyarat untuk gantian.
papanya mengangguk kemudian keluar ruangan.
Dia sangat paham tentang kondisi kejiwaan anaknya yang sangat down mengetahui kondisi mamanya saat ini.
"Mah.." katanya tertahan di balik masker. air matanya perlahan meleleh lagi tapi buru buru dihapus.
dia sangat tidak ingin mamanya tahu dia sedih.
"cepet sembuh yah mah... Bi tau kok mama itu kuat.. iya kan mah?" Mamanya hanya terbujur kaku.
"nanti kalo mama udah sembuh, kita jalan jalan ya ke Lombok lagi. kan mama paling suka kesana. nanti kita main di pantai seharian, mama sama papa yang bangun istana pasir, terus Bi ancurin.." Bianca tersenyum sebentar mengenang masa lalu "malemnya Bi yang masak buat mama sama papa.. kita makan bertiga.." Bianca tersenyum lagi, tapi disertai lelehan air mata. "nanti tengah malem, Bi pindah ke kamar mama sama papa saking Bi takut tidur sendirian. gangguin mama sama papa main kartu sampe subuh.." tangisnya mulai meledak..tapi tetap ditahan sekuat tenaga.
"mama denger kan? makanya cepet sembuh yah mah.. Bianca pergi dulu ya mah... i love you mom.." katanya seraya mencium kening mamanya.. setelah itu, dia keluar ruangan, mencopot maskernya dan meledaklah tangisannya... isak tangisnya memecah kesunyian ruang. Papanya memeluk Bi untuk menenangkan. mengusap-usap kepala Bi. Papanya pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah daripada Bi, tapi dia berusaha tegar agar putri kesayangannya ini bisa mencontohnya.
begitu kuat pesona sang mama di keluarga ini, tak ada satupun yang rela untuk ditinggalkan pelan pelan seperti itu.
Zora hanya bisa berdoa dalam hatinya, "yang sabar yah sayang.. aku tau kamu kuat..."
»» BERSAMBUNG... >>
duduk di lorong dengan tembok dingin dan hanya ditemani oleh kekasih tercintanya pun tak bisa membuat dia ceria lagi, yang diinginkannya saat ini hanyalah kesembuhan mamanya..
Zora dengan telaten mengusap-usap rambut Bianca. hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menenangkan wanita nya. Dio kemudian datang membawa 2 botol jus segar. Bianca memang suka sekali dengan jus jeruk. Dio berharap jus jeruk ini bisa membuat Bianca lebih tenang.
"Ini Bi, diminum dulu ya.." ujar Zora sambil sedikit membangunkan posisi Bianca.
Dio duduk disebelah Bianca dan melihat penuh iba wanita yang biasanya kuat dan dikaguminya, sekarang terpuruk.
Bianca menyeruput jus jeruknya. menarik napas panjang.
"makasih ya zor, Yo.." ucapnya.
"hehe, iya sama sama Bi.. gue seneng kok bantu lo.." Dio berusaha menyembunyikan perasaan ibanya.
"Bokap gue dimana?" tanyanya lagi.
"Oh itu ada di ruangan sebelah sana. lagi sama mama lo." kata Dio menunjukkan tempat dimana Papanya Bianca berada.
"Gue kesana dulu ya.. mau lihat mama.." ujarnya berusaha bangkit, tapi Zora menahan tangannya..
"Kamu uda kuat?" Bianca hanya mengangguk, lalu dengan langkah lunglai menuju ruangan yang tadi ditunjukkan Dio.
langkahnya terasa berat. dia harus siap melihat keadaan mamanya.. dia harus kuat dan tidak boleh kelihatan sedih.. dia harus!!!
sedikit demi sedikit dia berusaha mengubah mimik wajahnya yang tadinya tanpa ekspresi. menarik napas panjang untuk kesekian kalinya.
setelah memakai masker dan jubah berwarna hijau itu, dia membuka pintu perlahan.
berhenti sebentar melihat papanya yang sedang duduk disamping tempat tidur. memegang tangan istrinya tercinta...
dengan perlahan Bianca mencolek papanya.. lalu memberi isyarat untuk gantian.
papanya mengangguk kemudian keluar ruangan.
Dia sangat paham tentang kondisi kejiwaan anaknya yang sangat down mengetahui kondisi mamanya saat ini.
"Mah.." katanya tertahan di balik masker. air matanya perlahan meleleh lagi tapi buru buru dihapus.
dia sangat tidak ingin mamanya tahu dia sedih.
"cepet sembuh yah mah... Bi tau kok mama itu kuat.. iya kan mah?" Mamanya hanya terbujur kaku.
"nanti kalo mama udah sembuh, kita jalan jalan ya ke Lombok lagi. kan mama paling suka kesana. nanti kita main di pantai seharian, mama sama papa yang bangun istana pasir, terus Bi ancurin.." Bianca tersenyum sebentar mengenang masa lalu "malemnya Bi yang masak buat mama sama papa.. kita makan bertiga.." Bianca tersenyum lagi, tapi disertai lelehan air mata. "nanti tengah malem, Bi pindah ke kamar mama sama papa saking Bi takut tidur sendirian. gangguin mama sama papa main kartu sampe subuh.." tangisnya mulai meledak..tapi tetap ditahan sekuat tenaga.
"mama denger kan? makanya cepet sembuh yah mah.. Bianca pergi dulu ya mah... i love you mom.." katanya seraya mencium kening mamanya.. setelah itu, dia keluar ruangan, mencopot maskernya dan meledaklah tangisannya... isak tangisnya memecah kesunyian ruang. Papanya memeluk Bi untuk menenangkan. mengusap-usap kepala Bi. Papanya pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah daripada Bi, tapi dia berusaha tegar agar putri kesayangannya ini bisa mencontohnya.
begitu kuat pesona sang mama di keluarga ini, tak ada satupun yang rela untuk ditinggalkan pelan pelan seperti itu.
Zora hanya bisa berdoa dalam hatinya, "yang sabar yah sayang.. aku tau kamu kuat..."

