Jumat, 04 November 2011

psychotique (27)

hari ini mungkin adalah hari yang paling tidak ingin dilewati Bianca, dia ingin memutar waktu kembali sejauh mungkin hingga dia lebih lama untuk sampai di hari ini. matanya masih sembap. isak tangisnya masih terdengar samar-samar. tubuhnya masi lemas dipangkuan Zora. tenaganya sudah habis untuk meraung memprotes kepada Tuhan tentang keadaan yang tidak dia inginkan ini.hatinya masih belum bisa menerima kenyataan. pikirannya masih terus bergejolak tentang kebenaran. ini beban yang terlalu berat untuknya, tak peduli masih ada berjuta-juta orang yang lebih menderita darinya di luar sana. dia tetap merasa ini adalah titik dimana dia jatuh terpuruk ke dasar jurang paling dalam bernama kesedihan.

duduk di lorong dengan tembok dingin dan hanya ditemani oleh kekasih tercintanya pun tak bisa membuat dia ceria lagi, yang diinginkannya saat ini hanyalah kesembuhan mamanya..

Zora dengan telaten mengusap-usap rambut Bianca. hanya ini yang bisa dia lakukan untuk menenangkan wanita nya. Dio kemudian datang membawa 2 botol jus segar. Bianca memang suka sekali dengan jus jeruk. Dio berharap jus jeruk ini bisa membuat Bianca lebih tenang.

"Ini Bi, diminum dulu ya.." ujar Zora sambil sedikit membangunkan posisi Bianca.
Dio duduk disebelah Bianca dan melihat penuh iba wanita yang biasanya kuat dan dikaguminya, sekarang terpuruk.
Bianca menyeruput jus jeruknya. menarik napas panjang.
"makasih ya zor, Yo.." ucapnya.
"hehe, iya sama sama Bi.. gue seneng kok bantu lo.." Dio berusaha menyembunyikan perasaan ibanya.
"Bokap gue dimana?" tanyanya lagi.
"Oh itu ada di ruangan sebelah sana. lagi sama mama lo." kata Dio menunjukkan tempat dimana Papanya Bianca berada.
"Gue kesana dulu ya.. mau lihat mama.." ujarnya berusaha bangkit, tapi Zora menahan tangannya..
"Kamu uda kuat?" Bianca hanya mengangguk, lalu dengan langkah lunglai menuju ruangan yang tadi ditunjukkan Dio.

langkahnya terasa berat. dia harus siap melihat keadaan mamanya.. dia harus kuat dan tidak boleh kelihatan sedih.. dia harus!!!

sedikit demi sedikit dia berusaha mengubah mimik wajahnya yang tadinya tanpa ekspresi. menarik napas panjang untuk kesekian kalinya.
setelah memakai masker dan jubah berwarna hijau itu, dia membuka pintu perlahan.
berhenti sebentar melihat papanya yang sedang duduk disamping tempat tidur. memegang tangan istrinya tercinta...

dengan perlahan Bianca mencolek papanya.. lalu memberi isyarat untuk gantian.
papanya mengangguk kemudian keluar ruangan.
Dia sangat paham tentang kondisi kejiwaan anaknya yang sangat down mengetahui kondisi mamanya saat ini.

"Mah.." katanya tertahan di balik masker. air matanya perlahan meleleh lagi tapi buru buru dihapus.
dia sangat tidak ingin mamanya tahu dia sedih.
"cepet sembuh yah mah... Bi tau kok mama itu kuat.. iya kan mah?" Mamanya hanya terbujur kaku.
"nanti kalo mama udah sembuh, kita jalan jalan ya ke Lombok lagi. kan mama paling suka kesana. nanti kita main di pantai seharian, mama sama papa yang bangun istana pasir, terus Bi ancurin.." Bianca tersenyum sebentar mengenang masa lalu "malemnya Bi yang masak buat mama sama papa.. kita makan bertiga.."  Bianca tersenyum lagi, tapi disertai lelehan air mata. "nanti tengah malem, Bi pindah ke kamar mama sama papa saking Bi takut tidur sendirian. gangguin mama sama papa main kartu sampe subuh.." tangisnya mulai meledak..tapi tetap ditahan sekuat tenaga.
"mama denger kan? makanya cepet sembuh yah mah.. Bianca pergi dulu ya mah... i love you mom.." katanya seraya mencium kening mamanya.. setelah itu, dia keluar ruangan, mencopot maskernya dan meledaklah tangisannya... isak tangisnya memecah kesunyian ruang. Papanya memeluk Bi untuk menenangkan. mengusap-usap kepala Bi. Papanya pun merasakan hal yang sama, bahkan mungkin lebih parah daripada Bi, tapi dia berusaha tegar agar putri kesayangannya ini bisa mencontohnya.

begitu kuat pesona sang mama di keluarga ini, tak ada satupun yang rela untuk ditinggalkan pelan pelan seperti itu.
Zora hanya bisa berdoa dalam hatinya, "yang sabar yah sayang.. aku tau kamu kuat..."
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 26 Oktober 2011

psychotique (26)

Bianca menyandarkan tubuhnya di dinding dingin depan ruangan itu. panik. itu yang terpancar dari wajahnya. Bekas air mata yang mengering  tampak jelas menghiasi pipinya. Entahlah, pikirannya melayang ke negeri entah berantah, dia hanya bisa mengingat bahwa tadi dia sangat panik melihat mamanya terkulai lemah.
Zora pun tampak panik, dia berjalan lunglai meninggalkan Bianca sendirian menuju ke kantin di rumah sakit itu.
sampainya disana, dia pun menyalakan rokoknya dengan korek api lumba-lumba. berharap semua kepanikan dan prasangka buruk tentang mamanya Bianca akan berlalu bersama asap rokok  yang sekarang sudah bertengger manis di bibirnya yang merekah.
tiba tiba Dio yang sudah tidak tahan ingin bertanya tentang keadaan mamanya Bianca, menghampiri Zora yang duduk di kantin.
"eh, kok lo ada disini?" tanya Zora kaget.
"e.. i.. iya.. tadi gue pas nyampe depan rumahnya Bianca, lo sama Bianca udah pergi lagi naek mobil ngebut, pas gue tanya ke pembantunya katanya pada kerumah sakit. makanya gue susulin deh."
"oooh.. iya, mamanya Bianca kambuh." jelas Zora sambil mempersilakan Dio untuk duduk di depannya.
"terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Dio.
"Belum tau, papanya masih ada di ruang dokter."
"sama Bianca?"
"enggak, Bianca ada di depan ruang dokter. dia daritadi kayak patung, gue ajak ngomong gak bisa. gue ikutan panik. jadi daripada nanti gue ribut sama dia ya gue kesini aja. nenangin diri." Zora menghembuskan asapnya kelangit.
"ohh begitu, yaudah deh gue mau nemuin Bianca dulu. dimana ruangannya?" tanya Dio bergegas.
"dari sini lurus sampe mentok belok kanan."
"oke, caw dulu ya Zor.." Zora mengiyakan dengan mengangkat tangannya.

Dio berjalan menghampiri Bianca,
"hey,," sapanya singkat.
Bianca hanya tersenyum simpul.
"gimana?" tanya dio lagi berusaha mencairkan suasana yang kaku. Bianca hanya mengangkat kedua bahunya.
Dio kemudian terdiam. Lalu papanya Bianca keluar dari ruangan dokter. lelaki tegap itu tampak lemah dan lesu.
tak berkata apa-apa, hanya duduk disebelah Dio yang masih terdiam, tak berani menanyakan apa apa.
Bianca yang masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding membuka suara "gimana pa?"
"Mama kamu sudah gak bisa diselamatkan lagi. kankernya sudah terlalu ganas, diangkat pun gak bisa. even papa bilang bakal di bawa kerumah sakit luar negeri mana saja yang terbagus, the doctor said itu akan percuma." Papanya menangis terisak.
Bianca membisu, airmatanya menetes dan terjatuh di lantai. beberapa detik kemudian meledak lah tangis Bianca.
"Gak mungkin paaaah... mama itu masih sehat, mama masih bisa senyum sama Bi!!" Bianca lemas tak bisa lagi menahan tubuhnya. Dio dengan sigap menahan tubuh Bianca.
"sabar Bi, lo gak boleh begini.." Dio coba menenangkan pujaannya itu.
"SABAR GIMANA?!!" Bianca berteriak histeris masih smbil menangis meraung.
Zora datang, kaget. tapi dia bisa melihat ketidakberesan disini. pertanyaannya dia simpan untuk nanti.
dia merangkul kekasih rahasianya itu, "hey.. you are strong girl.. gak boleh begini ya.." Bianca tak memperdulikan sekelilingnya, terus saja menangis. Begitu pedih baginya untuk menyadari kalau cepat atau lambat dia akan ditinggal oleh orang nomor satu di hidupnya.
"Om mau tengok Tante dulu ya.." Papanya mungkin sudah tak kuat melihat anak satu satunya menangis begitu pilu.
lalu dia pun berlalu.
Zora dan Dio kerepotan untuk menenangkan Bianca yang histeris.
"udah ya tenang, kalo gak tenang tenang gimana bisa nengok mama?" Zora berkata selembut mungkin.
"gi..ma..na bisa te..nang... mama zoooor.. mamaaaa... dokter bilang mama tuh udah gak bi...sa di obatin la.. la..gi..."Bianca bicara terbata bata, mengatur napasnya.
"itu takdir Bi, seenggaknya kan kamu bisa ngebahagiain mama sebelum mama dipanggil ke sisi-Nya.."
"Gak mau Zor, aku mau aku aja yang gantiin tempatnya mama!!!!" Bianca makin histeris.
"hus, gak boleh begitu.. kamu harus sabar, nanti mamanya kasian loh.." Zora memeluk Bianca.
Bianca makin kencang menangis di pelukan Zora, entahlah.. dunianya seakan runtuh.
dia tidak bisa membayangkan kalau tidak ada mamanya yang mendampingi hidupnya lagi, tak bisa membayangkan kalau tidak ada yang cerewet membangunkannya pagi pagi dan menyuruhnya sarapan.. tidak bisa membayangkan kalau tidak ada yang tersenyum disaat dia melakukan hal hal konyol dirumah, tidak bisa membayangkan kalau tidak ada pelukan penuh kehangatan lagi yang dia butuhkan sewaktu waktu....
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 21 Oktober 2011

psychotique (25)


"loh, kok kalian disini" Sapa Dio yang kebetulan lewat cafe tempat Bianca dan Zora makan.
"eh iya.." Zora salah tingkah dan berhenti melahap makannnya.
"Ngapain lo disini, Yo?" tanya Bianca setengah kaget.
"hmm.. gue mau ke toko buku yang disana.. mau nyari komik.." Dio garuk garuk kepala.
"oh.." Bianca datar.
"yaudah yah gue kesana dulu.." kata Dio lalu di iyakan oleh Zora dan Bianca.

"untung kamu lagi gakpegang tangan aku beb..." bisik Zora.
Bianca hanya cengengesan.

***

setelah selesai makan, mereka berdua pergi.
Dio membuntuti dengan motor sport besarnya.

didalam mobil,
"Biiiiiii....." Zora mengeluh manja.
"Apa sih? kenapa?" Bi fokus menyetir.
"Aku kekenyangan niiihhhhh.." Bi tersenyum melihat tingkah pacarnya yang seperti anak kecil. lalu mengelus perlahan perut sang Zora.
Dio menjajarkan motornya dengan mobil Bianca, dan tak sengaja melihat perlakuan Bi kepada Zora.
kaget melihatnya, shock!
"gila ini ada yang salah nih.. gak bener.." rutuk Dio .
Dio lalu memelankan laju motornya agar tidaksejajar lagi dengan mobilnya Bianca dan terus membuntutinya.

***

akhirnya sampai lah dirumahnya Bianca.
Zora turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sementara Bianca memarkir mobilnya.
Dio duduk diatas motornya dikejauhan dan mengawasi mereka.
sudah tercium hawa hawa tak enak di pikiran Dio.
tetapi Dio tak ingin mengambil kesimpulan yang nantinya malah akan membawa kesalah pahaman.

didalam rumah, papanya Bianca sudah bersimbah air mata memegang tubuh lunglai istrinya tercinta.
Zora terpaku melihat pemandangan itu, dia shock. dia takut membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi pada mamanya Bianca.
"Hah?!! mama....." Bianca agak berteriak, kaget melihat kondisi yang terjadi di ruang tamu rumahnya. seketika itu juga Bianca menghampiri mamanya..
"Ini kenapa? kenapa?!!!" Bianca berteriak kepada papanya. sedangkan papanya hanya menangis tak menjawab.
Bianca dengan sigap mencoba menggotong tubuh mamanya yang memang sudah kurus sekali di geragoti kanker dalam tubuhnya.
"biar papa aja, kamu siapin mobilnya." Papanya baru tersadar akan apa yang harusnya dilakukan. dia tidak boleh terlambat bertindak.
Bianca berlari ke depan sambil menghapus air matanya, sesigap mungkin dia menyalakan mobilnya kembali.
Zora pun membantu papanya menggotong mama Bi.
dan meluncurlah mereka ke rumah sakit terdekat.
Dio kaget, karena baru saja Bianca dan Zora masuk ke rumah lalu tiba tiba ada ribut ribut.
Dio kembali menunggangi motornya dan membuntuti dari belakang.

antara konsen dan tidak Bi menyetir mobilnya ke rumah sakit terdekat..
yang ada di pikirannya adalah dia harus cepat sampai agar mamanya selamat dari maut.
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 05 Oktober 2011

psychotique (24)


"Hai Zor.." sapa laki-laki ganteng bertubuh tegak.
"duduk." Sambut Zora dingin. Laki-laki itu menuruti perintah Zora.
Zora menyundut rokoknya. "Mau lo tuh apa sih cup sbenernya?"
"Gue gak mau apa-apa kok Zor." Jawab Ucup.
"Nah terus kenapa lo balik lagi ngehubungin gue? Gue itu udah sangat tenteram tanpa lo."
"Apa gak ada kesempatan kedua buat gue?" Ucup memelas.
"Udah gak ada." Zora sengit.
"Gue cuma mau perbaikin kesalahan gue waktu itu. Gue mau yakinin lo kalo gue itu dijebak sama Rara. Kenapa sih gak bisa?"
"Eh gausah maksa lo ya. Lo bener kan emang tidur sama Rara waktu itu?" Tanya Zora sudah mulai emosi.
"Oke, iya itu bener. tapi wktu itu gue mabok. gue gak sadar.." Sanggah Ucup.
"Alah, lo kira gue bego? gak sadar gak sadar.. Emangnya badan Rara segede apa ampe bisa perkosa lo? Gue bukan anak kecil, Cup. Lo nya emang dasarnya mau."
"Tapi gue gak sadar, Zor..."
"Gak ngaruh buat gue." Jawab Zora Acuh.
"Bener-bener gak ada kesempatan bagi gue? walau cuma mau bertemen sama lo???" Ucup sepertinya sudah patah semangat.
"Kalo masalah bertemen, nanti gue pikir-pikir lagi. Yang penting lo gak usah rese lagi. Gue pusing nih ngadepin Bianca. Lo tau kan Bianca benci banget sama lo. bisa darah tinggi dia kalo tau lo sebegini ngototnya mau ngejelasin yang uda lewat." Ucup hanya tertunduk. Zora mematikan rokoknya yang masi setengah batang. Lalu beranjak pergi.
"Mau kemana?" Cegah Ucup.
"Pulang lah.." Zora tak peduli.
"Gue anter ya?" Tawar Ucup.
"Gue bawa motor kali, Cup." Zora kemudian berlalu meninggalkan Ucup yang masih sakit hati mendengar perkataan Zora tadi.
Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya, kesalahan masa lalunya terlalu fatal untuknya. Wanita yang dicintainya pun pergi karena kebodohannya. Dia hanya sendiri.

***

"Sumpah ya Zor, kamu lama banget." Ujar Bianca yang telah menunggu sejak tadi.
"Hehe.. maaf sayang.. Tadi ada masalah yang harus aku kelarin." Zora nyengir sambil membuka helm nya.
"Masalah apa?" Bianca mencium seesuatu mencurigakan.
"Udah deh, nanti aku ceritain.. Ayok kita masuk." Zora merangkul pinggang bianca masuk ke sbuah toko buku.
Disana mereka memilih-milih buku yang akan dibeli. maklum lah sbentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional. suatu momok yang menakutkan bagi pelajar.
"sst.. kamu mau cerita apa sih?" bisik Bianca.
"ntar aja udah, sambil makan. aku laper nih." Zora menyikut Bianca.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah khusyu kembali memilih buku.
Setelah membayar buku yang dibelinya, mereka jalan keluar menuju sebuah cafe didekat situ.
"hmm... aku mau lasagna nya dooooong.." Ujar Zora manja.
Bianca sibuk memesan makanan, sedangkan Zora melihat-lihat lagi buku yang sudah dibelinya tadi.
"So, apa yang kamu mau ceritain?" Tanya Bi stelah beres memesan.
"Sebenernya tuh beberapa hari yang lalu Ucup mulai hubungin aku lagi. Gak tau deh dapet nomor aku dari siapa. Aku mau bilang kamu, tapi takut kamu emosi. Jadi aku baru berani bilang sekarang deh." Muka Bi langsung berubah datar.
"Trus?"
"Yah trus tadi tuh aku temuin Ucup dulu sebelum kesini. Bilang dan minta dia supaya gak ganggu aku lagi. Soalnya aku uda tenang tanpa dia. Awalnya dia maksa..."
"Brengsek..." Gumam Bianca memotong pembicaraan Zora.
"Sabar dulu.. aku terus kekeh bilang gak ada kesempatan kedua lagi buat dia. Yah akhirnya dia nyerah sih.. dia bilang yaudah pengen sekedar jadi temen aja." Zora menceritakan dengan muka tanpa dosa.
"Alah, alesan itu! dasar cowo gak tau diri.." Bianca emosi. "Itu pasti yang ngasih nomor kamu ke dia si Dio.." lanjut Bianca.
"Yaaaaa aku sih curiganya begitu."
"Pasti, siapa lagi kalo bukan dia. Inget ya sayang, aku gak suka sama dia. jangankan dia bertemen sama kamu, dia ketemu kamu gak sengaja pun aku gak suka. jauhin itu orang! kalo kamu sayang aku, kamu pasti ngerti." Bianca berusaha menahan emosinya.
Zora hanya mengangguk angguk. menahan perutnya yang keroncongan.
Akhurnya makanan pun datang, tanpa ba bi bu lagi Zora langsung menyambar makanan nya.. Bianca kebingungan melihat kekasihnya yang dengan napsunya melahap makanannya.
"Kamu gak makan dari SD ya sayang?"
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 29 September 2011

psychotique (23)

Jantung Bianca dan Zora berpacu dengan cepat, melihat sepasang bola mata wanita setengah baya itu mekihat mereka berciuman dengan mesra. Entah apa yang akan dilakukan mereka. Dunia rasanya hancur dan mereka pun membeku.
"maaf neng.." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut bi Imah. Pucat wajahnya tak bisa disembunyikan. lalu dia kemudian menutup pintunya dan kembali ke dapur dengan perasaan yang campur aduk.
Bianca tersadar, "Gimana ini?" tanyanya pada Zora yang masih diam.
"a..aku gatau Bi.." Zora menutup mukanya membayangkan kalau Bi Imah akan mengadukan ini kepada maminya.. dia takut sekali. Takut maminya marah. Takut kehilangan Bianca.

"yaudah sebentar ya.. aku mau ngomongin sama Bi Imah.." Bianca sadar ini harus diselesaikan.
"tapi Bi.." Zora berusaha melarang.
"Tenang aja, aku cuma mau omongin kok.. kamu mau ikut?" tanya Bianca. Zora hanya mengangguk dan mengekor langkahnya Bianca.

Didapur,
"Bi..." Zora memanggil bi Imah yang sedang sibuk memasak.
"Iya non?" Bi Imah kelihatan sekali sedang menguasai perasaannya.
"masalah yang tadi bi, hmm.. anu.." Sambung Bianca.
"hmm.. Bibi gapapa Non, maaf tadi Bibi masuknya maen nyelonong aja, gak ngetok pintu dulu." Jawab wanita paruh baya itu gugup.
"Enggak, aku disini mau minta maaf bi. Bibi jadi gak nyaman ngeliat yang tadi.. beneran aku minta maaf ya bi.." kata Bianca. sedangkan Zora terdiam dibelakang tubuh Bianca.
"Iya non, Bibi yang harusnya minta maaff bukannya Non. aduh gimana ya.. hmm.. Bibi sih cuma mau nanya aja, apa kalian? hmm..anu.." kata Bi Imah kikuk.
"iya Bi, kita saling sayang" Bianca mengiyakan.
"tapi bibi jangan bilang sama mamski ya?" Akhirnya Zora membuka suara juga. jujur dia sangat takut kalau nanti bi Imah mengadu semua ini kepada maminya.
Bi imah berjalan mendekati Zora yang sedang panik, lalu memeluk anak majikan kesayangannya itu. "Iya Non Zora.. bibi gak bakal bilang.. bibi gak mau non dimarahin sama nyonya.. sebenernya bibi masih gak percaya. tapi bibi seneng kok kalau non Zora juga seneng." Zora membalas pelukan Bibi yang telah menemaninya dari dia masih orok dulu. hangat. hanya dialah perempuan yang bisa mengerti bagaimana perasaan terlarang dalam hatinya ini.

***

my all - mariah carey mengalun dari handphone Zora. "halo?"
"zor, kamu dimana? kok gak sekolah?" tanya lelaki di seberang sana.
"hah? siapa ini?" tanya Zora bingung.
"Ucup" kontan muka Zora langsung pucat. ditambah ada Bianca di sampingnya.
"Dimana aja boleh." Zora langsung mematikan teleponnya.
Bianca bingung melihat tingkah Zora. "siapa sayang?" tanyanya santai.
"ah, itu gak tau.."
"kok gak tau?" Bianca mengernyitkan dahinya.
"iya, abis iseng banget nanya dimana. takut suruhan Pak guru." jawabnya asal.
"hahaha.. parno deh. makanya jangan suka bolos sekolah. bentar lagi udah mau ujian nasionak juga. jadi anak tuh yang rajin." Bianca mengeluarkan jurus seribu khotbah nya.
"bawel deh, kamu juga kan ikutan bolos Bi.." Zora mencubit hidung Bianca gemas.
"adooooh.. sakit tau.. ya ini kan gara2 kamu. aku mah aslinya rajin weeee.."
Zora menjulurkan lidahnya. lalu diam diam menonaktifkan hp nya. takut Ucup meneleponnya lagi.
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 22 September 2011

psychotique (22)



Di depan rumah Zora, Bianca sudah siap dengan mobilnya dan dandanan khas cewek tomboy, kaos dipadu celana jeans ketat.
"eh uda ganteng pacal akoooh" Zora menyambut sambil mencubit pipi Bi.. "mau kemana kita?" tanya Zora.
"kita ke GOR makan cimol." ucap Bi sambil masuk mobil.
Zora cemberut, masa iya uda pake dress begini, udah oke begini cuma mau diajak ke GOR makan cimol doang lagi..
"sayaaaaaang, masa cuma mau ke GOR makan cimol siiiiihhh???" Zora memonyongkan bibirnya, disambut tangan Bi meraup bibirnya Zora
"itu bibir biasa aja dong. hahaha.. ya abis kamunya mendadak banget sih ah. sekali sekali makan cimol" ledek Bianca.
"ya boleh aja, tapi harusnya bilang dari tadi looooh.. ini aku uda pake dress, ntar digodain ama mas mas tengil disana duduuuul.."
"tenang ada aku" Bianca masih dengan gaya coolnya, melajukan mobilnya.


***


Benar-benar Bi mengajak Zora ke gelanggang olah raga. Bi memarkirkan kendaraannya di samping tukang makanan.
"aku belum sarapan, makan lontong sayur dulu ya." ucap Bi sambil beres2 turun dari mobil.
Zora masih dengan pose memonyongkan bibirnya. "sayaaang, tega amat sih. makannya di mobil aja ya"
"idih, ntar bau makanan. ogah ah." Bi membuka pintu mobilnya. Zora masih tak bergeming. "gak mau turun? mau aku kunciin? yaudah.." Bi mengancam.
"aaah, iya iya turun" Zora buru buru turun dari mobilnya.
mereka duduk di warung tenda yang menjual lontong sayur. "kamu mau Zor?" tawar Bi.
"eh enggak, aku minum aja." Zora masih risih karena ini masih pagi, banyak yang masih berlari pagi di gor sana. dan ini kostumnya sama sekali menyimpang.
"yaudah bu satu aja, minumnya dua." Bianca stay cool memainkan handphonenya.
"bi, ini aku diliatin." Zora berbisik smbil menarik tangan Bianca.
"yaudah liatin balik." jawab Bi asal yang langsung ditimpali cubitan di pinggangnya. lumayan, membuatnya sedikit meringis.

***


Dtempat berbeda,
"Lo langsung nelepon Zora ya?" tanya Dio pada Ucup di studio bandnya.
"iya, Zora cerita?"
Dio menghembuskan asap rokoknya "yaiyalah dia cerita sama gue. lo tuh gegabah banget ya.. lo gatau apa itu hatinya Zora kayak apa dulu ? dia itu lagi ngebangun moodnya, ngebangun lagi hatinya yang uda lo hancurin. lo gabisa lah tiba2 telepon terus langsung bilang mau ngajak balikan. seenggaknya lo ngerti lah sakitnya dia tuh kayak apa. kalau dia emang langsung nolak lo mentah mentah ya gue gak heran."
Ucup menaruh gitarnya, "sumpah ya Yo, gue emang dari dulu itu ga ngert gimana caranya ngadepin cewe. ditambah ini cewe yang gue sayang banget. gue jadi out of control. gue suka ngelakuin yang akhirnya tuh bisa ngebuat gue tampak bego depan dia." Ucup pun menyalakan rokoknya.
"ya lo uda tau begitu di pikir dulu dong sebelum bertindak. Zora itu bukan cewe biasa lagi. dia cewe yang uda lo sakitin. so, bakalan gak gampang banget kalo tiba2 lo dateng minta maaf dan berharap bisa milikin hati dia lagi." Dio tetap sabar walaupun dia emosi melihat sahabatnya yang bego.
"so?" Ucup memasang tampang blo'on nya.
"sontoooool" ujar Dio depan muka Ucup dengan kesal. "au ah" kemudian Dio meninggalkan Ucup sendirian.
"halo Bi, dimana?" Dio menelepon Bianca.
"dimana mana hatiku senang. haha.." jawab bianca asal.
"jah, ditanya jawabnya konyol" ujar Dio, dia masih kesal sama Ucup.
"ah elah rempong lo. gue dimana kek bukan urusan lo." Bianca ikutan kesal.
"nah loh, kok jadi kesel?" Dio sadar kalau temannya itu marah. "hayoooh lagi dapet ya?" goda Dio.
Bianca yang lagi kesal karena Zora dari tadi mengganggu makannya sambil mengajak cepat pulang dari GOR merasa lega karena ada sasaran yang bisa dijadikan pelampiasan. "auah! ngapa si lo nelepon gue? lagi sibuk nih gue.."
"wetsweys, iya deh sorry" Dio jadi tak enak "yaudah deh lanjutin lagi ya, ntar gue telepon lagi kalo uda gak sibuk." tuut..tuuut... telepon langsung dimatikan oleh Bianca.
ya ampuuun, galak banget sih ini cewek , pikir Dio.
setelah mematikan telepon dari Dio, Bianca langsung menghadap Zora yang masih saja cemberut. "ya ampun sayang, kamu maunya apasih ya?" Bianca mencoba sabar.
"pulang..." Zora merengek.
"tapi aku belom habis makannya, katanya tadi mau jalan, udah aku ajak jalan masa mau pulang?"
"bodo" jawab Zora tak perduli. Bianca menghela nafas panjaaaaang, kemudian berjalan ke arah ibu2 pedagang sambil mengeluarkan uang untuk membayar.
"yuk pulang" ujar Bi.
Zora bangkit lalu masuk kedalam mobil. Bianca tampak kesal, dia diam saja di mobil.
Zora merasa tak nyaman sekali dengan kondisi ini.
"ih Bi kamu kok diem aja sih?"
"apa?" jawab Bianca singkat."
"kamu kenapa?" tanya Zora lagi.
"gak apa2" jawab Bi masih tetap singkat.
Zora ikut terdiam. akhirnya mereka diam2an. suasana hening karena mereka diam2an.
setelah sampai rumah, Bi memarkir mobilnya, Zora sudah terlebih dulu masuk.
Bianca berjalan ke kamarnya Zora. disana Zora terduduk di tempat tidur. Bianca menutup kamar lalu berjalan pelan kearah Zora.
"harusnya bukan aku yang ditanya kenapa sayang, tapi kamu.. kamu kenapa? aku tuh ngerasa kamu gelisah,, gak tenang.. apa ada yang ngeganggu kamu? cerita sama aku.. aku gak bisa tau kalau kamu cuma ambek2an kayak gini aja.." Bianca berkata dengan halus, sambil berdiri di depan Zora yang sedang terduduk. Bianca mengelus rambut Zora.
"aku gak apa apa kok.." jawab Zora singkat.
"kalau kamu belom mau cerita ya gak apa apa. aku tunggu sampai kamu siap buat cerita. aku disini bukan patung loh yang gak bisa ngerasain kegelisahan kamu.." zora berdiri menyeimbangi Bianca..
Bianca mengelus pipi Zora, kemudian menarik lembut mendekatkan wajah Zora pada wajahnya dan mengecup bibir Zora yang merah.
Pintu terbuka, muncul Bi Imah.yang kaget setengah mati melihat Bianca dan Zora berciuman.
"neng....." ujar Bi Imah terputus
»»  BERSAMBUNG... >>

Psychotique (21)





Matahari seperti biasa menunjukkan kecerahannya di pagi hari. Zora menggeliat malas di tempat tidurnya, mengucek matanya lalu mengambil handphone nya.
kok hp nya mati, tanyanya dalam hati. Kemudian dia baru ingat semalam Ucup menelponnya. Beberapa saat setelah handphonenya dinyalakan, masuklah sms sms yang tak lain dan tak bukan adalah dari Ucup. tiba-tiba handphonenya berdering, ahh dari bi
"halo bi?" jawab Zora.
"Kemana aja sih hp semaleman mati?! tumben-tumbenan." Bi merutuk.
Zora gugup, dia tak mau jujur tentang Ucup. Kondisi Bi juga sedang tak enak badan. "Iya, itu hp aku low ternyata sayang. ini aja sambil dicharger. pagi-pagi jangan marah dong."
"Yah lagian kamu bikin khawatir aja sih. biasanya juga kalo mau matiin hp bilang dulu" Bi sepertinya masih kesal.
"eeeeh, marah yaaaa.." Zora tak mau kalah, malah bicara dengan mengancam.
"Ya enggak, kesel ajaaaa.." Bi menyerah, kalau dia marah pasti Zora malah bakal ngambek. "Yaudah mau dijemput jam berapa kamu?" tanya Bianca lagi,
"aku males sekolah ah." sebenarnya Zora hanyalah takut kalau kalau Ucup datang kesekolah.
"Nah loh kok bisa begitu? terus mau kemana km?"
Zora berpikir keras, "yaaa.. kemana kek.." hanya itulah yang bisa keluar dari mulutnya hasil berpikir keras tadi.
"Udah deh masuk aja ya" Paksa Bianca.
"Ih gak mau !" Zora merajuk.
"yaudah yaudah, jam 8 aku jemput kamu ya sayang, sambil aku pikirin mau kemana."
Zora menghela nafas. "oke baby"
telepon ditutup.
ya ampun ya ampuuuuun, ini gimana coba jadinya?! bisa jadi perang kalau begini... musti gimana niiihhhh. Zora panik sendiri. dia teringat Dio, ya Dio pasti bisa membantunya.
Zora sibuk memainkan jempolnya mencari nomor telepon Dio. kemudian,
"halo, yooooooo!!!! heeeelllppp"
"eh buset, lo kenapa Zor? pagi pagi rusuh deh" Dio masih dengan suara serak-serak bangun tidur.
"lo baru bangun ya?!" tanya Zora.
"Iya, dan gue dibangunin orang lagi kesetanan. kenapa sih lo?" tanya Dio.
"lo tau gak sih yo? semalem tuh Ucup telepon gue. yaa ampun nightmare banget gue." Zora masih panik. Dio yang sudah tahu diam seribu bahasa.
"yo? kok lo diem? kaget kan? sama gue juga.. gimana ini?! Bianca tau bisa abis tuh Ucup." sambung Zora lagi.
"mungkin dia mau minta maaf kali Zor?" ucap Dio.
"Dia bilang mau balik lagi sama gue, Yo."
"Terus lo mau gak?" tanya Dio.
"Ya enggak lah, gue kan udah ada bi....." ups, Zora keceplosan. "gue kan udah bilang maksudnya."
"oh, beneran jadi lo gamau balikan sama Ucup.?" tanya Dio sekali lagi membuat Zora curiga.
"kok gue ngerasa lo belain Ucup ya Yo? disuap apa lo sama dia?"
"gue gak belain dia Zor, tapi gue cuma kenal dia siapa.." Zora makin gak ngerti.. "gue rasa lo musti ngomong sama dia deh Zor.."
"ah, ngomong sama lo tuh ga ada jalan keluarnya!'' Zora kesal lalu menutup teleponnya.
apa musti masalah ini dia yang selesaikan sendirian?
zora memutar otaknya keras.

***
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 10 Agustus 2011

psychotique (20)

seorang laki-laki tampak duduk di atas mobilnya, santai tapi tak menghilangkan raut mukanya yang kelihatan sedang menanggung beban yang banyak. Dia meminum minuman kalengnya dengan santai. menghembuskan asap rokoknya ke langit. Mungkin saat ini hanya itulah yang bisa dilakukannya.
"ngapain lo manggil gue? masih ada urusan ya?" tanya seorang lelaki yang datang menghampirinya.
dia bangkit lalu berdiri dihadapan lelaki yang menghampirinya tadi. "gue cuma mau kesempatan kedua. dan lo yang bisa ngebantu gue buat dapetin itu".
cuih, Dio meludah di depan Ucup pertanda mengejek. "lo pikir gue mau ngebantu lo? gausah mimpi brader.."
"lo tau kan gue sayang banget sama Zora?"
"heh, yang gue tau lo dulu emang suka sama Zora, tapi gue gatau ya sayang kok tapi lo malah made love sama orang laen.." Dio masih dengan gaya sengak nya.
Ucup gak habis akal, dia masih saja memohon pada mantan sahabatnya ini. "gue sayang sama Zora, gila aja kali lo. gue sama Rara itu cuma kecelakaan. beneran! gue mabok, dia malah manfaatin keadaan karena dari sebelumnya dia udah tau kalo gue lagi ngedeketin Zora."
"gue gak peduli." Dio hendak meninggalkan Ucup disana sendiri. Ucup lalu menahan tangan Dio sekuat tenaga.
"please yo, gue sama lo gak cuma setahun dua tahun sahabatan sama lo. lo tau gue, gue yakin lo kenal gue sampe ke dalem-dalem. Ini semua jujur. gue sayang Zora, tulus. gak main-main. gue cuma mau kesempatan kedua dari dia. berharap semua bakal kembali ke awal dan bakal gue jaga baik-baik." Ucup memelas. Dio sudah mulai mencair. dia memang tahu seluk beluk sahabatnya. Ucup tak akan seperti ini kalau memang dia tak benar-benar.
"jadi mau lo gimana?" Dio akhirnya menyerah. Ucup mengembangkan senyumnya.
"gue mau lo bantu gue, gue pengen Zora yakin lagi sama gue."
"si Rara gimana? udah beres?"
"hmm.. ya udah kok.. dia kayaknya uda punya gebetan yang lain. gue udah bener2 putus sama dia, dia juga udah gak pernah nuntut macem macem lagi dari gue."
Dio menghidupkan rokoknya sambil bersandar pada mobil, "oke. mulai dari mana?"

***

di tempat yang berbeda,
"halo, zor.. kamu udah makan?" suara bi dari seberang sana terdengar serak.
"udah, kamu kenapa bi? sakit ya?"
"ah enggak, cuma rada gak enak aja tenggorokannya." bianca mencoba menjawab sesantai mungkin.
"yaudah istirahat sana. jaga kesehatan." setelah berbasa basi sebelum menutup telepon, zora bangkit dari posisi awalnya ingin beranjak keluar kamar. tapi hpnya berbunyi lagi.
ya ampun, si bi masih aja telepon lagi, katanya dalam hati.
ternyata bukan Bianca yang menelepon, nomor tak dikenal.
"ha.. halo..?" angkat Zora raguragu.
"zor? belum tidur?" suara disana tampak tidak asing di telinga Zora.
"ini siapa ya?" tanya Zora.
"loh, nomor aku udah kamu hapus ya? ini aku Ucup."
ingin rasanya Zora menutup teleponnya tapi dia kaku membisu.
"zor.. Aku cuma pingin ngebuktiin aku sayang km. Bener2 sayang sama kamu. Please kasih kesempatan ya"
tut..tut..tuttt.. Telepon di putus.
Zora tetap kaku. Dia tahu ini yang benar dilakukannya. Dia terlalu takut untuk membuka masa lalu. Takut hatinya akan hancur kembali. Disamping itu dia sekarang punya malaikat yang siap menjaganya.
"sialaaan!!" rutuknya kesal.


»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 02 Agustus 2011

psychotique (19)

Zora bangun dr tidurnya. Badannya seakan remuk. Dia ingat semalam ternyata dia mabuk.
Kamar ini, kamar yang tak asing. Sudah sering dia menghabiskan wktu disini. Matanya yang masih belum terbuka sempurna mulai menyapu kesuluruh sudut kamar. Didapatinya bianca yang sedang duduk di balkon kamarnya. Duduk tenang, memetik gitar. Ditemani kopi hangat di pagi hari yg dingin.

Zora mulai mendudukkan dirinya,kepalanya sedikit pusing tapi dia masih bisa menahannya.
"bii..." panggilnya mnja.
Bianca bangkit lalu menghampiri bidadarinya.
"ini, ganti baju. Aku semalem gabisa gantiin km baju." sweater hitam besar dan hot pants telah disiapkan.
Zora berdiri dibantu bi,lalu ke ruang ganti baju.
Setelah selesai, dia mengambil hot cappucinno di meja yg telah disediakan untuknya.
Berjalan menghampiri bianca yg telah duduk di tempatnya semula.
"mama mana bi?" tanya zora.
"mama sekarang kan di puncak zor, sama papa. Lg liburan. Dia abis dr singapur. Coba buat nyembuhin penyakitnya. Kata dokter dia gaboleh terlalu stress. So, papa ngajak kesana." bi menyeruput kopinya.
Zora menyalakan rokoknya, "get well soon for your mama"
"i hope so" ujar bianca berdiri, lalu memberi zora kecupan mesra di kening.

Suara motor besar menggema. Bi dan zora melempar pandangan ke jalanan. Motor itu berhenti tepat di depan rumah bianca. Dengan cepat bianca menarik zora ke dalam agar tidak terlihat oleh sang manusia di depan sana.
"ucup, ngapain dia?" ujar bi masih tetap memegangi tubuh zora.
Zora menegang, lidahnya kelu. "kamu duduk disini ya zor. Aku aja ya yang ngadepin dia. Tenang ya km" zora masih terdiam menurut.
Bianca menutup pintu balkon kamarnya dan berjalan santai keluar.

***

"ngapain lo kesini?" ujar bi setelah membukakan pintu.
"lo tau zora dmn?" tanya ucup terburu2.
"gatau. Ngapain lg nyari zora?"
"gausah boong lo bi.. Gue tau lo pasti tau zora dimana." ujar ucup setengah memaksa.
Bianca mendekat pada ucup, lalu berbisik "gue.. Bilang... Gatau... BANGSAT!"
ucup terdiam sesaat.
"gue tau lo, zora, semuanya masih belom bisa maafin gue. Tapi gue itu mau nyelesein semua masalah yang udah gue buat"
"gausah. Udah kelar. Skrang lo pergi aja. Ga ada waktu buat lo. Dan inget satu lagi, kalo lo masih ganggu zora, gue pastiin lo bakal ngadepin gue." bia berkata begitu sambil ngeloyor masuk kedalam rumah.

***

Bi kembali ke kamarnya. Melihat zora masih terdiam disana.
"kamu gak apa2 kan zor?" tanya bi khawatir.
"ucup bilang apa?" zora bertanya dengan tatapan kosong.
"itu gak penting buat kamu." bianca berusaha menyembunyikan semuanya.
"itu penting bi.. Penting.." zora mulai panik.
"apasih kamu? Segitu penasarannya.. Masih ada perasaan sama dia?" bianca marah, zora terdiam. Lalu duduk kmbali.
Bianca beranjak pergi meninggalkan zora, "aku ke bawah dulu siapin sarapan."

zora duduk, kenangan kenangan masa lalu yang pahit kembali diingatnya. Air mata mulai berjatuhan. Hatinya kembali bergetar. Tak ingin berada di posisi itu lagi. Dia takut.. Tapi dia pun tak yakin yang dilakukannya sekarang ini apa akan membawa kebahagiaan pada dirinya atau malah sebaliknya.
Di lain tempat, bi sebenarnya menahan perasaan yang berkecamuk. Dia takut bidadarinya akan disakiti kembali dan dia takut akan kehilangan bidadari kecilnya itu. Dia akan mati2an menolak kenyataan kalo memang itu yang terjadi. Perasaan takut, bersalah, kesal dan lain2 pun jadi satu. Haruskah dia kembali berjuang mempertahankan apa yang sudah dimilikinya skrg? Atau dia harus merelakan hal yang saat ini paling berharga demi sebuah kenormalan sosial?
»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 28 Juni 2011

Psychotique (18)

"thanks ya guys uda nyempetin waktunya.. Sumpah you rocks" kata dio menutup latihan band mereka.
"santaiiii.." kata oka. "yaudah atuh, urang balik ka imah nya.. Hatur nuhun.." lanjutnya dengan gaya khas sundanya. Di ikuti yg Beni.
Akhirnya di rumah yg dijadikan studio latihan itu pun hanya tinggal Bianca dan Dio.
"lo ga balik Bi?"
"iya ini mau balik, lg nyari hp gue kemana ya.." ujar Bi yg sedang mencari2 hapenya itu.
"tumben rapi.." selidik Dio.
"ha?" Bi membalik badannya dengan tangan memegang hp.
"lo tumben pake celana pnjang. Biasanya make kolor doang" ujar Dio sambil nyengir.
"sialan lo." Bi menggeplak bahu Dio. "gue ada urusan abis ini, langsung cabs." Bi memakai sepatunya.
"mau kemana?"
"ada deeeh.. Udah ah, gue duluan ya.." Bi hendak beranjak, tapi tangannya ditahan.
"Bi..."
Bianca melepaskan tangannya risih "telat nih gue, bye.." ujar Bi sambil ngeloyor meninggalkan Dio yg masih penuh tanda tanya.


Mobil Bi melaju kencang. Bianca mengenakan kacamatanya karena langit senja yang kuning kemerahan cukup mencolok.
Dia tampak keren. Tak ada seorangpun yang menyangka kalo dia adalah seorang wanita. Hidung mancung, di tampang yg dingin, mengenakan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu sporty cukup menipu orang.


Akhirnya mobilnya berhenti di sebuah pelataran parkir lounge yg ckup terkenal di jakarta.
Bi berjalan santai masuk ke lounge itu. Sudah banyak orang karena memang hari sudah mulai gelap yg berarti sudah jam buka lounge tersebut.
Banyak lelaki berdasi yang mungkin langsung mampir dari kantornya untuk melepas penat disini.
Perempuan perempuan cantik pun banyak, sedang menikmati minumah mereka.
Bi berjalan kearah bar. Yap, dia lebih suka duduk melihat bartender beraksi sambil menikmati musik yg masih lembut mengayun.
"jhony walker single" ucap Bi.
Tipsy dari T-pain mengalun lembut, bi mengambil handphone nya lalu menelepon seseorang.
"halo Zor.. Bisa kesini?.. Ke Aphrodite bar.. Ha? Kok nggak bisa? Please.. Naik taksi aja.. Oke? Please Zor ya? Oke oke.. Yang cantik ya.." Bi lalu menutup teleponnya. Dia mulai celingukan mencari table untuk dia duduk dengan wanita specialnya.

Satu jam kemudian.
Wanita muda cantik nan eksotis menghampiri Bianca yang duduk termenung sendiri. Wanita itu tampak anggun dengan menggunakan dress ketat merah darah, dengan rambut ikal yang di gerai menambah sexy wanita itu.
"hei.. Maaf ya lama.." senyum merekah dari wanita itu..
Bianca bangun, lalu menarikkan tempat duduk untuk wanita pujaannya itu.
"udah biasa.." Bi terkekeh, lalu memesan makanan kecil dan wine untuk dinikmati bersama.
"tumben kesini? Bisa minum juga? Apa pesen orange juice lagi? Hehe" ledek Zora..
"kalo sedikit mah bisa.. Kalo ngerokok enggak deh.. Pas dulu." ujar Bi.
Zora menyulut rokoknya "so, whats going on? Tumben banget ngajak kesini."
"nothing.. Cuma pengen aja nikmatin romantis sama kamu." Bianca tersenyum. Sebenarnya Zora masih agak risih dengan perlakuan Bianca. Yah tapi ada rasa senang juga, wanita yang selama ini membuatnya nyaman ternyata juga merasakan hal yang sama.
"oke.. Its a nice place.. Biasa kesini ya?" tanya Zora lagi mencoba memecah kekakuannya.
"hmm.. Lumayanlah.." waiter mengantarkan pesanan mereka.
"Zor, i have something for you.. Yah aku harap kamu ga nolak.." ujar Bi sambil menatap zora dengan lembut di iringi lagu got your back -nya T.I featuring kerry hilson.
"apa tuh?" Zora bertanya acuh tak acuh. Bianca mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.
Ternyata sebuah kalung berliontin batu delima merah yang cantik sekali. Bianca bangun lalu memakaikan pada zora. Zora yang masih terkejut, hanya berusaha membantu mengangkat rambut indahnya untuk mempermudah Bi.
"would you be my girlfriend?" bisik Bi ke belakang telinga Zora sambil memakaikan kalungnya.
Zora sontak beku. Darahnya berdesir kencang. Jantungnya mau lompat.
Bi merapihkan rambut Zora dengan lembut lalu kembali ke tempat duduknya sementara Zora masih terdiam.
"a.. Aku.. Aku ga tau harus bilang apa Bi. Tapi makasih banget kalungnya cantik" ujar zora gugup.
"same like you, my princess" Bi tersenyum.
"tapi apa kita bisa pacaran? Kan kita..." Zora tak bisa melanjutkan kata2nya..
"aku ga maksa kamu zor.. Tapi aku cuma minta tolong jangan pernah kamu boongin perasaan kamu.." Bi berusaha meyakinkan Zora. kata2 bi barusan membuat zora merenung..
Sekitar semenit mereka terdiam.
"i do.." kata zora pelan..
Bi tersenyum senang. "makasih zor.. Makasih banget kamu ngasih aku kesempatan.." bianca memegang tangan zora dengan erat, dan dibalas senyuman hangat oleh zora..
So beautiful night with beautiful lady and beautiful moment..
»»  BERSAMBUNG... >>

Sabtu, 25 Juni 2011

Psychotique (16)

Tiga hari sudah berlalu dari "insiden pengucapan sayang" oleh bianca kepada zora. Itu membuat mereka sedikit canggung.
Oke, bukan sedikit tapi memang benar2 kaku.
Zora dan bianca tidak ada yg berani menghubungi sahabatnya duluan karena masih takut dan belum bisa beranggapan kalau ini semua baik2 saja.
Bi menyadari rasa sayangnya kepada zora sudah terlalu berlebihan, tidak bisa dibendung lagi. Tapi, mengungkapkannya juga bukan jalan keluar malah menambah masalah baru.
Zora berpikir, dia memang sayang bianca tp selama ini masih mencoba untuk wajar2 saja agar tidak terjadi cinta terlarang, ya benar2 terlarang masa jeruk makan jeruk, diantara mereka.
Disekolah pun mereka hanya saling sapa seperlunya saja , pulang dan berangkat masing2.

Suara kucing mengeong sayup2 terdengat dari handphone milik zora yg tergeletak di meja riasnya. Zora berjalan gontai, dengan masih menggunakan seragam SMA kebangsaannya.
Ternyata sms dari bianca, dia bilang mau kerumah zora sekarang. Zora hanya membalas singkat sms dr sahabat jadi cintanya itu.


Satu jam kemudian, handphone zora berdering lagi.
"ya bi?" jawab zora malas2an.
"udah didepan rumah nih" terdengar suara dr seberang sana.
"ya ampun masuk aja sih, kayak yg org baru. Langsung ke kamar gue aja. Jangan lupa pesen minum ama bibi. Oke? Bye." tuut... Tuut.. Zora mematikan teleponnya.
Manja amat nih anak biasanya juga langsung masuk, pikir zora.
Bianca muncul depan pintu zora, sedikit canggung.
"hai zor.." sapanya.
"masuk nyong.." ujar zora berusaha se-cool mungkin. Padahal jantungnya sudah mau copot dr tempatnya.
Bianca melangkah, sangat berat. Terbayang kata2 bodoh yg dia luncurkan diruangan ini 3hari yg lalu membuat perasaannya makin amburadul.
"tumben kemari?" ujar zora memecah kebisuan.
"iya kangen sama lo nyet" bi nyengir garing.
"yaelah, kaku gitu santai aja sih."
"hmm.. Gue mau minta maaf zor.." bi tampak menunduk.
"minta maaf kenapa?" raut wajah zora mulai serius.
"ya kemarin, gue udah ngelakuin something stupid" bi masih menundukkan kepalanya.
"gapapa kok bi" senyum zora mengembang.
"tapi zor.. Semua yg gue bilang itu bener." bi mulai memberanikan diri menatap zora. "gue sayang lo.." tatapannya semakin dalam. "sayang bukan sebagai sahabat.." lanjutnya lagi membuat zora panas dingin.
"bi.." zora memotong. "lo tau kalau ini salah?"
"iya gue tau!" bi tampak kesal. "tapi apa lo tau gimana nyeseknya gue mendem perasaan zor?" nada bi mulai meninggi. "gue gabisa liat lo disakitin sama orang! Gue gabisa liat lo sedih! Gue mau lo tuh bahagia! Lo tau ga?"
zora menahan air matanya. Dia bingung benar2 bingung. Disatu sisi dia merasakan hal yang sama seperti bi, tp dia tahu ini salah.
"lo tuh goblok...." hanya kata itu yang keluar dr zora.
"kok lo malah ngatain gue goblok?" bi heran.
"udah tau salah masih aja.." lanjut zora. "lo tau apa akibatnya?"
"gue ga peduli zor, gue sayang lo.. Gue sayang monyet gue.. Gue sayang princess lion gue!!!" ujar bi menangis sambil mengguncang2 tubuh zora yg membeku.
Zora tidak tahan lagi melihat sahabatnya menangis, zora tidak tahan lagi menahan perasaannya selama ini. Dengan tiba2 dia memeluk dengan erat bianca. Sambil menangis sekencang2nya.
"gue juga sayang sama lo monyoooooong" suara manja zora keluar membuat bi pun membalas pelukannya.
"maaf zor lo harus jd gini.." ucap bi sambil mengelus rambut zora.


***


entah bagaimana nasib kedua sahabat sejenis ini mengarungi cintanya yg terlarang.. Mereka hanya bisa melepaskan semua yg ada dihati mereka selama ini.. Perasaan tak wajar.. Perasaan yg baru disadari makin menggerogoti seperti penyakit kronis..
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 24 Juni 2011

Psychotique (15)

Hari ini hari minggu. Cuaca diluar sana mendung, menambah enaknya bermalasan di balik selimut.
Pintu dibuka, seorang ibu yg walaupun sudah agak setengah tua tapi tetap cantik menggunakan make up tipis di wajahnya. Dia berjalan mendekati putri yg sedang tidur tenang di singgasananya. Sedikit menunduk dan mencium putri kecil kesayangannya.
"eh.. Mamski? Mau kemana?" tanya zora yg kaget dengan ciuman yg didaratkan di keningnya.
Mamanya pun duduk di pinggir tempat duduk anaknya. "mamski ada urusan di lombok.. Mau mengurusi launching hotel bos disana. Acaranya hari senin, jadi mams harus berangkat sekarang".
Zora duduk sambil mengucek matanya. Sebenernya sudah biasa dia ditinggal2 oleh mamski kesayangannya ini.
"hmm.. Pulangnya kapan mams?" tanya zora.
"hari rabu malam dr sana sepertinya, jadi kamis pagi sudah ada di bekasi." mamskinya membantu menaruh bantal2 ke tempatnya.
"oleh2 ya mams" kata zora sambil nyengir ke arah maminya.
"iya sayang, mau apa?" tanya maminya sambil mengelus2 rambut anaknya.
"apa aja, baju tas, papski baru juga boleh" jawab zora asal2an.
"jeh.. Ini anak ngaconya tetep aja ga ilang2." maminya pun bangkit lalu memeluk zora "berangkat dulu ya zor, jangan nakal kamu! Kasian bi imah. Kalo bianca mau nginap ajak saja. Kamu jangan menginap dirumah bianca.. Nanti ngerepotin. Mamanya kan sedang sakit2an ya.." zora hanya membentuk huruf o dengan tangannya pertanda setuju.
Setelah itu maminya pun berlalu dan pergi meninggalkan zora.

Zora mengambil hp nya dan mengetik sms dengan cepar.

***


bi mengetuk kamar zora. Tapi tak ada jawaban.
Langsung saja bi membuka pintu. Ternyata benar zora tidur lagi.
Bi mengambil ancang2 lalu lari secepatnya daaaan.... Bruk! Melompat ke tempat tidur zora lalu menabrak zora.
"huaaaaa.... Bego!" zora terpekik kaget.
"huahaha.. Lagian tidur mulu. Kebo lo nyet." bi cekikikan melihat sahabatnya yg amburadul baru bangun tidur.
"yaelah, hari minggu coy!" zora malas2an kembali.
"nih, tadi gue beli roti. Makan gih buat ganjel"
"iya ntar ah," zora lalu berusaha berdiri dan bangkit dr tempat tidurnya. Tapi kelihatannya dia masih pusing. Zora sempoyongan dan jatuh hampir menindih bi. Bi dengan sigap menangkap zora agar tak jatuh. Sekejap mereka berpandangan karena wajah mereka menjadi sangat dekat. Ada perasaan yang lain. Entah grogi atau kaget. Lima detik kemudian zora sadar lalu buru2 membenarkan posisinya.
"eh sorry" ujar zora.
"i..i..iya.." bi pun nampak kikuk.
Buru2 zora ngeloyor ke kamar mandi.

Dikamar mandi, zora menampar pipinya berulang kali.
"aduuuh apaan sih gue.. Kenapa jd deg2an gitu" rutuknya.
"ya ampun, ga boleh ga boleh.." lalu dia mencuci mukanya dan menggosok gigi. Setelah itu zora kembali menuju kamarnya. Bi sedang berdiri menghadap ke jendela. Pemandangan dr kamar zora memang bagus, dr situ bisa terlihat taman dan kolam renang yg ada di halaman belakang rumah zora.
"ngapain nyong?" tanya zora. Tapi bi diam saja.
Zora menghampiri bi.. Lalu menoleh ke muka bi dengan tampang lugu. "ada apaan sih?" tanya zora lg.
Bi hnya tersenyum. "ga ada apa2 monyet".
"zor, kita kan temenan udah lama. Menurut lo gue gimana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dr mulut bi.. Zora yg sedang mengambil roti yg tadi dibawa oleh bi jd merasa kaget. Zora seperti kaku. Sebenarnya ini pertanyaan biasa. Tp kenapa zora jadi kaku begini.. Badannya susah digerakkan, mulutnya membisu.
"zor.. Gue sayang lo.." ucap bi tanpa menoleh ke zora membuat zora makin membeku...
»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 10 Mei 2011

psychotique (14)

Bi dan zora menghentikan motornya di parkiran motor salah satu gedung tinggi dijakarta.
Bi menuntun zora yg kelihatannya masih celingukan.
"eh dodol, ngapain juga ke tempat bokap lo kerja??"
"yaelah emang gaboleh? Gue kan anaknya" jawab bi asal2an.
"yaelah minta duit aja ribet banget, biasanya juga tinggal telepon" ujar zora.
"jeh, siapa juga yang mao minta duit. " mereka berjalan memasuki kantor, bi kerepotan menyeret zora yg mengerem badannya ingin kabur saja dari sana. Semua pegawai yang lewat dan melihat mereka tersenyum hormat pada bi, sebelum mereka komat kamit membicarakan 2 anak muda yg kelihatannya salah tempat. Disana ayah bi berkedudukan sebagai dirut. Zora akhirnya menyerah diseret2.. Dia mengekor bi dan cengengesan membalas senyum para pegawai yg mereka lewati..
Bi berjalan bukan keruangan papanya, tapi mereka menuju lift.
Setelah di lift, bi menuju lantai tertinggi di gedung itu.
"heh nyet.. Mau kemana sih?" hardik zora.
"mau ke atas, trus terjun, " bi dengan cuek menjawab pertanyaan zora.
"eh ogah ye, lo aje ama nenek lo.." zora ingin menekan tombol lift itu agar bisa ngacir dari sahabatnya yg sudah mulai menipis kewarasannya..
Tapi dengan sigap bi menahan tangan zora. "eits.. Ya enggak lah dodol.. Masa iya gue mau bunuh diri.. Kawin aja belon.. Pokoknya diatas kita liat2 pemandangan aja sambil minum2 ma ngemil"
ting.. Lift berbunyi kemudian pintunya terbuka..
Harus menaiki satu tangga lagi agar bisa keluar ke atas gedung..
"uwoooow... Cakep banget ya.." zora melonjak kegirangan lalu naik ke atas pagar pembatas dan duduk disan.
"heh ati2 lu jatoh dodol" bi ngeri.
"sini bi.."
bi menyerahkan minuman yg sudah dibeli tadi kepada zora.. "pegangin dulu, gue mau naek"
setelah mereka duduk, bi mebukakan minuman ringan untuk dirinya dan zora. Zora menyulut rokok dengan korek lumba2nya.
Menghisap dalam2 rokoknya kemudian menyemburkan asap sisanya.. Terlihat zora berusaha melepaskan beban yg ada lewat asap rokoknya.
Angin semilir menambah sejuknya udara yg sedang mendung..
Jakarta menjadi sangat kecil dilihat dari sini.
"lo udah gede.. Hadapin semuanya lah dengan dewasa" kata bi tiba2 tanpa melihat wajah zora.. "gue tau masalah lo itu berat.. Tapi yah ga harus juga down terus2an dan ngebuat lo jadi lemah.." lanjut bi.
Zora tetap asyik dengan rokoknya "iya.. Gue juga udah mikir kearah sana kok.. Ga ada gunanya juga gue cuma nangis nangis dan nangis.. Gue lagi usaha buat jadi gue yang dulu.. Pelan2 tapi lo bakalan rasain perubahan gue jd lebih baik." zora berkata begitu tanpa menatap bi juga.
"hhh... Ya baguslah" bi lega, dan tersenyum kearah zora. Dia mengambil snack, dan menyuapi zora dengan paksa.. Mereka bercanda, tertawa.. Sampai akhirnya hujan deras turun..
"wah wah ujan.. Kabuuuurrr,,," zora lompat duluan, lalu mengambil sisa sampah snack mereka , disusul oleh bi..
Mereka berlari kedalam gedung..
Walaupun hujan, tapi mereka tetap senang.
Kegilaan mereka tak sampai sini saja.. Walaupun hujan mereka tetap menerobos pulang naek motornya zora... Dijalan nyanyi2 india sambil hujan2an.. Tertawa.. Melupakan kejadian yang sudah lalu..

***
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 14 April 2011

psychotique (13)

Bi iba melihat sahabatnya yang tidak seceria dulu, yang tidak memaki atau menjahilinya lagi..
"aduuuh zor, udah sih ah.. Masa lo mau jadi kaya gini terus? Gue cape liat lo gini.. Kalo lo nya trus2an gini bisa2 gue yg mati deh.." bi merebahkan tubuhnya.
Zora berbalik kemudian tersenyum "gue juga gamau kaya gini bi. Gue sebenernya kesel tapi gatau mau marah sama siapa. Gue sebenernya sakit hati tp gatau mau ngpain. Jadi yang gue bisa cuma diem aja"
"yah masa lo mau terus2 gini? Gak kan? Hellloooo my sistah.. Dunia itu masih luas.. Umur lo juga masih muda.. Jangan karena cinta pertama lo jadi kaya gini.. Emang lo ga sayang apa ma gue?" bi manyun..
Zora mengelus rambut bi "kalo uda waktunya pasti gue bakal balik kaya dulu kok.. Belom saatnya aja kali.. Masih butuh waktu"


***


tin.. Tin.. Suara klakson motor gede menggema di depan sebuah rumah besar dibilangan pinggiran jakarta. Dari dalam keluarlah gadis cantik.
"dio? Ngapain lo?" tanya rara.
"sini lo, gue mau ngomong" ujar dio tanpa basibasi.
"alah paling masalah ucup sama zora lg? Iya kan? Lo mau nyalahin gue? Gue itu gasalah!" ujar rara nyolot.
"ya diem dulu, gue disini cuma mau nanya doang kok.."
"nanya apa?" rara melipat tangannya didepan dada.
"maksud lo apa sih? Lo sayang banget sama ucup ampe bisa ngelakuin hal yg menurut gue gak banget??"
"gak banget? Gausah muna deh lo yo! Gue emang sayang banget sama ucup. Tapi kalo dia mau ninggalin gue cuma buat cewe lesbi sialan itu gue ga akan rela!"
"heh jaga ya mulut lo" dio mulai panas.
"apa lo? Mau kasar sama gue? Silahkan! Tapi yg jelas gue udah seneng banget ngeliat zora menderita pas tau ucup cuma cowok tolol!" rara melengos, mengunci pagar dan masuk meninggalkan dio yang sudah putus asa dengan kisah cinta segitiga sahabatnya ini.


***


keesokan harinya disekolah.
"cieeeh yang uda mulai sekolah" ledek bi kepada zora.
"haha.. Apaan sih lo ah. Ntar minjem catetan ya.." zora sudah mulai bisa mengembangkan senyumnya.
Tiba2 rara masuk kelas mereka. Zora langsung terdiam, bi pun ikut terdiam.
Ternyata rara hanya menghampiri temannya yang kebetulan satu kelas dengan mereka.
"udah ya gausah dipikirin" bi memecah kebisuan.
Zora lagi2 hanya tersenyum tapi masih tersirat kesedihan di matanya.
"pulang sekolang ngebrutal nyok ah.." ajak bi
"ayo, kemana?" ujar zora.
"kemana aja lah.. Asal jangan kepantai.."
"oke oke hahaha"
mereka mengikuti pelajaran hingga bel pulang sekolah berbunyi.

***

murid2 berhamburan keluar kelas..
"ganti baju dulu ya.."kata zora
"pake mobil pa motor?" tanya bi.
"motor aja yuk? Udah lama ga menggila naek motor" ujar zora bersemangat.
"siiip.. Jemput gue ya" ujar bi sambil berdadah ria menuju mobilnya.
Zora mengacungkan jempolnya lalu menghampiri motornya untuk bersiap pulang.
»»  BERSAMBUNG... >>

Minggu, 27 Maret 2011

psychotique (12)

Dugg!! Tangan bi menghantam tembok depan rumahnya. Dio kaget "apa apaan sih lo?" tanyanya sedikit berteriak.
Bi diam, tertunduk. Mukanya menahan amarah yang mau meledak.
"nanti biar gue yang urus" kata dio sambil bersiap ingin pergi.
"gue ikut" bi masih menunduk, suarnya bergetar.
"ga usah." lalu dio beranjak pergi.
Bi menahannya, "gue mau ikut.. Zora tuh sahabat gue.. Dia disakitin gitu trus gue nya diem aja???" bi sekuat tenaga menahan air kelemahan jatuh di pipinya.
Dio mengelus rambut bi, "lo tenang dulu.. Gue cuma mau ngeberesin yang masalah laki2nya aja.. Nanti bagian lo ada kalo lo masih ga terima.." sesudah berkata begitu dio menunggangi motornya dan melesat pergi.
Bi berjalan gontai, masuk kerumahnya. Menuju ruang keluarga dan mengambil kotak p3k.. Mengoleskan ramuan dari cina ke tangannya tadi agar tangannya tidak bengkak.
Dari atas munculah wanita cantik dengan sembab dimatanya "bii.." katanya setengah berteriak memanggil sahabatnya.
"ya?" bi menoleh keatas.
"gue mau pulang bi" sisa isaknya masih ada.
Bi berjalan menghampiri gadis itu.
"jangan, lo disini aja ya sama gue." bi tersenyum mngelus rambut sahabatnya itu. "nanti gue teleponin rumah lo.. Oke?" lanjutnya.
Zora tidak menjawab. Malah air matanya tumpah lagi. "kenapa sih bi? Kenapa? Baru sebulan gue rasain udah mau direnggut lagi.."
bi kikuk menghadapi sahabatnya, dia hanya bisa memeluk zora.
"ga ngebayangin gue bi.. Dia have sex sama rara.. Dibelakang gue bi.. Khianatin gue bi.. Kok tega ya" air mata terus bercucuran.
"dia emang berengsek zor.. Biarin aja.. Udah ya lo jangan pikirin lagi.. Nanti lo sakit.." bi berusaha menenangkan zora..
Lalu bi menuntun zora agar masuk kekamar lagi. Zora tidur dipangkuan bi yang setia mengelus kepalanya.

***

ditempat berbeda.
Dua orang pria duduk diatas motornya masing2 ditepi pantai sepi..
"gue gamau ngambil kesimpulan sendiri" kata dio sambil menyulut rokoknya.
"harus dari mana?" ucup tertunduk.
"gue cuma pengen ngasih pertanyaan yang musti lo jawab" dio perlahan berjalan menghampiri ucup dan duduk disebelahnya. "pertama.. Lo uda ptus belom sama rara sebenernya?"
ucup menjawab "udah.. Tapi dianya tetep gamau.." dio mengangkat tangannya pertanda jawabannya cukup.
"kedua.. Ko bisa uda putus tapi lo have sex sama rara?" dio melanjutkan.
"biasa.. Malem itu abis pulang latian kan gue mabok trus pulang kerumah ada dia.. Gatau kesambet setan apa ya gitu..." suaranya tertahan.
"yang terakhir.. Trus gimana sama rara sama zora?"
ucup mengusap mukanya lalu "gue gatau.." belum selesai ucup menjawab ,tiba2 bogem mentah mendarat di pipinya..
"anjing lo ya.. Lo bilang gatau?" dio berkata begitu sambil terus memukul ucup. "lo pikir mereka tuh apaan? Robot2an? Perasaan itu lo pikir apaan? Maenan?" dio tetep memukul membai buta, ucup tersungkur di pasir.. Tidak berdaya..
Dio bangkit, lalu menginjak dada ucup..
"gue bingung mau bela siapa.. Tapi lo itu emang salah.. Zora hampir gila, lo tau ga?! Hah!!"
"uhuk.. Uhuuk.." ucup batuk lalu mengelap bibirnya yang pecah. "gue tau gue salah.."
"bagus!" dio memotong lagi.. "sekarang lo pikirin.. 3hari lagi gamau tau gue, harus uda beres.. Gue gamau liat zora kaya gitu.. Jangan coba2 kabur, abis lo ama gue.." dio membesihkan tangannya lalu meninggalkan ucup yang masih terkapar di pasir pantai yang sepi.. Merenungi tentang kesalahan fatal yang dia buat sekaligus memutar otak untuk menyelesaikan ini semua.. Badannya sakit, tapi hatinya remuk.. Dia kehilangan pacar dan sahabat karena tindakan bodoh yang nikmatnya hanya beberapa jam saja.. Tapi dia juga tidak bisa lari dari tanggung jawab.. Bagaimanapun dia itu lelaki..
"aaaaaarrrrrrgggghhhh...." teriaknya mengiba.. Membuat sakit paru2, mulut dan hatinya..
»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 15 Maret 2011

psychotique (11)

"tiup dong lilinnya" bi berkata begitu sambil memegang handy cam nya.
Backgroundnya sangatlah cantik dengan pemandangan sunset khas pantai jakarta dan angin yang mulai menggoyangkan pohon disekitarnya.
Lilin angka 1 ditiup,
"selamet ya sahabatkuuu" bi mencium zora.
"ahaha, baru juga sebulan masa uda tiup lilin. Ntar dikira uda setaun lagi." ujar ucup seusai meniup lilin.
"biarin sih men, kan kata orang2 mah biar langgeng." dio duduk santai. "sayang, aku kok gak dicium?" katanya kepada bi sambil menunjuk pipinya sendiri.
Bi menjulurkan lidahnya.
"cie, uda sayang2an nih jadinya??" ejek zora.
"ah elah, gosip dah." bi monyong, mereka semua tertawa.
Selagi mereka berempat sedang bercanda2 merayakan first month jadiannya zora dan ucup, tiba2 datanglah seorang cewe berambut panjang.
"jadi kamu disini cup?" hardiknya.
"loh? Zora? Bianca?" cewe itu ternyata rara, dan kaget melihat zora dan bi ada disitu.
Ucup hanya terdiam kaku.
"oh, jadi elo yang ngerebut cowo gue?!" rara menjenggut rambut zora. Tapi zora menghindar lalu menampar rara.
"lo yang sopan ngomongnya! Sapa yang ngerebut!! Ucup cowo gue!"
rara memegangi pipinya lalu berjalan kearah ucup, dan menarik ucup untuk pergi.
"lo musti ngejelasin ini semua!" katanya.
Dio menahan tngan ucup sedangkan bianca menepak tangan rara yang menarik ucup.
"heh, apa2an sih maen bawa kabur cowo orang" ujar bi.
"cowo orang??!! Dia cowo gue!" teriak rara mengagetkan zora.
"heh, lo ama ucup uda putus" kata dio meluruskan semuanya gak mau bi dan zora salah paham.
"enak aja putus! Setelah dia merawanin gue terus dia tinggalin gue buat pacaran ama si lesbian ini?!" rara kalap dan menunjuk2 zora. Mereka semua kaget.
"gak akan gue lepasin ucup! Dia musti tanggung jawab!"
Dengan tiba2 dio langsung menonjok ucup berulang kali.
Ucup tidak melawan, hanya berteriak kesakitan. Terus terus dan bertubi2. Menonjok, memukul, menendang.
Semuanya yang ada disitu mulai berteriak panik karena dio membabi buta memukuli dio.
Bi dengan tenaga super gedenya menarik dio.
"anjing lo ya! Gak bilang2 sama gue! Berengsek juga lo ya! Kalo tau lo kaya gini gabakal gue sudi temenan sama lo" dio kesal dan memaki dengan mata yang agak berkaca2. Bi berusaha menenangkan dio.
Keadaan sangat kacau. Zora mulai menangis, dia merasakan sakit dihatinya. Dunia seakan2 runtuh dan menibannya. Tak percaya, kenapa musti rara? Kenapa gak cewe lain aja? Dan kenapa musti bohong? Kenapa juga musti menyianyiakan cewe setelah mendapatkan segalanya. Semua pertanyaan itu muncul tiba2 di pikiran zora dan membuat air matanya turun dengan deras.
"stop yo! Ucup ikut gue" teriak rara sambil menangis.
Lalu rara memapah ucup dan membawanya pergi.
"pergi lo sono loser! Anjing! Bangsat!" dio seakan mau menendang ucup lagi tapi ditahan bi.
Setelah ucup dan rara pergi, bi dan dio sadar masih ada temen mereka yang shock.
"zor, lo gak apa2 kan?" tanya bi memegang pipi zora yang sudah basah karena air mata, zora menangis tanpa isak dan suara.
"zor?" dio menyadarkan.
"gue mau pulang" zora berkata begitu dengan tatapan kosong.
Bi memapahnya, dio mengambil mobil. Dan pergi dari tempat itu.
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 11 Maret 2011

kepala mau pecah

hari ini ,sebenernya tuh hari yang berat banget buat gue.
Otak gue itu uda cape.
Gue pengen nangis juga gatau ama sapa.
*oke, kali ini gue bener2 GALAU*

pagi2, gue dapet kabar dari temen gue kalo kelas uda dibagiin buat semester 4.
Gue liat, ternyata gue dapet kelas B.
Nilai gue yang salah input juga belom berubah.
Itu nilai E demen banget nongkrong di mata kuliah APSI.
Stressss... Gue tanya temen2 deket gue ,mereka pada kelas A.
Oke.. Gue tambah stresss!!!
Gue itu orangnya sangat susah bersosialisasi sama orang lain.
Gue takut di kelas B nanti gue gak cocok.
Apalagi kalo ada tugas2 berkelompok gitu.
Aaaarrrggghh.. Puyeng mikirin nya :(((

trus pas siang2, gue liat di TV jepang gempa 8,9sr . Dan tsunami dahsyat.
Lagi enak2 nonton berita *berharap mengalihkan pikiran dari nilai sengke dan kelas* trus ada text berjalan gitu. Gue baca..
Katanya indonesia sangat berpotensi terjadi tsunami di wilayah papua, mauku utara sama sulawesi utara.
Hhh... Perasaan lega dihati gue karena jakarta dan sekitarnya ga dikhawatirin juga.
Trus kata penyiarnya, penduduk manado harap mengungsi ketempat yg lebih tinggi.
Gue ngeh, trus gue tilik lagi tadi berita yg gue baca.. Katanya papua, malut sama sulut.. Gue tanya sepupu gue yang masih kelas 2, ibu kota sulut apaan? Dia jawab, manado. *ips gue jeblok, sumpah pas dari SD*

gue langsung panik tuh. Gue inget pacar gue disana. Gue teleponin ga diangkat2. Disms ga dibales apasih maumu *nyanyi* *alah* *tolol*
akhirnya dia nelepon gue balik. Dia bilang mau pulang kantor trus ngungsi karena rumahnya deket banget sama pantai.
Aduuhh.. Stress lagi gue.. Panik. Dia panik, gue panik.. Pala gue langsung sakit.
Tapi gue gamau keliatan panik depan dia..
Untungnya dia sekarang gapapa. Tsunaminya juga ga ada.

Tapi alhasil hari ini jadi hari yang sangat mengesalkan. Kepala gue sakit #cenatcenut dibuatnya. Hufhuf...
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 10 Maret 2011

psychotique (10)

"kamu mau jadi cewe aku zor? Nemenin hari2 aku?" ujar pria botak nan manis itu.
"hah?" zora terbelalak. Apa2an nih si ucup pake nembak gue segala? Pikirnya.
"jawab zor.." ucup menggenggam tangan zora.
"a.. Hm.. Gimana ya.." zora kebingungan.
"please bilang iya."
"aduuhh.. Bener gue gatau." zora mulai memerah.
"aku suka sama kamu zor.. Dari pertama kita chatingan trus ketemu.."
"yaa.. Gimana ya.."
"aku pengen kamu ngasih aku kesempatan."
"hmm.. I.. Iy.. Iya deh" akhirnya zora mengangguk. Ucup bersorak kegirangan.
"makasih ya.. Seneng banget aku.. Sumpah!" matanya berbinar2.

***

pagi2 hpnya bi sudah gedombrengan aja. Mengganggu tidurnya.
"haloo.." jawabnya setengah sadar.
"jangan kemanamana ya,gue kesana nyong." ujar perempuan disebelah sana.
"ini siapa?.." tut..tut..tut.. Teleponnya sudah dimatikan.
"yee.. Siapa sih gak jelas banget" rutuk bi lalu meneruskan tidurnya.

Jam 9, bi masih tidur dengan nyenyak. Badannya seakan ancur. Kemarin dia naik motor kepuncak lalu menemani mamahnya sampai malem dirumah sakit. Benar2 hari ini dia akan tidur sepanjang hari.
"bi.. Banguuunn" suara manja membangunkan bi.
"hah?" bi menoleh, ternyata zora.
"banguuunn!!!" teriak zora kaya nenek2 dikuping bianca.
"iya iya monyet ini bangun" bi duduk ditempat tidurnya tetapi masih tetap memejamkan matanya.
"nah gitu dong" zora tersenyum puas.
"ada pa sih pagi2 ganggu aja" tanya bi yang langsung berjalan menuju kamar mandi didalam kamarnya.
"hihi.. Tau gak nyong?" zora cekikikan sendiri.
Bi membasuh mukanya "gak tau" lalu gosok gigi.
"gue sekarang pacaran sama ucup." zora menutup mukanya dengan bantal "ih bau iler" lalu melemparnya lagi.
"ha? Ang ener woh?" suara bi terdengar tidak jelas karena sambil menggosok giginya.
"bener" tegas zora.
"wah parah lo.. Masa gue tau ujungnya doang?" bi keluar dari kamar mandi dan duduk disebelah zora.
"gue ja kaget."
"yah.. Ntar gue ditinggal deh" ujar bi sedih.
"enggak ko sayang, kamu selalu dihati.. Aw aw aw" zora memeluk bi gemas. Dan mereka tertawa.
"eit tunggu dulu, lo kenapa ga sekolah?" bi baru sadar.
"hmm.. Males" zora melepaskan pelukannya.
Bi hanya mengelus pelan rambut zora.

***

ditempat yang berbeda.
"wah selamet mamen" dio menyalami ucup.
"haha.." tawa ucup.
"sialan, kemaren gue ditolak.. Mana uda belagak gila. Tetep aja ditolak sama bi." dio duduk diatas meja.
"hmm.. Emang sih bi rada susah" ujar ucup.
"yaah.. Yang begini ini yang gue demen sob" dio menjentikkan jarinya. "lah terus si rara pacar lo gimana?"
"pacar gue? Mantan kali" ucup tertawa.
"sadiiisss.. Lo putusin? Emang mau?" tanya dio.
"iya.. Dia gak mau. Tapi bodo amat ah. Gue kan pengennya sama zora."
"tapi kalo gak salah rara sama zora kan satu sekolahan? Ntar kalo rara ngamuk2 ke zora gimana? Lo taulah rara gimana orangnya." dio garuk2 kepala.
"urusan nanti sob." ucup menaikkan sebelah alisnya.
»»  BERSAMBUNG... >>

psychotique (9)

Pagi hari yang mendung. Bianca menggeliat dibalik selimutnya. Mencoba untuk membuka mata lalu sekejap kemudian dia ingin bangun beranjak mandi.
"oh iya kan di skors" bi menepuk jidatnya lalu merebahkan dirinya kembali. Tapi dari luar papanya mengetok pintu.
"bii.. Bangun sayang. Sekolah." bi berjalan gontai mmbuka pintu kamarnya.
"pagi paaah.." bi nyengir. "libur pah. Seminggu. Persiapan Try out katanya" bi mengarang bebas.
"ooh.. Yasudah mandi trus sarapan sama mama juga dibawah." kata papanya sambil ngeloyor pergi.
Bi memandangi keluar dari jendela rumahnya. Tampak langit mulai cemberut. Ingin menjatuhkan berjutajuta bahkan bermilyarmilyar tetes air.
Bi tidak menyesalkan perbuatannya, tapi dia terus kepikiran dengan sahabatnya yang disekolah sendirian. Tanpa dirinya. Dan dia juga kesepian tidak ada zora di sisinya.
Deru motor terdengar, memecah lamunannya. Kaget sesosok pria mengenakan jaket hitam dan helm warna putih masuk kerumahnya. Siapa itu? Pikirnya dalam hati.
"alah paling juga sales" bi beranjak mandi. Tapi dari bawah papahnya teriak. "biiii... Ini ada temanmu datang! Cepat turun!"

hah? Teman? Siapa? Bi cepat2 turun masih memegang handuknya.
Betapa kagetnya dia ternyata dio yang datang.
"lah, yo? Ngapain?" tanyanya.
"idih belom mandi.." dio meledek.
Bi tampak kikuk menyembunyikan handuknya. "heh, ditanya juga.. Malah ngeledek."
"minum dulu dong.. Baru ntar dijawab.. Aus niih.." katanya merengek.
"jeh.. Ngerepotin ya.." dengus bi. "mbak, bikin minum dong buat temen aku." teriak bi.

Setelah minuman datang, dio langsung menyeruput minumannya.
"beneran aus ya?" tanya bi heran.
"masa boongan"
"skarang jawab pertanyaan gue." bi tolak pinggang.
Dio melengos lalu duduk di tempat duduk kayu yang sudah disediakan untuk tamu di depan rumahnya bianca.
"kepuncak yuk!" ajak dio tiba2.
Ini anak memang penuh kejutan. Mengajak seenaknya saja. Kalo gak bisa gimana? Kan cape2in diri aja udah kerumah orang malah ditolak.

"gak bisa." tolak bi.
"kalo gak bisa gue aduin nih ke ortu lo kalo lo di skors" dio menatap bi yang masih berdiri dengan pandangan licik.
"eh lo tau darimana" bi mlotot.
"uda sana mandi. Ntar bilang aja lo mau latian band. Oke?" dio seakan tidak perduli dengan ekspresi bi.
Bi manyun lalu terpaksa mengikuti kemauan dio.
Setengah jam kemudian, bi keluar lalu menenteng helmnya "buruan yu ah.. Sore musti balik gue.. Mau nganter nyokap ke dokter."
dio bangkit lalu nyengir melihat bi yang walaupun tomboy ternyata manis juga mengenakan celana jeans ketat dan jaket kulit.

Pinter juga nyocokin kostum, pikir dio.

Dio menyalakan motor sportnya, lalu bi naik. Mereka berangkat ditemani langit yang berangsur angsur menunjukan senyumnya.

***

"biii.. Kesini bii.. Bagus banget deh.." ujar dio. Mereka sedang istirahat di kebun teh.. Sambil meminum teh hangat dari para penjual yang ada.
"bawel lo ah" acuhnya.
"jehh.. Ni anak.. Kesini.." paksa dio.
"iya iya, ada apaan sih? Bidadari?" ujar bi lalu terkesima melihat pemandangan yang ada didepannya.
"melototkan lo" ejek dio.
"waw.." hanya itu yg bisa diucap bi.
"bi, lo mau gak jadi cewe gue" ujar dio cepat tapi pelan.
Bi masih terkesima tak menggubris ucapan dio.
Dio ketakutan, sambil merem. Tapi setelah lama, dia perlahan membuka matanya. Ternyata bi sudah tidak ada disampingnya lagi.
"woy, sini.. Ada jagung ni" bi memanggil dari kejauhan.
"sial" keluh dio.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju puncak pas.
Jalanan yang cerah tapi dingin tetap menusuk tulang mulai berliku.
Sesampainya disana, mereka berjalan menuju warung2 untuk memanjakan perut mereka yg keroncongan.
Bi memesan bandrek dan makanan yang bisa menghangatkan tubuhnya. Begitu juga dengan dio.
Sambil menunggu makanan, dio berniat mengucapkan kalimat pamungkasnya yang tadi.
"bi!" hardik dio. Takut bi tidak memperhatikannya seperti tadi lagi.
"hah?" jawab bi.
"lo mau enggak jadi cewe gue?" tanyanya.
"enggak." jawab bi dengan singkat.
"serius bi."
"iya serius" ujar bi.
"kenapa?" wajah dio mulai suram.
Bi gak menjawab.
Pelayan lalu mengantar makanan mereka. Tampak minuman dan makanan mengebul ngebul..
"bang bang.. Gue sayang bang ama dia bang.." kata dio belaga gila. Bi tampak risih. Sang pelayan hanya senyum lalu mngacungkan jempolnya.
"apaan sih lo. Jangan didengerin ya bang" sanggah bi.
Dio bangkit lalu menyambangi meja meja yang lain "om om.. Saya sayang banget om sama dia.. Itu tuh.. Namanya bianca.." lalu pindah ketempat lain "mas mas.. Aa aa.. Neng.. Teteh.. Sayang sayaaang banget sama dia.. Tuh yang disana tuh.." semua pengunjung hanya tersenyum melihat tingkah anak muda yang sedang dimabuk kepayang oleh cinta.
bi menutup mukanya, karena malu.
Setelah dio melakukan aksi gilanya, dia kembali.
"gimana? Udah percaya?"
"gokil lo" bi geleng2 kepala.
"jadi jawabannya apa?" dio masang muka mupeng.
Bi nyengir "hehe... Enggak!" bi pasang muka jutek sejutek juteknya.
"oh my gooodddd..." dio menepuk kepalanya.
»»  BERSAMBUNG... >>

Senin, 07 Maret 2011

psychotique (8)

Akhirnya bel (yg mirip kentut) berbunyi.
"bianca, kamu ditunggu kepala sekolah diruangannya." kata bu dina, guru fisika.
Zora menoleh kebelakang. "gue ikut ya?" bisik zora.
Bi membereskan mejanya, lalu menggantungkan tasnya di bahunya. "gausah monyet" katanya sambil mengacak2 rambut zora lalu melenggang pergi.

Tok tok tok.. Suara pintu diketuk.
"ya masuk." suara berat dari dalam ruangan menyambut bi.
"siang pak, saya bianca."
"oh iya iya, masuk sini" kata pak syamsudin komarudin, kepala sekolah SMA Mustika.
Bi duduk dengan tenang.
"bianca frederica.. Kamu tau kenapa dipanggil kesini?" tanya pak syamsudin komarudin (yah, menyebut namanya harus lengkap. Karena memang begitu ketentuannya dia sangat tidak suka dipanggil syamsudin saja atau komarudin saja.. Atau malah syam, yah biar sedikit keren. Tapi tetap dia menolaknya)
"gatau pak" jawabnya.
"kamu ini!" dia menggebrak meja "kenapa kamu itu menyiram ratih choirunisa (nama lengkap rara) dengan baso panas?"
"maaf pak.. Dia yang menghina saya dengan kata lesbian duluan.." jawab bi santai walaupun agak sedikit kaget karena gebrakan meja tadi.
"jadi dia menghina kamu lesbian?" tanya pak syamsudin komarudin.
"iya pak, kalo ga percaya tanya aja sama anak2. Dia teriak2 menghina saya sama teman saya pak. Yah saya sih mengharap keadilan saja."
"tapi tidak seharusnya kamu membalasnya demikian.." pak syamsudin komarudin menyuruh pesuruh sekolah untuk memanggil rara keruangan nya.
"namanya manusia pak." timpal bi.
Kemudian datanglah rara dan duduk disamping bi.
"keluarin aja pak.. Orang brutal kaya gini ga pantes sekolah disini." sulut rara.
"diam kamu!" hardik pak kepala sekolah. Memang pak syamsudin komarudin ini terkenal galaknya naudubillah, tapi dia juga bijaksana.
"bianca frederica, kamu tak seharusnya seperti ini.. Kamu bisa menyikapi semuanya dengan tenang.. Kamu saya skorsing 1minggu." hukumnya.
"tapi pak.. Saya baru aja masuk pak.. Masa uda di skors lagi.." sanggah bi.
"dan kamu ratih choirunisa, kamu juga bapak skors 1minggu karena telah memancing keributan." ujar nya tak peduli sanggahan bi.
"loh kok saya juga? Gak adil pak!" rara marah.
"sekarang kalian keluar, dan akan saya kirim segera suratnya.. Cepat.."
rara menghentakan kakinya, kesal. Sedangkan bi berjalan gontai.
Zora melihat bi dari parkiran sedang berjalan di lorong sekolah. Lalu berlari nyamperin bi.
"gimana gimana?" tanya zora sambil nomplok bi.
"hh.. Gue di skors nyet"
"ha? Masa?" zora kaget campur sedih.
"jangan cemberut ah, tapi gue puas. Si rara juga di skors" ujar bi menghibur.
"pasti ni anak nyari gara2 lagi nih" kata zora.
"alaaaah.. Yaudahlah.. Sabar aja. Kalo ga kapok juga ntar gue bunh buat monyet kesayangan gue ini" kata bi merangkul zora lalu berjalan keparkiran.
»»  BERSAMBUNG... >>

Minggu, 06 Maret 2011

psychotique (7)

"jangan lupa untuk kemo ya pak :) jangan abaikan kesehatan dan jangan putus asa" kata pria berjubah putih dengan stetoskop dilehernya.
Papah dan mamah bi menjabat tangan sang dokter. Lalu berjalan menuju luar.
Disana sudah ada bi dan zora yg menunggu di mobil. Zora membantu papahnya bi untuk memapah.
Lalu bi melesat meninggalkan rumah sakit.
Mamanya kurus sekali, pucat tapi tetap ada secercah harapan disana. Bi juga terlihat agak kurusan, mungkin karena kecapean dan terlalu mengkhawatirkan kondisi mamahnya sehingga dia tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri.

Sesampainya dirumah, bi dan papahnya memapah sang mamah menuju kamarnya, zora membantu menurunkan barang2.
Setelah semua beres, dan mamahnya bi kembali beristirahat, bi menemani zora yg duduk sendirian dipinggir kolam renang.
"woy!" katanya sambil menepuk bahu zora.
Zora hanya tersenyum manis.
"makasih banyak ya nyet, gue gatau apa yg musti gue lakuin kalo gada lo. Berkat lo gue bisa fokus jagain nyokap. Berkat lo juga gue ga ketinggalan pelajaran. Haddeeeehhh.. Baiknya sahabatku yg satu ini" katanya sambil mencubit hidung zora.
"iya iya nyong." zora tersenyum manis. "gak mungkin lah gue cuek aja sementara sahabat gue ini udah kalut ampe gak ngurus dirinya sendiri. Gue kan sayang lo bi" kata zora sambil memeluk bi dengan hangat.
"eh iya, ini juga berkat usahanya tuh cecunguk dua kali nyong" ujar zora setelah melepaskan pelukan nya.
"haha.. Iya tuh.. Dio yg nemenin gue kalo malem trus gada papah. Ucup yg demen banget bawain sup ayam jahe kerumah sakit. Haha.. Gara2 si ucup tuh gue jadi kaga masuk angin." kenang bi.
"hihi, bener banget tuh." zora cekikikan.


***


tiiin.. Tiiinnn... Suara klakson mobil dari depan rumah zora. Bi imah mengintip.
"non, itu non bi di depan rumah."
zora pamitan pada maminya lalu keluar.
"met pageeee..." zora nyengir.
"met pagi juga nona manis." kata bi melepas kacamata hitamnya.
"berangcuuut cin" zora mengarahkan tangan nya kedepan.
Mobil pun membelah jalanan kota bekasi yang padat. Menuju sekolah tercinta untuk menuntut ilmu agar menjadi anak yg berguna bagi nusa dan bangsa (gue nulis kaya gitu mau muntah, sumpah)

"ih pasangan lesbian uda masuk sekola toh" ledek rara, cewe genit menyebalkan yang selalu nyari gara2 sama zora.
Bi dan zora menghentikan langkahnya.
"maksud lo?" tanya bi.
"maksud gue?" tanya rara "maksud gue ya elo berdua" lanjutnya nyolot menunjuk kemuka bi dan zora.
Otomatis tangan nya langsung ditepis zora "heh, lo kalo ngomong dipikir dulu pake otak. Atau bibir lo mau gue jahit?!" gertak zora sedikit melotot.
"lo pikir gue takut sama lo, LESBIAN??!" ujar rara tak mau kalah.
"masalah lo apasih sama kita?" tanya bi, tenang.
"masalah gue? Ya karena ada lo berdua" rara menunjuk nunjuk bi dan zora lagi.
"yee.. Ni kunyuk satu nyolotin banget sih pagi2.." zora mulai sewot.
Sesudah zora berkata begitu, bel masuk pun berbunyi.
"awas lo istirahat" ancam rara lalu pergi meninggalkan mereka.
"ngapa sih tuh?" tanya bi, zora hanya mengangkat bahu lalu berjalan kekelas lagi.

Terdengar suara kentut menggema diseluruh penjuru SMA Mustika pertanda istirahat. Oke oke, itu bukan suara kentut. Tapi suara bel. Tapi mirip kentut. Tapi itu bel. Oh tidak,sangat mirip sekali kentut. Ya sudahlah.

"pa'e basonya satu campur." teriak zora sambil mengambil tempat.
"dua pa'e.." timpal bi. "mau minum pa nyet?"
"es jeruk anget gapake jeruk" zora nyengir.
"sekalian gapake gelas.." bi pun melengos memesan minuman.
Setelah pesanan mereka datang, zora dengan lahap memakan baso nya. Bi hanya bisa senyum senyum melihat tingkah zora yg seakan lupa kalo dirinya perempuan.
Zora menyadari, lalu mengusap muka bi dengan tangan nya "heeeh.. Makan. Kenapa sih ngeliatin gue mulu?"
"ya karena dia suka sama lo TOLOL" samber rara.
Yaelah si nenek sihir dateng lagi, ujar zora dan bi dalam hati.
" pergi lo ah, ganggu napsu makan gue aja" usir zora.
"kenapa? Mau pacaran ya?" "woooy disekolah kita ada LESBIAN NIH.. Lagi pacaran..." teriak rara dengan bacotan super toak nya.
Zora kesal, lalu menggebrak meja.
"masalah lo apa sih ama gue? JALANG!"
anak2 mulai mengerumuni mereka..
"ga demen aja gue ada lesbian disini" senyum sinis meluncur dari bibir tipis rara.
Bi masih tenang duduk di tempat duduknya sambil menuang sambel ke mangkok basonya.
Zora mau beranjak dari tempat duduknya tapi ditahan oleh bi.
"wooow.. Perhatian sekali ya lesbian lo zor.." goda rara.
Dengan tiba2, bi menyebor rara dengan isi mangkok basonya yg masih gress and hot of course.
Semua yg dari tadi mulai menyerukan jagoan masing masing sampai ada yg berteriak "go indonesia.. Go indonesia.." (oke mereka memang suka ngaco, padahal kan itu teman sekolah mereka) diam tak berkata.
Rara menjerit kepanasan.. Dada sampai perut dan pahanya basah tersiram kuah baso panas.
"pak, ni uangnya ya" bi menaruh uang 20ribuan di atas meja lalu berlenggang santai diikuti oleh zora. Ekspresi mereka datar sekali seperti tdk ada apa2, kontras dengan rara yg masih kesakitan dan kepanasan.
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 04 Maret 2011

psychotique (6)

Disebuah cafe di bekasi, duduklah seorang wanita mengenakan celana jeans ketat dan sweater merah kebesaran, rambut ikal hitam dan panjangnya di ikat ekor kuda, hanya menyisakan poni miringnya.. Membuat wanita itu makin terlihat sporty. Dia menyulut rokoknya lalu ada seorang pria menghampirinya.
"maaf ya nunggu lama zor." pria itu ternyata ucup. Dia lalu mengambil tempat tepat didepan zora.
"baru dateng kok" kata zora santai sambil terus merokok.
"kamu ngerokok?" tanya ucup.
"he'em . Mau?" tawarnya.
"boleh. Sejak kapan?" tanyanya sambil mengambil rokok yg ditawarkan.
"sejak nenek masih perawan" zora terkekeh. Ucup pun tersenyum.
"kenapa sih aku sms ga pernah dibales, aku telepon jarang diangkat?" tanya ucup serius.
"enggak apa2. Penting gitu?" zora memanggil pelayan lalu memesan minuman.
"km ga mau bertemen sama aku ya zor?" tanya ucup seusai memesan juga.
"bukan gamau cup. Gue cuma risih kalo di rese in kaya gitu."
"jadi maksud kamu aku rese?"
"yaah.. Mungkin begitu." zora mengangkat bahunya.
"aku mau coba deket sama kamu." katanya memelas.
"yaaah lo tau lah gue orangnya gimana. Gue mau aja kok. Tapi jangan gitu ya" zora tersenyum.
"ya aku janji ga rese lagi" ucup mencubit pipi zora.
"aduuh.." zora manyun.

Dari kantong jeansnya, hape zora bergetar.
"apa bi?" jawab zora mengangkat telepon.
"dimana lo?" bi tampak kebingungan.
"lagi di rock n roll cafe. Kenapa lo?" tanya zora.
"nyokap gue zor, masuk rumah sakit." bi berusaha menahan tangisnya yang mau meledak.
"hah? Masa? Dimana? Gue langsung kesana." zora terbelalak.
"gue smsin ya alamatnya." kata bi lalu menutup teleponnya.

"kenapa?" tanya ucup.
"nyokapnya bi masuk rumah sakit." kata zora panik.
"yaudah bareng aku aja. Dirumah sakit mana?" kata ucup.
Lalu hp zora bergetar lagi pertanda sms masuk.
"nih disini" zora memperlihatkan sms bi.
"yaudah yuk" ucup berdiri lalu menyelipkan uang 50 ribuan di bawah gelasnya. Lalu menyusul zora keluar cafe.
"naik mobil gue aja." kata ucup.
"nanti macet. Naek motor gue aja ya cup." timpal zora.
"yaudah tapi aku yg nyetir ya." kata ucup.
Zora lalu mengangguk dan menuju satria F150 warna hitamnya.
Ucup menitipkan mobilnya ke satpam cafe dan meminjam helm dari sang satpam.
Lalu mereka pun menaiki dan mengebut menuju rumah sakit di bilangan jakarta timur.
Di lampu merah, "zor, tolong sms dio kasih tau rumah sakitnya biar dia nyusul." kata ucup menyerahkan hp nya ke zora.
Lampu hijau menyala kemudian ucup mulai menunggangi motor dengan kecepatan penuh.
"udah smsnya?" ujar ucup setengah berteriak.
"udah nih hpnya" timpal zora setengah berteriak juga.
"pegang aja dulu." kata ucup.
Lalu zora mengantongi hpnya ucup.
Ucup menarik tangan zora agar bisa memeluknya. Zora agak canggung sepertinya. Ucup tetap memegangi tangan zora dengan tangan kirinya agar zora tetap memeluknya.

***

sesampainya dirumah sakit.
"bi gimana nyokap?" tanya zora masih mencoba mengatur napas karena berlari.
"gak tau, dokternya belom keluar." ujar bi. Mukanya pucat sekali.
Zora memeluk bi berusaha menenangkan.
"tenang ya, nyokap pasti gak apa2 kok"
tak lama dio pun datang.
"woy cup" kata dio.
"yow.." kataa ucup sambil menaruh telunjuknya dibibir pertanda jangan berisik.
"bi, gapapa kan?" tanya dio mengelus rambut bi yang sedan ada dipelukan zora.
"gak apa2.. " kata bi sambil mengusap air matanya.
Dokter pun keluar dari ruangan ICU.
"dok gimana mama saya?" tanya bi tak sabar.
"kamu keruangan saya ya, ada yg ingin saya jelaskan.
Bi mengekor meninggalkan zora, ucup dan dio.
"hmm.. Papa kamu mana?" tanya dokter sambil menaruh stetoskopnya.
"papah tadi katanya on the way dok."
tiba2 ada yang mengetuk pintu ruangan. "ya masuk" kata sang dokter.
"permisi dok.." ternyata papahnya bi.
"itu papah dok." kata bi.
"oh iya masuk pak masuk.." lalu mereka berjabat tangan.
"begini, kondisi istri bapak sangatlah mengkhawatirkan."
"kenapa dok?" papahnya pucat.
"istri bapak terkena kanker paru2. Tadi saya sudah melakukan pengecekan. Tapi harus juga menggunakan CT SCAN agar lebih jelas dan benar2 memastikan." ujar dokter.
"apa?! Kanker paru2 dok?" bi terbelalak.
"iya, besok kita lakukan ct scan ya. Mulai malem ini biar ibu ajeng dirawat disini. Silahkaan bapak dan ade mengurus biayanya ke bagian adm." kata dokter lagi.
Bi lemas bukan kepalang. Keluar dari ruangan dokter pecahlah tangisnya. Zora,ucup dan dio menghampiri.
"tolong jaga bi ya zora.. Om mau ke bagian adm dulu." tampak mata papahnya bi berkaca2.
Zora mengangguk.
"apa kata dokter?" tanya dio.
"mamah gue.. Mamah.. Katanya dia kanker paruparu.." bi terisak.
"sabar ya bi.. Mamah lo pasti sembuh kok.." ujar zora menenangkan.
Dio dan ucup pun lalu memberi semangat kepada bi.

***

pria itu menggenggam tangan seorang wanita paruh baya yg terbujur kaku penuh infus disebuah ruangan dingin. Air matanya jatuh perlahan.
Perasaannya berkecamuk tak menyangka wanita yang begitu dicintainya kini lemah tak berdaya.

***
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 02 Maret 2011

psychotique (5)

Pulang sekolah ,seperti biasa bianca dan zora menuju parkiran untuk mengambil kendaraan nya.
"zor ,gue ga bawa mobil . Bareng ya!"
"iye" jawab zora sambil menggelembungkan permen karetnya.
Tapi mereka berhenti tiba2.
"itu kan dio ya bi?" tanya zora.
"ih mampus gue, tuh anak nekat banget."
"ha?" zora masang tampang bloon.
"semalem tuh dia nelpon katanya mau jemput gue. Gak gue sangka ternyata beneran.." Jelas bi "gue gamau zor, tolongin gue yaaaa.. Please please please" mohon bi memasang wajah superduper melas.
"tenaaaang.."
zora menghampiri dio "hei.." katanya.. Bi mengekor di belakang zora.
"hei juga.." ujar dio ramah.
"ngapain lo?" tanya zora.
"tuh jemput dia" dio memonyongkan bibirnya kearah bianca.
"eh..eh.. Gue gabisa.. Maaf ya gue uda janji sama zora" tolak bi gugup.
Tampak dio kecewa, "yah.. Gabisa ya? Padahal gue pengen ngajak lo temenin gue latian band"
"iya, sorry ya.." jawab bi lagi.
"ah gapapa kok yo, lo ajak aja. Lagian gue gabisa mulangin nih si monyong satu.. Gue pengen belajar kelompok" kata zora membuat bi melotot.
"yang bener?" dio sumringah.
"yoyoy.. Yauda sana pergi duluan.. Gue mau nemuin temen gue.." kata zora senyum licik (tumbuh tanduk)
"yauda deh bye bye zora" kata dio sambil menyeret bianca.
Bianca terpaksa nurut sambil mengutuk zora dalam hati. Awas lu ya zor gue injek2 abis ini.

***

motor sport besutan tiger berwarna kuning itu berhenti disebuah rumah besar yang sudah disulap menjadi studio band.
Bi celingak celinguk kebingungan.
"masuk bi" ujar dio.
Bi pun menuruti. Mereka masuk lalu disambut oleh beberapa orang yg sedang duduk santai mengenakan seragam SMA.
"woooy kemana aja lo lama banget?" tanya cowo yg berambut emo style.
"jemput dulu" dio menaruh helmnya "guys, kenalin nih bianca panggil aja bi." dio memperkenalkan bi kepada teman2nya.
"beni.." kata cowo berambut emo tadi.
"oka.." kata yg satu lagi.
"hei.." ujar cowo selanjutnya yang ternyata adalah ucup. "zora mana?"
"loh dia pulang kali.." kata bi bingung. Apa zora sudah tidak berhubungan lagi sama ucup yah..
"duduk sini bi" kata dio memecah lamunan bi.
Mereka duduk lalu teman2 dio kembali asyik dengan kegiatan masing2.
"bete ya?" kata dio.
"ah enggak ko. Ko gak latihan?"
"masih bingung kita2." jawab dio.
"bingung kenapa?" bi mengambil minuman ringan yg telah disediakan oleh dio.
"pemain drum kita out. Dia musti direhab. Trus gabisa nemuin additional player" jelasnya.
"oooh.." bi hanya bisa ber-oh ria.
"lo bisa maen drum?" tembak dio.
"dikiiit.."
"wah? Yg bner? Bisa gue liat ga?"
bi hanya mengangkat bahunya lalu berjalan kearah drum.
"woy temen2 nih bi mau perform.." ujar dio.
Bi duduk dibelakang drum, lalu mengambil stik dan bersiap memukul2 drumnya.
Setelah mengambil napas, bi menggebuk2 drum dengan irama cepat namun teratur. Bertenaga sekali untuk ukuran cewe. Dio, oka, ucup dan beni pun berpandang2an.
"stop stop stop.." kata ucup.
"lo mau ya jadi pemain drum kita?" kata beni.
"iya teh, jadi pemain kita ja yah" timpal oka yg ternyata berlogat sunda kental.
"gue pikir2 dulu dah." kata bi cuek .

***

zora sampai dirumahnya, melongok meja makan apa ada yg bisa dimakan.
"biiii... Mamski mana?" tanyanya kepada bi minah.
"belom pulang non"
"oh yauda" zora berjalan lunglai menuju kamarnya. Mengecek hpnya siapa tau bi meng-sms, tapi ternyata tidak. Lalu dia berganti baju mengenakan celana pendek warna pink dan baju biru muda.
Merebahkan tubuhnya dan terlelap.
Zora memang hanya tinggal bertiga dengan mami dan pembantunya. Maminya bekerja siang malam membanting tulang demi menghidupi anak semata wayangnya itu..
Papi nya zora? Hmm.. Papi dan maminya zora sudah bercerai waktu zora masih berumur 2tahun. Sampai sekarang zora tidak pernah bertemu dengan papinya lagi.
Tak lama, zora sudah terlelap dengan semua kepenatannya.
»»  BERSAMBUNG... >>