Minggu, 27 Maret 2011

psychotique (12)

Dugg!! Tangan bi menghantam tembok depan rumahnya. Dio kaget "apa apaan sih lo?" tanyanya sedikit berteriak.
Bi diam, tertunduk. Mukanya menahan amarah yang mau meledak.
"nanti biar gue yang urus" kata dio sambil bersiap ingin pergi.
"gue ikut" bi masih menunduk, suarnya bergetar.
"ga usah." lalu dio beranjak pergi.
Bi menahannya, "gue mau ikut.. Zora tuh sahabat gue.. Dia disakitin gitu trus gue nya diem aja???" bi sekuat tenaga menahan air kelemahan jatuh di pipinya.
Dio mengelus rambut bi, "lo tenang dulu.. Gue cuma mau ngeberesin yang masalah laki2nya aja.. Nanti bagian lo ada kalo lo masih ga terima.." sesudah berkata begitu dio menunggangi motornya dan melesat pergi.
Bi berjalan gontai, masuk kerumahnya. Menuju ruang keluarga dan mengambil kotak p3k.. Mengoleskan ramuan dari cina ke tangannya tadi agar tangannya tidak bengkak.
Dari atas munculah wanita cantik dengan sembab dimatanya "bii.." katanya setengah berteriak memanggil sahabatnya.
"ya?" bi menoleh keatas.
"gue mau pulang bi" sisa isaknya masih ada.
Bi berjalan menghampiri gadis itu.
"jangan, lo disini aja ya sama gue." bi tersenyum mngelus rambut sahabatnya itu. "nanti gue teleponin rumah lo.. Oke?" lanjutnya.
Zora tidak menjawab. Malah air matanya tumpah lagi. "kenapa sih bi? Kenapa? Baru sebulan gue rasain udah mau direnggut lagi.."
bi kikuk menghadapi sahabatnya, dia hanya bisa memeluk zora.
"ga ngebayangin gue bi.. Dia have sex sama rara.. Dibelakang gue bi.. Khianatin gue bi.. Kok tega ya" air mata terus bercucuran.
"dia emang berengsek zor.. Biarin aja.. Udah ya lo jangan pikirin lagi.. Nanti lo sakit.." bi berusaha menenangkan zora..
Lalu bi menuntun zora agar masuk kekamar lagi. Zora tidur dipangkuan bi yang setia mengelus kepalanya.

***

ditempat berbeda.
Dua orang pria duduk diatas motornya masing2 ditepi pantai sepi..
"gue gamau ngambil kesimpulan sendiri" kata dio sambil menyulut rokoknya.
"harus dari mana?" ucup tertunduk.
"gue cuma pengen ngasih pertanyaan yang musti lo jawab" dio perlahan berjalan menghampiri ucup dan duduk disebelahnya. "pertama.. Lo uda ptus belom sama rara sebenernya?"
ucup menjawab "udah.. Tapi dianya tetep gamau.." dio mengangkat tangannya pertanda jawabannya cukup.
"kedua.. Ko bisa uda putus tapi lo have sex sama rara?" dio melanjutkan.
"biasa.. Malem itu abis pulang latian kan gue mabok trus pulang kerumah ada dia.. Gatau kesambet setan apa ya gitu..." suaranya tertahan.
"yang terakhir.. Trus gimana sama rara sama zora?"
ucup mengusap mukanya lalu "gue gatau.." belum selesai ucup menjawab ,tiba2 bogem mentah mendarat di pipinya..
"anjing lo ya.. Lo bilang gatau?" dio berkata begitu sambil terus memukul ucup. "lo pikir mereka tuh apaan? Robot2an? Perasaan itu lo pikir apaan? Maenan?" dio tetep memukul membai buta, ucup tersungkur di pasir.. Tidak berdaya..
Dio bangkit, lalu menginjak dada ucup..
"gue bingung mau bela siapa.. Tapi lo itu emang salah.. Zora hampir gila, lo tau ga?! Hah!!"
"uhuk.. Uhuuk.." ucup batuk lalu mengelap bibirnya yang pecah. "gue tau gue salah.."
"bagus!" dio memotong lagi.. "sekarang lo pikirin.. 3hari lagi gamau tau gue, harus uda beres.. Gue gamau liat zora kaya gitu.. Jangan coba2 kabur, abis lo ama gue.." dio membesihkan tangannya lalu meninggalkan ucup yang masih terkapar di pasir pantai yang sepi.. Merenungi tentang kesalahan fatal yang dia buat sekaligus memutar otak untuk menyelesaikan ini semua.. Badannya sakit, tapi hatinya remuk.. Dia kehilangan pacar dan sahabat karena tindakan bodoh yang nikmatnya hanya beberapa jam saja.. Tapi dia juga tidak bisa lari dari tanggung jawab.. Bagaimanapun dia itu lelaki..
"aaaaaarrrrrrgggghhhh...." teriaknya mengiba.. Membuat sakit paru2, mulut dan hatinya..
»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 15 Maret 2011

psychotique (11)

"tiup dong lilinnya" bi berkata begitu sambil memegang handy cam nya.
Backgroundnya sangatlah cantik dengan pemandangan sunset khas pantai jakarta dan angin yang mulai menggoyangkan pohon disekitarnya.
Lilin angka 1 ditiup,
"selamet ya sahabatkuuu" bi mencium zora.
"ahaha, baru juga sebulan masa uda tiup lilin. Ntar dikira uda setaun lagi." ujar ucup seusai meniup lilin.
"biarin sih men, kan kata orang2 mah biar langgeng." dio duduk santai. "sayang, aku kok gak dicium?" katanya kepada bi sambil menunjuk pipinya sendiri.
Bi menjulurkan lidahnya.
"cie, uda sayang2an nih jadinya??" ejek zora.
"ah elah, gosip dah." bi monyong, mereka semua tertawa.
Selagi mereka berempat sedang bercanda2 merayakan first month jadiannya zora dan ucup, tiba2 datanglah seorang cewe berambut panjang.
"jadi kamu disini cup?" hardiknya.
"loh? Zora? Bianca?" cewe itu ternyata rara, dan kaget melihat zora dan bi ada disitu.
Ucup hanya terdiam kaku.
"oh, jadi elo yang ngerebut cowo gue?!" rara menjenggut rambut zora. Tapi zora menghindar lalu menampar rara.
"lo yang sopan ngomongnya! Sapa yang ngerebut!! Ucup cowo gue!"
rara memegangi pipinya lalu berjalan kearah ucup, dan menarik ucup untuk pergi.
"lo musti ngejelasin ini semua!" katanya.
Dio menahan tngan ucup sedangkan bianca menepak tangan rara yang menarik ucup.
"heh, apa2an sih maen bawa kabur cowo orang" ujar bi.
"cowo orang??!! Dia cowo gue!" teriak rara mengagetkan zora.
"heh, lo ama ucup uda putus" kata dio meluruskan semuanya gak mau bi dan zora salah paham.
"enak aja putus! Setelah dia merawanin gue terus dia tinggalin gue buat pacaran ama si lesbian ini?!" rara kalap dan menunjuk2 zora. Mereka semua kaget.
"gak akan gue lepasin ucup! Dia musti tanggung jawab!"
Dengan tiba2 dio langsung menonjok ucup berulang kali.
Ucup tidak melawan, hanya berteriak kesakitan. Terus terus dan bertubi2. Menonjok, memukul, menendang.
Semuanya yang ada disitu mulai berteriak panik karena dio membabi buta memukuli dio.
Bi dengan tenaga super gedenya menarik dio.
"anjing lo ya! Gak bilang2 sama gue! Berengsek juga lo ya! Kalo tau lo kaya gini gabakal gue sudi temenan sama lo" dio kesal dan memaki dengan mata yang agak berkaca2. Bi berusaha menenangkan dio.
Keadaan sangat kacau. Zora mulai menangis, dia merasakan sakit dihatinya. Dunia seakan2 runtuh dan menibannya. Tak percaya, kenapa musti rara? Kenapa gak cewe lain aja? Dan kenapa musti bohong? Kenapa juga musti menyianyiakan cewe setelah mendapatkan segalanya. Semua pertanyaan itu muncul tiba2 di pikiran zora dan membuat air matanya turun dengan deras.
"stop yo! Ucup ikut gue" teriak rara sambil menangis.
Lalu rara memapah ucup dan membawanya pergi.
"pergi lo sono loser! Anjing! Bangsat!" dio seakan mau menendang ucup lagi tapi ditahan bi.
Setelah ucup dan rara pergi, bi dan dio sadar masih ada temen mereka yang shock.
"zor, lo gak apa2 kan?" tanya bi memegang pipi zora yang sudah basah karena air mata, zora menangis tanpa isak dan suara.
"zor?" dio menyadarkan.
"gue mau pulang" zora berkata begitu dengan tatapan kosong.
Bi memapahnya, dio mengambil mobil. Dan pergi dari tempat itu.
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 11 Maret 2011

kepala mau pecah

hari ini ,sebenernya tuh hari yang berat banget buat gue.
Otak gue itu uda cape.
Gue pengen nangis juga gatau ama sapa.
*oke, kali ini gue bener2 GALAU*

pagi2, gue dapet kabar dari temen gue kalo kelas uda dibagiin buat semester 4.
Gue liat, ternyata gue dapet kelas B.
Nilai gue yang salah input juga belom berubah.
Itu nilai E demen banget nongkrong di mata kuliah APSI.
Stressss... Gue tanya temen2 deket gue ,mereka pada kelas A.
Oke.. Gue tambah stresss!!!
Gue itu orangnya sangat susah bersosialisasi sama orang lain.
Gue takut di kelas B nanti gue gak cocok.
Apalagi kalo ada tugas2 berkelompok gitu.
Aaaarrrggghh.. Puyeng mikirin nya :(((

trus pas siang2, gue liat di TV jepang gempa 8,9sr . Dan tsunami dahsyat.
Lagi enak2 nonton berita *berharap mengalihkan pikiran dari nilai sengke dan kelas* trus ada text berjalan gitu. Gue baca..
Katanya indonesia sangat berpotensi terjadi tsunami di wilayah papua, mauku utara sama sulawesi utara.
Hhh... Perasaan lega dihati gue karena jakarta dan sekitarnya ga dikhawatirin juga.
Trus kata penyiarnya, penduduk manado harap mengungsi ketempat yg lebih tinggi.
Gue ngeh, trus gue tilik lagi tadi berita yg gue baca.. Katanya papua, malut sama sulut.. Gue tanya sepupu gue yang masih kelas 2, ibu kota sulut apaan? Dia jawab, manado. *ips gue jeblok, sumpah pas dari SD*

gue langsung panik tuh. Gue inget pacar gue disana. Gue teleponin ga diangkat2. Disms ga dibales apasih maumu *nyanyi* *alah* *tolol*
akhirnya dia nelepon gue balik. Dia bilang mau pulang kantor trus ngungsi karena rumahnya deket banget sama pantai.
Aduuhh.. Stress lagi gue.. Panik. Dia panik, gue panik.. Pala gue langsung sakit.
Tapi gue gamau keliatan panik depan dia..
Untungnya dia sekarang gapapa. Tsunaminya juga ga ada.

Tapi alhasil hari ini jadi hari yang sangat mengesalkan. Kepala gue sakit #cenatcenut dibuatnya. Hufhuf...
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 10 Maret 2011

psychotique (10)

"kamu mau jadi cewe aku zor? Nemenin hari2 aku?" ujar pria botak nan manis itu.
"hah?" zora terbelalak. Apa2an nih si ucup pake nembak gue segala? Pikirnya.
"jawab zor.." ucup menggenggam tangan zora.
"a.. Hm.. Gimana ya.." zora kebingungan.
"please bilang iya."
"aduuhh.. Bener gue gatau." zora mulai memerah.
"aku suka sama kamu zor.. Dari pertama kita chatingan trus ketemu.."
"yaa.. Gimana ya.."
"aku pengen kamu ngasih aku kesempatan."
"hmm.. I.. Iy.. Iya deh" akhirnya zora mengangguk. Ucup bersorak kegirangan.
"makasih ya.. Seneng banget aku.. Sumpah!" matanya berbinar2.

***

pagi2 hpnya bi sudah gedombrengan aja. Mengganggu tidurnya.
"haloo.." jawabnya setengah sadar.
"jangan kemanamana ya,gue kesana nyong." ujar perempuan disebelah sana.
"ini siapa?.." tut..tut..tut.. Teleponnya sudah dimatikan.
"yee.. Siapa sih gak jelas banget" rutuk bi lalu meneruskan tidurnya.

Jam 9, bi masih tidur dengan nyenyak. Badannya seakan ancur. Kemarin dia naik motor kepuncak lalu menemani mamahnya sampai malem dirumah sakit. Benar2 hari ini dia akan tidur sepanjang hari.
"bi.. Banguuunn" suara manja membangunkan bi.
"hah?" bi menoleh, ternyata zora.
"banguuunn!!!" teriak zora kaya nenek2 dikuping bianca.
"iya iya monyet ini bangun" bi duduk ditempat tidurnya tetapi masih tetap memejamkan matanya.
"nah gitu dong" zora tersenyum puas.
"ada pa sih pagi2 ganggu aja" tanya bi yang langsung berjalan menuju kamar mandi didalam kamarnya.
"hihi.. Tau gak nyong?" zora cekikikan sendiri.
Bi membasuh mukanya "gak tau" lalu gosok gigi.
"gue sekarang pacaran sama ucup." zora menutup mukanya dengan bantal "ih bau iler" lalu melemparnya lagi.
"ha? Ang ener woh?" suara bi terdengar tidak jelas karena sambil menggosok giginya.
"bener" tegas zora.
"wah parah lo.. Masa gue tau ujungnya doang?" bi keluar dari kamar mandi dan duduk disebelah zora.
"gue ja kaget."
"yah.. Ntar gue ditinggal deh" ujar bi sedih.
"enggak ko sayang, kamu selalu dihati.. Aw aw aw" zora memeluk bi gemas. Dan mereka tertawa.
"eit tunggu dulu, lo kenapa ga sekolah?" bi baru sadar.
"hmm.. Males" zora melepaskan pelukannya.
Bi hanya mengelus pelan rambut zora.

***

ditempat yang berbeda.
"wah selamet mamen" dio menyalami ucup.
"haha.." tawa ucup.
"sialan, kemaren gue ditolak.. Mana uda belagak gila. Tetep aja ditolak sama bi." dio duduk diatas meja.
"hmm.. Emang sih bi rada susah" ujar ucup.
"yaah.. Yang begini ini yang gue demen sob" dio menjentikkan jarinya. "lah terus si rara pacar lo gimana?"
"pacar gue? Mantan kali" ucup tertawa.
"sadiiisss.. Lo putusin? Emang mau?" tanya dio.
"iya.. Dia gak mau. Tapi bodo amat ah. Gue kan pengennya sama zora."
"tapi kalo gak salah rara sama zora kan satu sekolahan? Ntar kalo rara ngamuk2 ke zora gimana? Lo taulah rara gimana orangnya." dio garuk2 kepala.
"urusan nanti sob." ucup menaikkan sebelah alisnya.
»»  BERSAMBUNG... >>

psychotique (9)

Pagi hari yang mendung. Bianca menggeliat dibalik selimutnya. Mencoba untuk membuka mata lalu sekejap kemudian dia ingin bangun beranjak mandi.
"oh iya kan di skors" bi menepuk jidatnya lalu merebahkan dirinya kembali. Tapi dari luar papanya mengetok pintu.
"bii.. Bangun sayang. Sekolah." bi berjalan gontai mmbuka pintu kamarnya.
"pagi paaah.." bi nyengir. "libur pah. Seminggu. Persiapan Try out katanya" bi mengarang bebas.
"ooh.. Yasudah mandi trus sarapan sama mama juga dibawah." kata papanya sambil ngeloyor pergi.
Bi memandangi keluar dari jendela rumahnya. Tampak langit mulai cemberut. Ingin menjatuhkan berjutajuta bahkan bermilyarmilyar tetes air.
Bi tidak menyesalkan perbuatannya, tapi dia terus kepikiran dengan sahabatnya yang disekolah sendirian. Tanpa dirinya. Dan dia juga kesepian tidak ada zora di sisinya.
Deru motor terdengar, memecah lamunannya. Kaget sesosok pria mengenakan jaket hitam dan helm warna putih masuk kerumahnya. Siapa itu? Pikirnya dalam hati.
"alah paling juga sales" bi beranjak mandi. Tapi dari bawah papahnya teriak. "biiii... Ini ada temanmu datang! Cepat turun!"

hah? Teman? Siapa? Bi cepat2 turun masih memegang handuknya.
Betapa kagetnya dia ternyata dio yang datang.
"lah, yo? Ngapain?" tanyanya.
"idih belom mandi.." dio meledek.
Bi tampak kikuk menyembunyikan handuknya. "heh, ditanya juga.. Malah ngeledek."
"minum dulu dong.. Baru ntar dijawab.. Aus niih.." katanya merengek.
"jeh.. Ngerepotin ya.." dengus bi. "mbak, bikin minum dong buat temen aku." teriak bi.

Setelah minuman datang, dio langsung menyeruput minumannya.
"beneran aus ya?" tanya bi heran.
"masa boongan"
"skarang jawab pertanyaan gue." bi tolak pinggang.
Dio melengos lalu duduk di tempat duduk kayu yang sudah disediakan untuk tamu di depan rumahnya bianca.
"kepuncak yuk!" ajak dio tiba2.
Ini anak memang penuh kejutan. Mengajak seenaknya saja. Kalo gak bisa gimana? Kan cape2in diri aja udah kerumah orang malah ditolak.

"gak bisa." tolak bi.
"kalo gak bisa gue aduin nih ke ortu lo kalo lo di skors" dio menatap bi yang masih berdiri dengan pandangan licik.
"eh lo tau darimana" bi mlotot.
"uda sana mandi. Ntar bilang aja lo mau latian band. Oke?" dio seakan tidak perduli dengan ekspresi bi.
Bi manyun lalu terpaksa mengikuti kemauan dio.
Setengah jam kemudian, bi keluar lalu menenteng helmnya "buruan yu ah.. Sore musti balik gue.. Mau nganter nyokap ke dokter."
dio bangkit lalu nyengir melihat bi yang walaupun tomboy ternyata manis juga mengenakan celana jeans ketat dan jaket kulit.

Pinter juga nyocokin kostum, pikir dio.

Dio menyalakan motor sportnya, lalu bi naik. Mereka berangkat ditemani langit yang berangsur angsur menunjukan senyumnya.

***

"biii.. Kesini bii.. Bagus banget deh.." ujar dio. Mereka sedang istirahat di kebun teh.. Sambil meminum teh hangat dari para penjual yang ada.
"bawel lo ah" acuhnya.
"jehh.. Ni anak.. Kesini.." paksa dio.
"iya iya, ada apaan sih? Bidadari?" ujar bi lalu terkesima melihat pemandangan yang ada didepannya.
"melototkan lo" ejek dio.
"waw.." hanya itu yg bisa diucap bi.
"bi, lo mau gak jadi cewe gue" ujar dio cepat tapi pelan.
Bi masih terkesima tak menggubris ucapan dio.
Dio ketakutan, sambil merem. Tapi setelah lama, dia perlahan membuka matanya. Ternyata bi sudah tidak ada disampingnya lagi.
"woy, sini.. Ada jagung ni" bi memanggil dari kejauhan.
"sial" keluh dio.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan menuju puncak pas.
Jalanan yang cerah tapi dingin tetap menusuk tulang mulai berliku.
Sesampainya disana, mereka berjalan menuju warung2 untuk memanjakan perut mereka yg keroncongan.
Bi memesan bandrek dan makanan yang bisa menghangatkan tubuhnya. Begitu juga dengan dio.
Sambil menunggu makanan, dio berniat mengucapkan kalimat pamungkasnya yang tadi.
"bi!" hardik dio. Takut bi tidak memperhatikannya seperti tadi lagi.
"hah?" jawab bi.
"lo mau enggak jadi cewe gue?" tanyanya.
"enggak." jawab bi dengan singkat.
"serius bi."
"iya serius" ujar bi.
"kenapa?" wajah dio mulai suram.
Bi gak menjawab.
Pelayan lalu mengantar makanan mereka. Tampak minuman dan makanan mengebul ngebul..
"bang bang.. Gue sayang bang ama dia bang.." kata dio belaga gila. Bi tampak risih. Sang pelayan hanya senyum lalu mngacungkan jempolnya.
"apaan sih lo. Jangan didengerin ya bang" sanggah bi.
Dio bangkit lalu menyambangi meja meja yang lain "om om.. Saya sayang banget om sama dia.. Itu tuh.. Namanya bianca.." lalu pindah ketempat lain "mas mas.. Aa aa.. Neng.. Teteh.. Sayang sayaaang banget sama dia.. Tuh yang disana tuh.." semua pengunjung hanya tersenyum melihat tingkah anak muda yang sedang dimabuk kepayang oleh cinta.
bi menutup mukanya, karena malu.
Setelah dio melakukan aksi gilanya, dia kembali.
"gimana? Udah percaya?"
"gokil lo" bi geleng2 kepala.
"jadi jawabannya apa?" dio masang muka mupeng.
Bi nyengir "hehe... Enggak!" bi pasang muka jutek sejutek juteknya.
"oh my gooodddd..." dio menepuk kepalanya.
»»  BERSAMBUNG... >>

Senin, 07 Maret 2011

psychotique (8)

Akhirnya bel (yg mirip kentut) berbunyi.
"bianca, kamu ditunggu kepala sekolah diruangannya." kata bu dina, guru fisika.
Zora menoleh kebelakang. "gue ikut ya?" bisik zora.
Bi membereskan mejanya, lalu menggantungkan tasnya di bahunya. "gausah monyet" katanya sambil mengacak2 rambut zora lalu melenggang pergi.

Tok tok tok.. Suara pintu diketuk.
"ya masuk." suara berat dari dalam ruangan menyambut bi.
"siang pak, saya bianca."
"oh iya iya, masuk sini" kata pak syamsudin komarudin, kepala sekolah SMA Mustika.
Bi duduk dengan tenang.
"bianca frederica.. Kamu tau kenapa dipanggil kesini?" tanya pak syamsudin komarudin (yah, menyebut namanya harus lengkap. Karena memang begitu ketentuannya dia sangat tidak suka dipanggil syamsudin saja atau komarudin saja.. Atau malah syam, yah biar sedikit keren. Tapi tetap dia menolaknya)
"gatau pak" jawabnya.
"kamu ini!" dia menggebrak meja "kenapa kamu itu menyiram ratih choirunisa (nama lengkap rara) dengan baso panas?"
"maaf pak.. Dia yang menghina saya dengan kata lesbian duluan.." jawab bi santai walaupun agak sedikit kaget karena gebrakan meja tadi.
"jadi dia menghina kamu lesbian?" tanya pak syamsudin komarudin.
"iya pak, kalo ga percaya tanya aja sama anak2. Dia teriak2 menghina saya sama teman saya pak. Yah saya sih mengharap keadilan saja."
"tapi tidak seharusnya kamu membalasnya demikian.." pak syamsudin komarudin menyuruh pesuruh sekolah untuk memanggil rara keruangan nya.
"namanya manusia pak." timpal bi.
Kemudian datanglah rara dan duduk disamping bi.
"keluarin aja pak.. Orang brutal kaya gini ga pantes sekolah disini." sulut rara.
"diam kamu!" hardik pak kepala sekolah. Memang pak syamsudin komarudin ini terkenal galaknya naudubillah, tapi dia juga bijaksana.
"bianca frederica, kamu tak seharusnya seperti ini.. Kamu bisa menyikapi semuanya dengan tenang.. Kamu saya skorsing 1minggu." hukumnya.
"tapi pak.. Saya baru aja masuk pak.. Masa uda di skors lagi.." sanggah bi.
"dan kamu ratih choirunisa, kamu juga bapak skors 1minggu karena telah memancing keributan." ujar nya tak peduli sanggahan bi.
"loh kok saya juga? Gak adil pak!" rara marah.
"sekarang kalian keluar, dan akan saya kirim segera suratnya.. Cepat.."
rara menghentakan kakinya, kesal. Sedangkan bi berjalan gontai.
Zora melihat bi dari parkiran sedang berjalan di lorong sekolah. Lalu berlari nyamperin bi.
"gimana gimana?" tanya zora sambil nomplok bi.
"hh.. Gue di skors nyet"
"ha? Masa?" zora kaget campur sedih.
"jangan cemberut ah, tapi gue puas. Si rara juga di skors" ujar bi menghibur.
"pasti ni anak nyari gara2 lagi nih" kata zora.
"alaaaah.. Yaudahlah.. Sabar aja. Kalo ga kapok juga ntar gue bunh buat monyet kesayangan gue ini" kata bi merangkul zora lalu berjalan keparkiran.
»»  BERSAMBUNG... >>

Minggu, 06 Maret 2011

psychotique (7)

"jangan lupa untuk kemo ya pak :) jangan abaikan kesehatan dan jangan putus asa" kata pria berjubah putih dengan stetoskop dilehernya.
Papah dan mamah bi menjabat tangan sang dokter. Lalu berjalan menuju luar.
Disana sudah ada bi dan zora yg menunggu di mobil. Zora membantu papahnya bi untuk memapah.
Lalu bi melesat meninggalkan rumah sakit.
Mamanya kurus sekali, pucat tapi tetap ada secercah harapan disana. Bi juga terlihat agak kurusan, mungkin karena kecapean dan terlalu mengkhawatirkan kondisi mamahnya sehingga dia tidak memperhatikan kondisi dirinya sendiri.

Sesampainya dirumah, bi dan papahnya memapah sang mamah menuju kamarnya, zora membantu menurunkan barang2.
Setelah semua beres, dan mamahnya bi kembali beristirahat, bi menemani zora yg duduk sendirian dipinggir kolam renang.
"woy!" katanya sambil menepuk bahu zora.
Zora hanya tersenyum manis.
"makasih banyak ya nyet, gue gatau apa yg musti gue lakuin kalo gada lo. Berkat lo gue bisa fokus jagain nyokap. Berkat lo juga gue ga ketinggalan pelajaran. Haddeeeehhh.. Baiknya sahabatku yg satu ini" katanya sambil mencubit hidung zora.
"iya iya nyong." zora tersenyum manis. "gak mungkin lah gue cuek aja sementara sahabat gue ini udah kalut ampe gak ngurus dirinya sendiri. Gue kan sayang lo bi" kata zora sambil memeluk bi dengan hangat.
"eh iya, ini juga berkat usahanya tuh cecunguk dua kali nyong" ujar zora setelah melepaskan pelukan nya.
"haha.. Iya tuh.. Dio yg nemenin gue kalo malem trus gada papah. Ucup yg demen banget bawain sup ayam jahe kerumah sakit. Haha.. Gara2 si ucup tuh gue jadi kaga masuk angin." kenang bi.
"hihi, bener banget tuh." zora cekikikan.


***


tiiin.. Tiiinnn... Suara klakson mobil dari depan rumah zora. Bi imah mengintip.
"non, itu non bi di depan rumah."
zora pamitan pada maminya lalu keluar.
"met pageeee..." zora nyengir.
"met pagi juga nona manis." kata bi melepas kacamata hitamnya.
"berangcuuut cin" zora mengarahkan tangan nya kedepan.
Mobil pun membelah jalanan kota bekasi yang padat. Menuju sekolah tercinta untuk menuntut ilmu agar menjadi anak yg berguna bagi nusa dan bangsa (gue nulis kaya gitu mau muntah, sumpah)

"ih pasangan lesbian uda masuk sekola toh" ledek rara, cewe genit menyebalkan yang selalu nyari gara2 sama zora.
Bi dan zora menghentikan langkahnya.
"maksud lo?" tanya bi.
"maksud gue?" tanya rara "maksud gue ya elo berdua" lanjutnya nyolot menunjuk kemuka bi dan zora.
Otomatis tangan nya langsung ditepis zora "heh, lo kalo ngomong dipikir dulu pake otak. Atau bibir lo mau gue jahit?!" gertak zora sedikit melotot.
"lo pikir gue takut sama lo, LESBIAN??!" ujar rara tak mau kalah.
"masalah lo apasih sama kita?" tanya bi, tenang.
"masalah gue? Ya karena ada lo berdua" rara menunjuk nunjuk bi dan zora lagi.
"yee.. Ni kunyuk satu nyolotin banget sih pagi2.." zora mulai sewot.
Sesudah zora berkata begitu, bel masuk pun berbunyi.
"awas lo istirahat" ancam rara lalu pergi meninggalkan mereka.
"ngapa sih tuh?" tanya bi, zora hanya mengangkat bahu lalu berjalan kekelas lagi.

Terdengar suara kentut menggema diseluruh penjuru SMA Mustika pertanda istirahat. Oke oke, itu bukan suara kentut. Tapi suara bel. Tapi mirip kentut. Tapi itu bel. Oh tidak,sangat mirip sekali kentut. Ya sudahlah.

"pa'e basonya satu campur." teriak zora sambil mengambil tempat.
"dua pa'e.." timpal bi. "mau minum pa nyet?"
"es jeruk anget gapake jeruk" zora nyengir.
"sekalian gapake gelas.." bi pun melengos memesan minuman.
Setelah pesanan mereka datang, zora dengan lahap memakan baso nya. Bi hanya bisa senyum senyum melihat tingkah zora yg seakan lupa kalo dirinya perempuan.
Zora menyadari, lalu mengusap muka bi dengan tangan nya "heeeh.. Makan. Kenapa sih ngeliatin gue mulu?"
"ya karena dia suka sama lo TOLOL" samber rara.
Yaelah si nenek sihir dateng lagi, ujar zora dan bi dalam hati.
" pergi lo ah, ganggu napsu makan gue aja" usir zora.
"kenapa? Mau pacaran ya?" "woooy disekolah kita ada LESBIAN NIH.. Lagi pacaran..." teriak rara dengan bacotan super toak nya.
Zora kesal, lalu menggebrak meja.
"masalah lo apa sih ama gue? JALANG!"
anak2 mulai mengerumuni mereka..
"ga demen aja gue ada lesbian disini" senyum sinis meluncur dari bibir tipis rara.
Bi masih tenang duduk di tempat duduknya sambil menuang sambel ke mangkok basonya.
Zora mau beranjak dari tempat duduknya tapi ditahan oleh bi.
"wooow.. Perhatian sekali ya lesbian lo zor.." goda rara.
Dengan tiba2, bi menyebor rara dengan isi mangkok basonya yg masih gress and hot of course.
Semua yg dari tadi mulai menyerukan jagoan masing masing sampai ada yg berteriak "go indonesia.. Go indonesia.." (oke mereka memang suka ngaco, padahal kan itu teman sekolah mereka) diam tak berkata.
Rara menjerit kepanasan.. Dada sampai perut dan pahanya basah tersiram kuah baso panas.
"pak, ni uangnya ya" bi menaruh uang 20ribuan di atas meja lalu berlenggang santai diikuti oleh zora. Ekspresi mereka datar sekali seperti tdk ada apa2, kontras dengan rara yg masih kesakitan dan kepanasan.
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 04 Maret 2011

psychotique (6)

Disebuah cafe di bekasi, duduklah seorang wanita mengenakan celana jeans ketat dan sweater merah kebesaran, rambut ikal hitam dan panjangnya di ikat ekor kuda, hanya menyisakan poni miringnya.. Membuat wanita itu makin terlihat sporty. Dia menyulut rokoknya lalu ada seorang pria menghampirinya.
"maaf ya nunggu lama zor." pria itu ternyata ucup. Dia lalu mengambil tempat tepat didepan zora.
"baru dateng kok" kata zora santai sambil terus merokok.
"kamu ngerokok?" tanya ucup.
"he'em . Mau?" tawarnya.
"boleh. Sejak kapan?" tanyanya sambil mengambil rokok yg ditawarkan.
"sejak nenek masih perawan" zora terkekeh. Ucup pun tersenyum.
"kenapa sih aku sms ga pernah dibales, aku telepon jarang diangkat?" tanya ucup serius.
"enggak apa2. Penting gitu?" zora memanggil pelayan lalu memesan minuman.
"km ga mau bertemen sama aku ya zor?" tanya ucup seusai memesan juga.
"bukan gamau cup. Gue cuma risih kalo di rese in kaya gitu."
"jadi maksud kamu aku rese?"
"yaah.. Mungkin begitu." zora mengangkat bahunya.
"aku mau coba deket sama kamu." katanya memelas.
"yaaah lo tau lah gue orangnya gimana. Gue mau aja kok. Tapi jangan gitu ya" zora tersenyum.
"ya aku janji ga rese lagi" ucup mencubit pipi zora.
"aduuh.." zora manyun.

Dari kantong jeansnya, hape zora bergetar.
"apa bi?" jawab zora mengangkat telepon.
"dimana lo?" bi tampak kebingungan.
"lagi di rock n roll cafe. Kenapa lo?" tanya zora.
"nyokap gue zor, masuk rumah sakit." bi berusaha menahan tangisnya yang mau meledak.
"hah? Masa? Dimana? Gue langsung kesana." zora terbelalak.
"gue smsin ya alamatnya." kata bi lalu menutup teleponnya.

"kenapa?" tanya ucup.
"nyokapnya bi masuk rumah sakit." kata zora panik.
"yaudah bareng aku aja. Dirumah sakit mana?" kata ucup.
Lalu hp zora bergetar lagi pertanda sms masuk.
"nih disini" zora memperlihatkan sms bi.
"yaudah yuk" ucup berdiri lalu menyelipkan uang 50 ribuan di bawah gelasnya. Lalu menyusul zora keluar cafe.
"naik mobil gue aja." kata ucup.
"nanti macet. Naek motor gue aja ya cup." timpal zora.
"yaudah tapi aku yg nyetir ya." kata ucup.
Zora lalu mengangguk dan menuju satria F150 warna hitamnya.
Ucup menitipkan mobilnya ke satpam cafe dan meminjam helm dari sang satpam.
Lalu mereka pun menaiki dan mengebut menuju rumah sakit di bilangan jakarta timur.
Di lampu merah, "zor, tolong sms dio kasih tau rumah sakitnya biar dia nyusul." kata ucup menyerahkan hp nya ke zora.
Lampu hijau menyala kemudian ucup mulai menunggangi motor dengan kecepatan penuh.
"udah smsnya?" ujar ucup setengah berteriak.
"udah nih hpnya" timpal zora setengah berteriak juga.
"pegang aja dulu." kata ucup.
Lalu zora mengantongi hpnya ucup.
Ucup menarik tangan zora agar bisa memeluknya. Zora agak canggung sepertinya. Ucup tetap memegangi tangan zora dengan tangan kirinya agar zora tetap memeluknya.

***

sesampainya dirumah sakit.
"bi gimana nyokap?" tanya zora masih mencoba mengatur napas karena berlari.
"gak tau, dokternya belom keluar." ujar bi. Mukanya pucat sekali.
Zora memeluk bi berusaha menenangkan.
"tenang ya, nyokap pasti gak apa2 kok"
tak lama dio pun datang.
"woy cup" kata dio.
"yow.." kataa ucup sambil menaruh telunjuknya dibibir pertanda jangan berisik.
"bi, gapapa kan?" tanya dio mengelus rambut bi yang sedan ada dipelukan zora.
"gak apa2.. " kata bi sambil mengusap air matanya.
Dokter pun keluar dari ruangan ICU.
"dok gimana mama saya?" tanya bi tak sabar.
"kamu keruangan saya ya, ada yg ingin saya jelaskan.
Bi mengekor meninggalkan zora, ucup dan dio.
"hmm.. Papa kamu mana?" tanya dokter sambil menaruh stetoskopnya.
"papah tadi katanya on the way dok."
tiba2 ada yang mengetuk pintu ruangan. "ya masuk" kata sang dokter.
"permisi dok.." ternyata papahnya bi.
"itu papah dok." kata bi.
"oh iya masuk pak masuk.." lalu mereka berjabat tangan.
"begini, kondisi istri bapak sangatlah mengkhawatirkan."
"kenapa dok?" papahnya pucat.
"istri bapak terkena kanker paru2. Tadi saya sudah melakukan pengecekan. Tapi harus juga menggunakan CT SCAN agar lebih jelas dan benar2 memastikan." ujar dokter.
"apa?! Kanker paru2 dok?" bi terbelalak.
"iya, besok kita lakukan ct scan ya. Mulai malem ini biar ibu ajeng dirawat disini. Silahkaan bapak dan ade mengurus biayanya ke bagian adm." kata dokter lagi.
Bi lemas bukan kepalang. Keluar dari ruangan dokter pecahlah tangisnya. Zora,ucup dan dio menghampiri.
"tolong jaga bi ya zora.. Om mau ke bagian adm dulu." tampak mata papahnya bi berkaca2.
Zora mengangguk.
"apa kata dokter?" tanya dio.
"mamah gue.. Mamah.. Katanya dia kanker paruparu.." bi terisak.
"sabar ya bi.. Mamah lo pasti sembuh kok.." ujar zora menenangkan.
Dio dan ucup pun lalu memberi semangat kepada bi.

***

pria itu menggenggam tangan seorang wanita paruh baya yg terbujur kaku penuh infus disebuah ruangan dingin. Air matanya jatuh perlahan.
Perasaannya berkecamuk tak menyangka wanita yang begitu dicintainya kini lemah tak berdaya.

***
»»  BERSAMBUNG... >>

Rabu, 02 Maret 2011

psychotique (5)

Pulang sekolah ,seperti biasa bianca dan zora menuju parkiran untuk mengambil kendaraan nya.
"zor ,gue ga bawa mobil . Bareng ya!"
"iye" jawab zora sambil menggelembungkan permen karetnya.
Tapi mereka berhenti tiba2.
"itu kan dio ya bi?" tanya zora.
"ih mampus gue, tuh anak nekat banget."
"ha?" zora masang tampang bloon.
"semalem tuh dia nelpon katanya mau jemput gue. Gak gue sangka ternyata beneran.." Jelas bi "gue gamau zor, tolongin gue yaaaa.. Please please please" mohon bi memasang wajah superduper melas.
"tenaaaang.."
zora menghampiri dio "hei.." katanya.. Bi mengekor di belakang zora.
"hei juga.." ujar dio ramah.
"ngapain lo?" tanya zora.
"tuh jemput dia" dio memonyongkan bibirnya kearah bianca.
"eh..eh.. Gue gabisa.. Maaf ya gue uda janji sama zora" tolak bi gugup.
Tampak dio kecewa, "yah.. Gabisa ya? Padahal gue pengen ngajak lo temenin gue latian band"
"iya, sorry ya.." jawab bi lagi.
"ah gapapa kok yo, lo ajak aja. Lagian gue gabisa mulangin nih si monyong satu.. Gue pengen belajar kelompok" kata zora membuat bi melotot.
"yang bener?" dio sumringah.
"yoyoy.. Yauda sana pergi duluan.. Gue mau nemuin temen gue.." kata zora senyum licik (tumbuh tanduk)
"yauda deh bye bye zora" kata dio sambil menyeret bianca.
Bianca terpaksa nurut sambil mengutuk zora dalam hati. Awas lu ya zor gue injek2 abis ini.

***

motor sport besutan tiger berwarna kuning itu berhenti disebuah rumah besar yang sudah disulap menjadi studio band.
Bi celingak celinguk kebingungan.
"masuk bi" ujar dio.
Bi pun menuruti. Mereka masuk lalu disambut oleh beberapa orang yg sedang duduk santai mengenakan seragam SMA.
"woooy kemana aja lo lama banget?" tanya cowo yg berambut emo style.
"jemput dulu" dio menaruh helmnya "guys, kenalin nih bianca panggil aja bi." dio memperkenalkan bi kepada teman2nya.
"beni.." kata cowo berambut emo tadi.
"oka.." kata yg satu lagi.
"hei.." ujar cowo selanjutnya yang ternyata adalah ucup. "zora mana?"
"loh dia pulang kali.." kata bi bingung. Apa zora sudah tidak berhubungan lagi sama ucup yah..
"duduk sini bi" kata dio memecah lamunan bi.
Mereka duduk lalu teman2 dio kembali asyik dengan kegiatan masing2.
"bete ya?" kata dio.
"ah enggak ko. Ko gak latihan?"
"masih bingung kita2." jawab dio.
"bingung kenapa?" bi mengambil minuman ringan yg telah disediakan oleh dio.
"pemain drum kita out. Dia musti direhab. Trus gabisa nemuin additional player" jelasnya.
"oooh.." bi hanya bisa ber-oh ria.
"lo bisa maen drum?" tembak dio.
"dikiiit.."
"wah? Yg bner? Bisa gue liat ga?"
bi hanya mengangkat bahunya lalu berjalan kearah drum.
"woy temen2 nih bi mau perform.." ujar dio.
Bi duduk dibelakang drum, lalu mengambil stik dan bersiap memukul2 drumnya.
Setelah mengambil napas, bi menggebuk2 drum dengan irama cepat namun teratur. Bertenaga sekali untuk ukuran cewe. Dio, oka, ucup dan beni pun berpandang2an.
"stop stop stop.." kata ucup.
"lo mau ya jadi pemain drum kita?" kata beni.
"iya teh, jadi pemain kita ja yah" timpal oka yg ternyata berlogat sunda kental.
"gue pikir2 dulu dah." kata bi cuek .

***

zora sampai dirumahnya, melongok meja makan apa ada yg bisa dimakan.
"biiii... Mamski mana?" tanyanya kepada bi minah.
"belom pulang non"
"oh yauda" zora berjalan lunglai menuju kamarnya. Mengecek hpnya siapa tau bi meng-sms, tapi ternyata tidak. Lalu dia berganti baju mengenakan celana pendek warna pink dan baju biru muda.
Merebahkan tubuhnya dan terlelap.
Zora memang hanya tinggal bertiga dengan mami dan pembantunya. Maminya bekerja siang malam membanting tulang demi menghidupi anak semata wayangnya itu..
Papi nya zora? Hmm.. Papi dan maminya zora sudah bercerai waktu zora masih berumur 2tahun. Sampai sekarang zora tidak pernah bertemu dengan papinya lagi.
Tak lama, zora sudah terlelap dengan semua kepenatannya.
»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 01 Maret 2011

psychotique (4)

Mereka duduk di foodcourt dengan santai sambil meminum minuman ringan.
Tampak zora sedang sibuk celingukan.
"yaelah santai ja kali nyet" ujar bi.
"hmm.. Ko gue rada gimanaaaa gitu ya nyong?"
"rada gimana apaan ah?" selidik bi.
"perasaan gue ga enak masa" zora masang muka serius.
"nah elo uda liat foto mereka belon?" bi masang tampang bego.
"belon." zora gak kalah begonya.
"ehm, bagoooosss.. Sahabat gue ini emang paling pinter dah" bi mengacak2 rambut zora dengan gemas.
"aaaahh.." zora menangkis tangan bi.
"ntar ni ya kalo yg dateng matanya cuma satu, bibirnya suwing, atau jalan nya ngesot gimana?"
"lebay lo nyong.. Yaaa.. Kalo ga sesuai kita ambil langkah seribu.." zora nyengir kuda.

"ehm.. Zora bukan ya?" dari belakang terdengar suara berat khas laki2. Zora dan bi menengok berbarengan.
Tampaklah 2 orang cowo yang aduhaaaiii booo..
"eh, iya gue zora." bangkit lalu menyodorkan tangan nya.
"ucup." kata cowo yg bertanya tadi.
Ebuseeet ganteng2 namanya ucup masa. Rutuk zora dalam hati.
Lalu zora menyodorkan tangan nya pada cowo yang satu lagi.
"dio." senyumnya ramah.
"gue bianca. Panggil aja bi." ucap bi tegas memecah kekakuan suasana.
"duduk duduk, mau minum apaan lo berdua?" tanya zora mempersilahkan.
Sementara ucup dan dio memesan minuman, zora mulai mengamati kedua laki2 itu.
Hmmm.. Berarti yg tadi chating sama gue pake nickname grounder tuh si ucup. Yang satu lagi temen nya.. Ganteng juga nih cowo. Botak, tegap dan putih. Keliatannya jantan banget. Yang satu lagi juga gak kalah, walaupun penampilan nya terlihat lebih santai dari si ucup.
"gue grounder." ucup mulai membuka percakapan.
"oooh iya gue zora yang tadi chat sama lo." kata zora sambil injek2an kaki dengan bi dibawah meja.
"lo sekolah dimana bi?" tanya dio yang sedaritadi diem aja.
"satu SMA sama zora." jawab bi, tentu masih sibuk injek2an dibawah meja.
Dan mereka berempat pun melanjutkan obrolan dengan asik.. Sambil sesekali diselingi tawa.

***

move shake and drop -nya pitbull berdendang dari hp nya bi. Dengan sigap bi mengangkat telepon nya lalu duduk ditempat tidur ukuran king size nya.
"bi disini ada yg bisa saya banting?" ujar bi bercanda.
"henpon lo dibanting aja nyong, biar ramai! Biar mengaduh sampai gaduh!" celoteh zora menirukan akting aktris disalah satu film.
"yee pe'ak."
"haha.. Eh eh tadi gue ngasih nomor lo ama Dio. Gapapa yaaaa?" kata zora.
"ah sumpah gila lo nyet." bi gak percaya.
"yaelah, dia yg minta bukan gue yg nyodor2in."
"ah bt ah.." bi ngambek.
"eits, ngambek gak gue kasih jatah ni.." ujar zora.
"aw aw, jangan dong sayang. Nanti aku menjanda.." timpal bi.
"weeek.. Bodo ah.. Udah ah pulsa eike abis ciiin.. Papay." ujar zora langsung menutup telepon nya.
Bi memonyongkan bibirnya, tak lama kemudian ada telepon masuk lagi, nomor tidak dikenal. Bi mengangkatnya ragu2.
"ha..halo.."
"ini bi ya?" kata orang diseberang sana.
"yoyoy, ni siapa ya?"
"ini dio.. Kok tadi telepon lo sibuk ya? Lagi teleponan?" ternyata dio yang tadi ketemuan.
"kaga, tadi zora yg nelpon gue. Ada apaan nih?" jawab bi sejutek mungkin.
"hmm. Gini mau nanya aja. Lo besok da acara ga?" tanyanya to the point.
"ga ada sih, tapi gatau juga. Kenapa gitu?"
"yaudah besok lo pulang sekolah gue jemput ya.. Oke? Yaudah deh uda dulu ya gue mau tidur. Slamat malem bi.." cerocosnya..
Belom bi menjawab bisa atau tidaknya, tuut.. Tuut.. Tuut.. Tanda telepon diseberang sana sudah ditutup.
Eh apa apaan ini cowo maen jempat jemput aja?! Emangnya gue anak TK pake jemputan segala. Rutuk bi dalam hati.

"bodo ah.." bi menarik selimutnya lalu beranjak tidur..

***

PRAAANG! Gelas jatuh dari atas meja.
"mah? Mamah kenapa?" papahnya bi terbangun dari tidurnya.
Mamah tidak menjawab, hanya memegang dadanya.. Dan kelihatan seperti tidak bisa nafas..
Papah bi dengan sigap mengambil air lalu membantu istrinya meminum obat.. Telaten sekali..
Setelah tenang, "makasih yah pah.. Tadi mamah lupa minum obat.."
"iya mah.. Makanya diperhatikan dong.." ujar papah sambil mengelus2 rambut istrinya. "mamah tidur lagi yaa" sambungnya..
Mamah bi hanya tersenyum lalu memejamkan matanya. Kembali tidur...
»»  BERSAMBUNG... >>

Yupyupyup ! Let's get started !

Hahaha.. (kalo sinterklas pasti hohoho) akhirnya gue bikin blog lagi, setelah blog yang lama dibikin trus diposting beberapa kali abis itu dicuekin.
Yah, tipe orang bosenan.
Gue janji blog ini bakalan gue jadiin tempat curhatan online gue,! Username ama passwordnya bakalan gue simpen di note hp gue! gue tulis di binder kuliah gue dan bakal gue tulis di tembok kamar gue!! (oke, yg terakhir kayaknya terlalu lebay)
Disamping apakah kepentingan gue mencurahkan seluruh perjalanan hidup gue di blog ini, gue tau nulis itu gak gampang malah bisa dikategorikan susah.. Tapi gue tetep berusaha kok buat nulis semua yang ada dipikiran gue tanpa ngebuat kalian bingung ngebacanya (mungkin ada yg gak ngambung atau apalah)
yaaah.. Intinya biarin ini berjalan sesuai alurnya (omongan orang gamau susah) haha :D
makasih kalo kalian uda sempetin berkunjung di blog ini, lebih terimakasih lagi kalo kalian follow blog gue, lebih terimakasih lagi lagi kalo kalian ikut komen n partisipasi dalam blog gue ini, lebih terimakasih lagi lagi dan lagi kalo kalian transfer pulsa atau uang ke gue (tumbuh tanduk dikepala) hihihi :p
yaudah dah, cukup sekian dan terima kasih dari gue yang sebanyak banyak nya.. Ini cuma postingan pembuka dari postingan2 seru lain nya.. Tunggu tanggal main nya aja di bioskop2 terdekat *ting
»»  BERSAMBUNG... >>

psychotique (3)

Pagi harinya dirumah Bianca, dengan tenang dia membereskan buku yang sudah dicocokkan malam harinya lalu berjalan keluar kamar dengan santai. Duduk dimeja makan bergabung dengan papah dan mamahnya.
"hari ini pulang jam berapa bi?" tanya papahnya.
"sore ya pah, soalnya mau main dulu sama zora. Gapapa kan?" jawab bianca sambil melahap nasi gorengnya.
"iya gak apa2, tapi nanti mampir ke apotik yah beliin obat mamah" kata mamahnya sambil menyodorkan resep.

Sementara sarapan dan pagi yang tenang menjadi milik bianca dan keluarganya, tidak begitu dengan zora.

"aaaaaaaa!!!! Bi imaaaahhh... Ko ga bangunin zora sih? Kesiangan nih" zora kocar kacir mengambil handuk bersiap kesekolah.
"maap neng, bibi juga kesiangan" bi imah menyembul dari balik dapur.
Zora bertarung dengan waktu, mandi seadanya, pake baju cepat-cepat, ngaca cepat-cepat lalu memasukkan semua buku yg ada di meja belajarnya. Berlari keluar kamar.
"met pagi mamski" dia mencium maminya lalu menyambar roti dan mengoleskan selai kacang kesukaan nya.
"kebiasaan kamu zor.." maminya menggelengkan kepala.
"hehe.." zora nyengir kuda.
Maminya menilik benar2 memperhatikan anak kesayangan semata wayangnya itu "ya ampun zoraaaaaa.." maminya melotot dan setengah berteriak.
"uhuk..uhuk..uhuk.." zora kaget, buru2 dia minum "apaan sih mih?!"
"itu sisir masih nyangkut dibelakang rambut kamu sayaaaaang"
zora meraba rambutnya, ternyata benar.
"hehe, mau ikut dia kesekolah mih.. Udah ah zora berangkat dulu" dia mencium tangan maminya lalu menyambar kunci motor satria F150 nya memakai helm tazmania kesayangan nya dan cabut ke sekolah dengan kecepatan penuh.

Sesampainya disekolah, bi turun dari mobilnya santai, menyapa semua temannya yang lewat. Lalu menuju kelasnya.
Jam menunjukkan hampir pukul 7, zora baru memarkir motornya berbarengan dengan bel berbunyi. Makin kalut lah zora. Kembali dia serba cepat-cepat. Turun cepat-cepat, melepas helm cepat-cepat sehingga rambutnya acak2an. Lalu dia berlari cepat2 kekelas.

"huakakakakakakak..." bi tertawa geli melihat sahabatnya datang.
Zora yang sudah bermuka usut makin kusut lagi, "ih apaan sih pake ngetawain segala"
"princess lion, itu mukanya di setrika dong kalo mau kesekolah, rambut bener2 mekar gitu."
zora merebut sisir dari teman sebangkunya, mela, yang sedang menyisir. "pinjem bentar"

tak lama kemudian, pak suryo datang dengan tergopoh-gopoh.
"selamat pagi paaaakk" anak2 serentak mengucapkan salam.
"selamat pagi nak.. Aduh, pinggang bapak sakit nih. Kita ngerjain LKS aja ya." pak suryo memegangi pinggangnya.
"emang semalem berapa ronde pak?" tanya kiting, anak jahil dikelas ipa 3. Celetukan itu disambut gemuruh tawa seisi kelas.
"mbapakmu.." ujar pak suryo. "kerjakan bab 3 sampai selesai ya,dikumpulkan".
"ssst... Gabawa pensil" bisik zora pada bi yang duduk di belakangnya.
"cuma satu" bi menjulurkan lidahnya.
Zora lalu meraih paksa pensil yang dipakai bi "kalo gitu minjem" sambil cengar-cengir.

***

akhirnya bel berbunyi tanda pulang sekolah.
Bi berjalan disamping zora menuju parkiran.
"bi, nitip ya tasnya."
"iya, kok keliatan nya banyak amat. Bawa apaan ja nyet?"
"semua buku gue bawa,hehe"
lalu mereka menuju kendaraan masing2. Didepan gerbang, mereka berhenti.
Bi membuka jendela mobilnya.
"jadi kerumah gue?" kata zora dari motornya melongok ke dalam mobil.
"jadi bos" bi mengacungkan jempolnya. Menjalankan mobilnya mendahului zora.
"neng neng, itu tuh standart motornya.." goda anak2 cowo yang sedang duduk2 di pos satpam.
"muka lo standart!" teriak zora sinis lalu menutup kaca helmnya dan melaju cepat.

***

"bi minjem modem dong" zora membuka netbooknya dan mulai menyalakan nya.
Bianca pun menyodorkan modemnya.
Zora mulai asyik berselancar didunia maya dan chating sementara bi asyik bertwitter ria dari hapenya.

"eh bi bi, sini deh..." ujar zora. Bi menghampirinya.
"ini ada cowo yg ngajak ketemuan.. Anak SMA 3.. Tapi sekarang bi.." kata zora girang.
"lo mau?" dahi bi mengernyit.
"ya kenapa enggak? Gue juga suruh dia bawa temen nya kok"
"ya terserah lo.."
lalu zora mengetikkan

oke. Foodcourt bekasi square jam 4. Bye.

Zora melogging out dan mematikan netbooknya.
»»  BERSAMBUNG... >>