Dugg!! Tangan bi menghantam tembok depan rumahnya. Dio kaget "apa apaan sih lo?" tanyanya sedikit berteriak.
Bi diam, tertunduk. Mukanya menahan amarah yang mau meledak.
"nanti biar gue yang urus" kata dio sambil bersiap ingin pergi.
"gue ikut" bi masih menunduk, suarnya bergetar.
"ga usah." lalu dio beranjak pergi.
Bi menahannya, "gue mau ikut.. Zora tuh sahabat gue.. Dia disakitin gitu trus gue nya diem aja???" bi sekuat tenaga menahan air kelemahan jatuh di pipinya.
Dio mengelus rambut bi, "lo tenang dulu.. Gue cuma mau ngeberesin yang masalah laki2nya aja.. Nanti bagian lo ada kalo lo masih ga terima.." sesudah berkata begitu dio menunggangi motornya dan melesat pergi.
Bi berjalan gontai, masuk kerumahnya. Menuju ruang keluarga dan mengambil kotak p3k.. Mengoleskan ramuan dari cina ke tangannya tadi agar tangannya tidak bengkak.
Dari atas munculah wanita cantik dengan sembab dimatanya "bii.." katanya setengah berteriak memanggil sahabatnya.
"ya?" bi menoleh keatas.
"gue mau pulang bi" sisa isaknya masih ada.
Bi berjalan menghampiri gadis itu.
"jangan, lo disini aja ya sama gue." bi tersenyum mngelus rambut sahabatnya itu. "nanti gue teleponin rumah lo.. Oke?" lanjutnya.
Zora tidak menjawab. Malah air matanya tumpah lagi. "kenapa sih bi? Kenapa? Baru sebulan gue rasain udah mau direnggut lagi.."
bi kikuk menghadapi sahabatnya, dia hanya bisa memeluk zora.
"ga ngebayangin gue bi.. Dia have sex sama rara.. Dibelakang gue bi.. Khianatin gue bi.. Kok tega ya" air mata terus bercucuran.
"dia emang berengsek zor.. Biarin aja.. Udah ya lo jangan pikirin lagi.. Nanti lo sakit.." bi berusaha menenangkan zora..
Lalu bi menuntun zora agar masuk kekamar lagi. Zora tidur dipangkuan bi yang setia mengelus kepalanya.
***
ditempat berbeda.
Dua orang pria duduk diatas motornya masing2 ditepi pantai sepi..
"gue gamau ngambil kesimpulan sendiri" kata dio sambil menyulut rokoknya.
"harus dari mana?" ucup tertunduk.
"gue cuma pengen ngasih pertanyaan yang musti lo jawab" dio perlahan berjalan menghampiri ucup dan duduk disebelahnya. "pertama.. Lo uda ptus belom sama rara sebenernya?"
ucup menjawab "udah.. Tapi dianya tetep gamau.." dio mengangkat tangannya pertanda jawabannya cukup.
"kedua.. Ko bisa uda putus tapi lo have sex sama rara?" dio melanjutkan.
"biasa.. Malem itu abis pulang latian kan gue mabok trus pulang kerumah ada dia.. Gatau kesambet setan apa ya gitu..." suaranya tertahan.
"yang terakhir.. Trus gimana sama rara sama zora?"
ucup mengusap mukanya lalu "gue gatau.." belum selesai ucup menjawab ,tiba2 bogem mentah mendarat di pipinya..
"anjing lo ya.. Lo bilang gatau?" dio berkata begitu sambil terus memukul ucup. "lo pikir mereka tuh apaan? Robot2an? Perasaan itu lo pikir apaan? Maenan?" dio tetep memukul membai buta, ucup tersungkur di pasir.. Tidak berdaya..
Dio bangkit, lalu menginjak dada ucup..
"gue bingung mau bela siapa.. Tapi lo itu emang salah.. Zora hampir gila, lo tau ga?! Hah!!"
"uhuk.. Uhuuk.." ucup batuk lalu mengelap bibirnya yang pecah. "gue tau gue salah.."
"bagus!" dio memotong lagi.. "sekarang lo pikirin.. 3hari lagi gamau tau gue, harus uda beres.. Gue gamau liat zora kaya gitu.. Jangan coba2 kabur, abis lo ama gue.." dio membesihkan tangannya lalu meninggalkan ucup yang masih terkapar di pasir pantai yang sepi.. Merenungi tentang kesalahan fatal yang dia buat sekaligus memutar otak untuk menyelesaikan ini semua.. Badannya sakit, tapi hatinya remuk.. Dia kehilangan pacar dan sahabat karena tindakan bodoh yang nikmatnya hanya beberapa jam saja.. Tapi dia juga tidak bisa lari dari tanggung jawab.. Bagaimanapun dia itu lelaki..
"aaaaaarrrrrrgggghhhh...." teriaknya mengiba.. Membuat sakit paru2, mulut dan hatinya..
»» BERSAMBUNG... >>
Bi diam, tertunduk. Mukanya menahan amarah yang mau meledak.
"nanti biar gue yang urus" kata dio sambil bersiap ingin pergi.
"gue ikut" bi masih menunduk, suarnya bergetar.
"ga usah." lalu dio beranjak pergi.
Bi menahannya, "gue mau ikut.. Zora tuh sahabat gue.. Dia disakitin gitu trus gue nya diem aja???" bi sekuat tenaga menahan air kelemahan jatuh di pipinya.
Dio mengelus rambut bi, "lo tenang dulu.. Gue cuma mau ngeberesin yang masalah laki2nya aja.. Nanti bagian lo ada kalo lo masih ga terima.." sesudah berkata begitu dio menunggangi motornya dan melesat pergi.
Bi berjalan gontai, masuk kerumahnya. Menuju ruang keluarga dan mengambil kotak p3k.. Mengoleskan ramuan dari cina ke tangannya tadi agar tangannya tidak bengkak.
Dari atas munculah wanita cantik dengan sembab dimatanya "bii.." katanya setengah berteriak memanggil sahabatnya.
"ya?" bi menoleh keatas.
"gue mau pulang bi" sisa isaknya masih ada.
Bi berjalan menghampiri gadis itu.
"jangan, lo disini aja ya sama gue." bi tersenyum mngelus rambut sahabatnya itu. "nanti gue teleponin rumah lo.. Oke?" lanjutnya.
Zora tidak menjawab. Malah air matanya tumpah lagi. "kenapa sih bi? Kenapa? Baru sebulan gue rasain udah mau direnggut lagi.."
bi kikuk menghadapi sahabatnya, dia hanya bisa memeluk zora.
"ga ngebayangin gue bi.. Dia have sex sama rara.. Dibelakang gue bi.. Khianatin gue bi.. Kok tega ya" air mata terus bercucuran.
"dia emang berengsek zor.. Biarin aja.. Udah ya lo jangan pikirin lagi.. Nanti lo sakit.." bi berusaha menenangkan zora..
Lalu bi menuntun zora agar masuk kekamar lagi. Zora tidur dipangkuan bi yang setia mengelus kepalanya.
***
ditempat berbeda.
Dua orang pria duduk diatas motornya masing2 ditepi pantai sepi..
"gue gamau ngambil kesimpulan sendiri" kata dio sambil menyulut rokoknya.
"harus dari mana?" ucup tertunduk.
"gue cuma pengen ngasih pertanyaan yang musti lo jawab" dio perlahan berjalan menghampiri ucup dan duduk disebelahnya. "pertama.. Lo uda ptus belom sama rara sebenernya?"
ucup menjawab "udah.. Tapi dianya tetep gamau.." dio mengangkat tangannya pertanda jawabannya cukup.
"kedua.. Ko bisa uda putus tapi lo have sex sama rara?" dio melanjutkan.
"biasa.. Malem itu abis pulang latian kan gue mabok trus pulang kerumah ada dia.. Gatau kesambet setan apa ya gitu..." suaranya tertahan.
"yang terakhir.. Trus gimana sama rara sama zora?"
ucup mengusap mukanya lalu "gue gatau.." belum selesai ucup menjawab ,tiba2 bogem mentah mendarat di pipinya..
"anjing lo ya.. Lo bilang gatau?" dio berkata begitu sambil terus memukul ucup. "lo pikir mereka tuh apaan? Robot2an? Perasaan itu lo pikir apaan? Maenan?" dio tetep memukul membai buta, ucup tersungkur di pasir.. Tidak berdaya..
Dio bangkit, lalu menginjak dada ucup..
"gue bingung mau bela siapa.. Tapi lo itu emang salah.. Zora hampir gila, lo tau ga?! Hah!!"
"uhuk.. Uhuuk.." ucup batuk lalu mengelap bibirnya yang pecah. "gue tau gue salah.."
"bagus!" dio memotong lagi.. "sekarang lo pikirin.. 3hari lagi gamau tau gue, harus uda beres.. Gue gamau liat zora kaya gitu.. Jangan coba2 kabur, abis lo ama gue.." dio membesihkan tangannya lalu meninggalkan ucup yang masih terkapar di pasir pantai yang sepi.. Merenungi tentang kesalahan fatal yang dia buat sekaligus memutar otak untuk menyelesaikan ini semua.. Badannya sakit, tapi hatinya remuk.. Dia kehilangan pacar dan sahabat karena tindakan bodoh yang nikmatnya hanya beberapa jam saja.. Tapi dia juga tidak bisa lari dari tanggung jawab.. Bagaimanapun dia itu lelaki..
"aaaaaarrrrrrgggghhhh...." teriaknya mengiba.. Membuat sakit paru2, mulut dan hatinya..









