Selasa, 28 Juni 2011

Psychotique (18)

"thanks ya guys uda nyempetin waktunya.. Sumpah you rocks" kata dio menutup latihan band mereka.
"santaiiii.." kata oka. "yaudah atuh, urang balik ka imah nya.. Hatur nuhun.." lanjutnya dengan gaya khas sundanya. Di ikuti yg Beni.
Akhirnya di rumah yg dijadikan studio latihan itu pun hanya tinggal Bianca dan Dio.
"lo ga balik Bi?"
"iya ini mau balik, lg nyari hp gue kemana ya.." ujar Bi yg sedang mencari2 hapenya itu.
"tumben rapi.." selidik Dio.
"ha?" Bi membalik badannya dengan tangan memegang hp.
"lo tumben pake celana pnjang. Biasanya make kolor doang" ujar Dio sambil nyengir.
"sialan lo." Bi menggeplak bahu Dio. "gue ada urusan abis ini, langsung cabs." Bi memakai sepatunya.
"mau kemana?"
"ada deeeh.. Udah ah, gue duluan ya.." Bi hendak beranjak, tapi tangannya ditahan.
"Bi..."
Bianca melepaskan tangannya risih "telat nih gue, bye.." ujar Bi sambil ngeloyor meninggalkan Dio yg masih penuh tanda tanya.


Mobil Bi melaju kencang. Bianca mengenakan kacamatanya karena langit senja yang kuning kemerahan cukup mencolok.
Dia tampak keren. Tak ada seorangpun yang menyangka kalo dia adalah seorang wanita. Hidung mancung, di tampang yg dingin, mengenakan kemeja dan celana panjang lengkap dengan sepatu sporty cukup menipu orang.


Akhirnya mobilnya berhenti di sebuah pelataran parkir lounge yg ckup terkenal di jakarta.
Bi berjalan santai masuk ke lounge itu. Sudah banyak orang karena memang hari sudah mulai gelap yg berarti sudah jam buka lounge tersebut.
Banyak lelaki berdasi yang mungkin langsung mampir dari kantornya untuk melepas penat disini.
Perempuan perempuan cantik pun banyak, sedang menikmati minumah mereka.
Bi berjalan kearah bar. Yap, dia lebih suka duduk melihat bartender beraksi sambil menikmati musik yg masih lembut mengayun.
"jhony walker single" ucap Bi.
Tipsy dari T-pain mengalun lembut, bi mengambil handphone nya lalu menelepon seseorang.
"halo Zor.. Bisa kesini?.. Ke Aphrodite bar.. Ha? Kok nggak bisa? Please.. Naik taksi aja.. Oke? Please Zor ya? Oke oke.. Yang cantik ya.." Bi lalu menutup teleponnya. Dia mulai celingukan mencari table untuk dia duduk dengan wanita specialnya.

Satu jam kemudian.
Wanita muda cantik nan eksotis menghampiri Bianca yang duduk termenung sendiri. Wanita itu tampak anggun dengan menggunakan dress ketat merah darah, dengan rambut ikal yang di gerai menambah sexy wanita itu.
"hei.. Maaf ya lama.." senyum merekah dari wanita itu..
Bianca bangun, lalu menarikkan tempat duduk untuk wanita pujaannya itu.
"udah biasa.." Bi terkekeh, lalu memesan makanan kecil dan wine untuk dinikmati bersama.
"tumben kesini? Bisa minum juga? Apa pesen orange juice lagi? Hehe" ledek Zora..
"kalo sedikit mah bisa.. Kalo ngerokok enggak deh.. Pas dulu." ujar Bi.
Zora menyulut rokoknya "so, whats going on? Tumben banget ngajak kesini."
"nothing.. Cuma pengen aja nikmatin romantis sama kamu." Bianca tersenyum. Sebenarnya Zora masih agak risih dengan perlakuan Bianca. Yah tapi ada rasa senang juga, wanita yang selama ini membuatnya nyaman ternyata juga merasakan hal yang sama.
"oke.. Its a nice place.. Biasa kesini ya?" tanya Zora lagi mencoba memecah kekakuannya.
"hmm.. Lumayanlah.." waiter mengantarkan pesanan mereka.
"Zor, i have something for you.. Yah aku harap kamu ga nolak.." ujar Bi sambil menatap zora dengan lembut di iringi lagu got your back -nya T.I featuring kerry hilson.
"apa tuh?" Zora bertanya acuh tak acuh. Bianca mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya.
Ternyata sebuah kalung berliontin batu delima merah yang cantik sekali. Bianca bangun lalu memakaikan pada zora. Zora yang masih terkejut, hanya berusaha membantu mengangkat rambut indahnya untuk mempermudah Bi.
"would you be my girlfriend?" bisik Bi ke belakang telinga Zora sambil memakaikan kalungnya.
Zora sontak beku. Darahnya berdesir kencang. Jantungnya mau lompat.
Bi merapihkan rambut Zora dengan lembut lalu kembali ke tempat duduknya sementara Zora masih terdiam.
"a.. Aku.. Aku ga tau harus bilang apa Bi. Tapi makasih banget kalungnya cantik" ujar zora gugup.
"same like you, my princess" Bi tersenyum.
"tapi apa kita bisa pacaran? Kan kita..." Zora tak bisa melanjutkan kata2nya..
"aku ga maksa kamu zor.. Tapi aku cuma minta tolong jangan pernah kamu boongin perasaan kamu.." Bi berusaha meyakinkan Zora. kata2 bi barusan membuat zora merenung..
Sekitar semenit mereka terdiam.
"i do.." kata zora pelan..
Bi tersenyum senang. "makasih zor.. Makasih banget kamu ngasih aku kesempatan.." bianca memegang tangan zora dengan erat, dan dibalas senyuman hangat oleh zora..
So beautiful night with beautiful lady and beautiful moment..
»»  BERSAMBUNG... >>

Sabtu, 25 Juni 2011

Psychotique (16)

Tiga hari sudah berlalu dari "insiden pengucapan sayang" oleh bianca kepada zora. Itu membuat mereka sedikit canggung.
Oke, bukan sedikit tapi memang benar2 kaku.
Zora dan bianca tidak ada yg berani menghubungi sahabatnya duluan karena masih takut dan belum bisa beranggapan kalau ini semua baik2 saja.
Bi menyadari rasa sayangnya kepada zora sudah terlalu berlebihan, tidak bisa dibendung lagi. Tapi, mengungkapkannya juga bukan jalan keluar malah menambah masalah baru.
Zora berpikir, dia memang sayang bianca tp selama ini masih mencoba untuk wajar2 saja agar tidak terjadi cinta terlarang, ya benar2 terlarang masa jeruk makan jeruk, diantara mereka.
Disekolah pun mereka hanya saling sapa seperlunya saja , pulang dan berangkat masing2.

Suara kucing mengeong sayup2 terdengat dari handphone milik zora yg tergeletak di meja riasnya. Zora berjalan gontai, dengan masih menggunakan seragam SMA kebangsaannya.
Ternyata sms dari bianca, dia bilang mau kerumah zora sekarang. Zora hanya membalas singkat sms dr sahabat jadi cintanya itu.


Satu jam kemudian, handphone zora berdering lagi.
"ya bi?" jawab zora malas2an.
"udah didepan rumah nih" terdengar suara dr seberang sana.
"ya ampun masuk aja sih, kayak yg org baru. Langsung ke kamar gue aja. Jangan lupa pesen minum ama bibi. Oke? Bye." tuut... Tuut.. Zora mematikan teleponnya.
Manja amat nih anak biasanya juga langsung masuk, pikir zora.
Bianca muncul depan pintu zora, sedikit canggung.
"hai zor.." sapanya.
"masuk nyong.." ujar zora berusaha se-cool mungkin. Padahal jantungnya sudah mau copot dr tempatnya.
Bianca melangkah, sangat berat. Terbayang kata2 bodoh yg dia luncurkan diruangan ini 3hari yg lalu membuat perasaannya makin amburadul.
"tumben kemari?" ujar zora memecah kebisuan.
"iya kangen sama lo nyet" bi nyengir garing.
"yaelah, kaku gitu santai aja sih."
"hmm.. Gue mau minta maaf zor.." bi tampak menunduk.
"minta maaf kenapa?" raut wajah zora mulai serius.
"ya kemarin, gue udah ngelakuin something stupid" bi masih menundukkan kepalanya.
"gapapa kok bi" senyum zora mengembang.
"tapi zor.. Semua yg gue bilang itu bener." bi mulai memberanikan diri menatap zora. "gue sayang lo.." tatapannya semakin dalam. "sayang bukan sebagai sahabat.." lanjutnya lagi membuat zora panas dingin.
"bi.." zora memotong. "lo tau kalau ini salah?"
"iya gue tau!" bi tampak kesal. "tapi apa lo tau gimana nyeseknya gue mendem perasaan zor?" nada bi mulai meninggi. "gue gabisa liat lo disakitin sama orang! Gue gabisa liat lo sedih! Gue mau lo tuh bahagia! Lo tau ga?"
zora menahan air matanya. Dia bingung benar2 bingung. Disatu sisi dia merasakan hal yang sama seperti bi, tp dia tahu ini salah.
"lo tuh goblok...." hanya kata itu yang keluar dr zora.
"kok lo malah ngatain gue goblok?" bi heran.
"udah tau salah masih aja.." lanjut zora. "lo tau apa akibatnya?"
"gue ga peduli zor, gue sayang lo.. Gue sayang monyet gue.. Gue sayang princess lion gue!!!" ujar bi menangis sambil mengguncang2 tubuh zora yg membeku.
Zora tidak tahan lagi melihat sahabatnya menangis, zora tidak tahan lagi menahan perasaannya selama ini. Dengan tiba2 dia memeluk dengan erat bianca. Sambil menangis sekencang2nya.
"gue juga sayang sama lo monyoooooong" suara manja zora keluar membuat bi pun membalas pelukannya.
"maaf zor lo harus jd gini.." ucap bi sambil mengelus rambut zora.


***


entah bagaimana nasib kedua sahabat sejenis ini mengarungi cintanya yg terlarang.. Mereka hanya bisa melepaskan semua yg ada dihati mereka selama ini.. Perasaan tak wajar.. Perasaan yg baru disadari makin menggerogoti seperti penyakit kronis..
»»  BERSAMBUNG... >>

Jumat, 24 Juni 2011

Psychotique (15)

Hari ini hari minggu. Cuaca diluar sana mendung, menambah enaknya bermalasan di balik selimut.
Pintu dibuka, seorang ibu yg walaupun sudah agak setengah tua tapi tetap cantik menggunakan make up tipis di wajahnya. Dia berjalan mendekati putri yg sedang tidur tenang di singgasananya. Sedikit menunduk dan mencium putri kecil kesayangannya.
"eh.. Mamski? Mau kemana?" tanya zora yg kaget dengan ciuman yg didaratkan di keningnya.
Mamanya pun duduk di pinggir tempat duduk anaknya. "mamski ada urusan di lombok.. Mau mengurusi launching hotel bos disana. Acaranya hari senin, jadi mams harus berangkat sekarang".
Zora duduk sambil mengucek matanya. Sebenernya sudah biasa dia ditinggal2 oleh mamski kesayangannya ini.
"hmm.. Pulangnya kapan mams?" tanya zora.
"hari rabu malam dr sana sepertinya, jadi kamis pagi sudah ada di bekasi." mamskinya membantu menaruh bantal2 ke tempatnya.
"oleh2 ya mams" kata zora sambil nyengir ke arah maminya.
"iya sayang, mau apa?" tanya maminya sambil mengelus2 rambut anaknya.
"apa aja, baju tas, papski baru juga boleh" jawab zora asal2an.
"jeh.. Ini anak ngaconya tetep aja ga ilang2." maminya pun bangkit lalu memeluk zora "berangkat dulu ya zor, jangan nakal kamu! Kasian bi imah. Kalo bianca mau nginap ajak saja. Kamu jangan menginap dirumah bianca.. Nanti ngerepotin. Mamanya kan sedang sakit2an ya.." zora hanya membentuk huruf o dengan tangannya pertanda setuju.
Setelah itu maminya pun berlalu dan pergi meninggalkan zora.

Zora mengambil hp nya dan mengetik sms dengan cepar.

***


bi mengetuk kamar zora. Tapi tak ada jawaban.
Langsung saja bi membuka pintu. Ternyata benar zora tidur lagi.
Bi mengambil ancang2 lalu lari secepatnya daaaan.... Bruk! Melompat ke tempat tidur zora lalu menabrak zora.
"huaaaaa.... Bego!" zora terpekik kaget.
"huahaha.. Lagian tidur mulu. Kebo lo nyet." bi cekikikan melihat sahabatnya yg amburadul baru bangun tidur.
"yaelah, hari minggu coy!" zora malas2an kembali.
"nih, tadi gue beli roti. Makan gih buat ganjel"
"iya ntar ah," zora lalu berusaha berdiri dan bangkit dr tempat tidurnya. Tapi kelihatannya dia masih pusing. Zora sempoyongan dan jatuh hampir menindih bi. Bi dengan sigap menangkap zora agar tak jatuh. Sekejap mereka berpandangan karena wajah mereka menjadi sangat dekat. Ada perasaan yang lain. Entah grogi atau kaget. Lima detik kemudian zora sadar lalu buru2 membenarkan posisinya.
"eh sorry" ujar zora.
"i..i..iya.." bi pun nampak kikuk.
Buru2 zora ngeloyor ke kamar mandi.

Dikamar mandi, zora menampar pipinya berulang kali.
"aduuuh apaan sih gue.. Kenapa jd deg2an gitu" rutuknya.
"ya ampun, ga boleh ga boleh.." lalu dia mencuci mukanya dan menggosok gigi. Setelah itu zora kembali menuju kamarnya. Bi sedang berdiri menghadap ke jendela. Pemandangan dr kamar zora memang bagus, dr situ bisa terlihat taman dan kolam renang yg ada di halaman belakang rumah zora.
"ngapain nyong?" tanya zora. Tapi bi diam saja.
Zora menghampiri bi.. Lalu menoleh ke muka bi dengan tampang lugu. "ada apaan sih?" tanya zora lg.
Bi hnya tersenyum. "ga ada apa2 monyet".
"zor, kita kan temenan udah lama. Menurut lo gue gimana?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dr mulut bi.. Zora yg sedang mengambil roti yg tadi dibawa oleh bi jd merasa kaget. Zora seperti kaku. Sebenarnya ini pertanyaan biasa. Tp kenapa zora jadi kaku begini.. Badannya susah digerakkan, mulutnya membisu.
"zor.. Gue sayang lo.." ucap bi tanpa menoleh ke zora membuat zora makin membeku...
»»  BERSAMBUNG... >>