seorang laki-laki tampak duduk di atas mobilnya, santai tapi tak menghilangkan raut mukanya yang kelihatan sedang menanggung beban yang banyak. Dia meminum minuman kalengnya dengan santai. menghembuskan asap rokoknya ke langit. Mungkin saat ini hanya itulah yang bisa dilakukannya.
"ngapain lo manggil gue? masih ada urusan ya?" tanya seorang lelaki yang datang menghampirinya.
dia bangkit lalu berdiri dihadapan lelaki yang menghampirinya tadi. "gue cuma mau kesempatan kedua. dan lo yang bisa ngebantu gue buat dapetin itu".
cuih, Dio meludah di depan Ucup pertanda mengejek. "lo pikir gue mau ngebantu lo? gausah mimpi brader.."
"lo tau kan gue sayang banget sama Zora?"
"heh, yang gue tau lo dulu emang suka sama Zora, tapi gue gatau ya sayang kok tapi lo malah made love sama orang laen.." Dio masih dengan gaya sengak nya.
Ucup gak habis akal, dia masih saja memohon pada mantan sahabatnya ini. "gue sayang sama Zora, gila aja kali lo. gue sama Rara itu cuma kecelakaan. beneran! gue mabok, dia malah manfaatin keadaan karena dari sebelumnya dia udah tau kalo gue lagi ngedeketin Zora."
"gue gak peduli." Dio hendak meninggalkan Ucup disana sendiri. Ucup lalu menahan tangan Dio sekuat tenaga.
"please yo, gue sama lo gak cuma setahun dua tahun sahabatan sama lo. lo tau gue, gue yakin lo kenal gue sampe ke dalem-dalem. Ini semua jujur. gue sayang Zora, tulus. gak main-main. gue cuma mau kesempatan kedua dari dia. berharap semua bakal kembali ke awal dan bakal gue jaga baik-baik." Ucup memelas. Dio sudah mulai mencair. dia memang tahu seluk beluk sahabatnya. Ucup tak akan seperti ini kalau memang dia tak benar-benar.
"jadi mau lo gimana?" Dio akhirnya menyerah. Ucup mengembangkan senyumnya.
"gue mau lo bantu gue, gue pengen Zora yakin lagi sama gue."
"si Rara gimana? udah beres?"
"hmm.. ya udah kok.. dia kayaknya uda punya gebetan yang lain. gue udah bener2 putus sama dia, dia juga udah gak pernah nuntut macem macem lagi dari gue."
Dio menghidupkan rokoknya sambil bersandar pada mobil, "oke. mulai dari mana?"
***
di tempat yang berbeda,
"halo, zor.. kamu udah makan?" suara bi dari seberang sana terdengar serak.
"udah, kamu kenapa bi? sakit ya?"
"ah enggak, cuma rada gak enak aja tenggorokannya." bianca mencoba menjawab sesantai mungkin.
"yaudah istirahat sana. jaga kesehatan." setelah berbasa basi sebelum menutup telepon, zora bangkit dari posisi awalnya ingin beranjak keluar kamar. tapi hpnya berbunyi lagi.
ya ampun, si bi masih aja telepon lagi, katanya dalam hati.
ternyata bukan Bianca yang menelepon, nomor tak dikenal.
"ha.. halo..?" angkat Zora raguragu.
"zor? belum tidur?" suara disana tampak tidak asing di telinga Zora.
"ini siapa ya?" tanya Zora.
"loh, nomor aku udah kamu hapus ya? ini aku Ucup."
ingin rasanya Zora menutup teleponnya tapi dia kaku membisu.
"zor.. Aku cuma pingin ngebuktiin aku sayang km. Bener2 sayang sama kamu. Please kasih kesempatan ya"
tut..tut..tuttt.. Telepon di putus.
Zora tetap kaku. Dia tahu ini yang benar dilakukannya. Dia terlalu takut untuk membuka masa lalu. Takut hatinya akan hancur kembali. Disamping itu dia sekarang punya malaikat yang siap menjaganya.
"sialaaan!!" rutuknya kesal.
»» BERSAMBUNG... >>
"ngapain lo manggil gue? masih ada urusan ya?" tanya seorang lelaki yang datang menghampirinya.
dia bangkit lalu berdiri dihadapan lelaki yang menghampirinya tadi. "gue cuma mau kesempatan kedua. dan lo yang bisa ngebantu gue buat dapetin itu".
cuih, Dio meludah di depan Ucup pertanda mengejek. "lo pikir gue mau ngebantu lo? gausah mimpi brader.."
"lo tau kan gue sayang banget sama Zora?"
"heh, yang gue tau lo dulu emang suka sama Zora, tapi gue gatau ya sayang kok tapi lo malah made love sama orang laen.." Dio masih dengan gaya sengak nya.
Ucup gak habis akal, dia masih saja memohon pada mantan sahabatnya ini. "gue sayang sama Zora, gila aja kali lo. gue sama Rara itu cuma kecelakaan. beneran! gue mabok, dia malah manfaatin keadaan karena dari sebelumnya dia udah tau kalo gue lagi ngedeketin Zora."
"gue gak peduli." Dio hendak meninggalkan Ucup disana sendiri. Ucup lalu menahan tangan Dio sekuat tenaga.
"please yo, gue sama lo gak cuma setahun dua tahun sahabatan sama lo. lo tau gue, gue yakin lo kenal gue sampe ke dalem-dalem. Ini semua jujur. gue sayang Zora, tulus. gak main-main. gue cuma mau kesempatan kedua dari dia. berharap semua bakal kembali ke awal dan bakal gue jaga baik-baik." Ucup memelas. Dio sudah mulai mencair. dia memang tahu seluk beluk sahabatnya. Ucup tak akan seperti ini kalau memang dia tak benar-benar.
"jadi mau lo gimana?" Dio akhirnya menyerah. Ucup mengembangkan senyumnya.
"gue mau lo bantu gue, gue pengen Zora yakin lagi sama gue."
"si Rara gimana? udah beres?"
"hmm.. ya udah kok.. dia kayaknya uda punya gebetan yang lain. gue udah bener2 putus sama dia, dia juga udah gak pernah nuntut macem macem lagi dari gue."
Dio menghidupkan rokoknya sambil bersandar pada mobil, "oke. mulai dari mana?"
***
di tempat yang berbeda,
"halo, zor.. kamu udah makan?" suara bi dari seberang sana terdengar serak.
"udah, kamu kenapa bi? sakit ya?"
"ah enggak, cuma rada gak enak aja tenggorokannya." bianca mencoba menjawab sesantai mungkin.
"yaudah istirahat sana. jaga kesehatan." setelah berbasa basi sebelum menutup telepon, zora bangkit dari posisi awalnya ingin beranjak keluar kamar. tapi hpnya berbunyi lagi.
ya ampun, si bi masih aja telepon lagi, katanya dalam hati.
ternyata bukan Bianca yang menelepon, nomor tak dikenal.
"ha.. halo..?" angkat Zora raguragu.
"zor? belum tidur?" suara disana tampak tidak asing di telinga Zora.
"ini siapa ya?" tanya Zora.
"loh, nomor aku udah kamu hapus ya? ini aku Ucup."
ingin rasanya Zora menutup teleponnya tapi dia kaku membisu.
"zor.. Aku cuma pingin ngebuktiin aku sayang km. Bener2 sayang sama kamu. Please kasih kesempatan ya"
tut..tut..tuttt.. Telepon di putus.
Zora tetap kaku. Dia tahu ini yang benar dilakukannya. Dia terlalu takut untuk membuka masa lalu. Takut hatinya akan hancur kembali. Disamping itu dia sekarang punya malaikat yang siap menjaganya.
"sialaaan!!" rutuknya kesal.

