Rabu, 10 Agustus 2011

psychotique (20)

seorang laki-laki tampak duduk di atas mobilnya, santai tapi tak menghilangkan raut mukanya yang kelihatan sedang menanggung beban yang banyak. Dia meminum minuman kalengnya dengan santai. menghembuskan asap rokoknya ke langit. Mungkin saat ini hanya itulah yang bisa dilakukannya.
"ngapain lo manggil gue? masih ada urusan ya?" tanya seorang lelaki yang datang menghampirinya.
dia bangkit lalu berdiri dihadapan lelaki yang menghampirinya tadi. "gue cuma mau kesempatan kedua. dan lo yang bisa ngebantu gue buat dapetin itu".
cuih, Dio meludah di depan Ucup pertanda mengejek. "lo pikir gue mau ngebantu lo? gausah mimpi brader.."
"lo tau kan gue sayang banget sama Zora?"
"heh, yang gue tau lo dulu emang suka sama Zora, tapi gue gatau ya sayang kok tapi lo malah made love sama orang laen.." Dio masih dengan gaya sengak nya.
Ucup gak habis akal, dia masih saja memohon pada mantan sahabatnya ini. "gue sayang sama Zora, gila aja kali lo. gue sama Rara itu cuma kecelakaan. beneran! gue mabok, dia malah manfaatin keadaan karena dari sebelumnya dia udah tau kalo gue lagi ngedeketin Zora."
"gue gak peduli." Dio hendak meninggalkan Ucup disana sendiri. Ucup lalu menahan tangan Dio sekuat tenaga.
"please yo, gue sama lo gak cuma setahun dua tahun sahabatan sama lo. lo tau gue, gue yakin lo kenal gue sampe ke dalem-dalem. Ini semua jujur. gue sayang Zora, tulus. gak main-main. gue cuma mau kesempatan kedua dari dia. berharap semua bakal kembali ke awal dan bakal gue jaga baik-baik." Ucup memelas. Dio sudah mulai mencair. dia memang tahu seluk beluk sahabatnya. Ucup tak akan seperti ini kalau memang dia tak benar-benar.
"jadi mau lo gimana?" Dio akhirnya menyerah. Ucup mengembangkan senyumnya.
"gue mau lo bantu gue, gue pengen Zora yakin lagi sama gue."
"si Rara gimana? udah beres?"
"hmm.. ya udah kok.. dia kayaknya uda punya gebetan yang lain. gue udah bener2 putus sama dia, dia juga udah gak pernah nuntut macem macem lagi dari gue."
Dio menghidupkan rokoknya sambil bersandar pada mobil, "oke. mulai dari mana?"

***

di tempat yang berbeda,
"halo, zor.. kamu udah makan?" suara bi dari seberang sana terdengar serak.
"udah, kamu kenapa bi? sakit ya?"
"ah enggak, cuma rada gak enak aja tenggorokannya." bianca mencoba menjawab sesantai mungkin.
"yaudah istirahat sana. jaga kesehatan." setelah berbasa basi sebelum menutup telepon, zora bangkit dari posisi awalnya ingin beranjak keluar kamar. tapi hpnya berbunyi lagi.
ya ampun, si bi masih aja telepon lagi, katanya dalam hati.
ternyata bukan Bianca yang menelepon, nomor tak dikenal.
"ha.. halo..?" angkat Zora raguragu.
"zor? belum tidur?" suara disana tampak tidak asing di telinga Zora.
"ini siapa ya?" tanya Zora.
"loh, nomor aku udah kamu hapus ya? ini aku Ucup."
ingin rasanya Zora menutup teleponnya tapi dia kaku membisu.
"zor.. Aku cuma pingin ngebuktiin aku sayang km. Bener2 sayang sama kamu. Please kasih kesempatan ya"
tut..tut..tuttt.. Telepon di putus.
Zora tetap kaku. Dia tahu ini yang benar dilakukannya. Dia terlalu takut untuk membuka masa lalu. Takut hatinya akan hancur kembali. Disamping itu dia sekarang punya malaikat yang siap menjaganya.
"sialaaan!!" rutuknya kesal.


»»  BERSAMBUNG... >>

Selasa, 02 Agustus 2011

psychotique (19)

Zora bangun dr tidurnya. Badannya seakan remuk. Dia ingat semalam ternyata dia mabuk.
Kamar ini, kamar yang tak asing. Sudah sering dia menghabiskan wktu disini. Matanya yang masih belum terbuka sempurna mulai menyapu kesuluruh sudut kamar. Didapatinya bianca yang sedang duduk di balkon kamarnya. Duduk tenang, memetik gitar. Ditemani kopi hangat di pagi hari yg dingin.

Zora mulai mendudukkan dirinya,kepalanya sedikit pusing tapi dia masih bisa menahannya.
"bii..." panggilnya mnja.
Bianca bangkit lalu menghampiri bidadarinya.
"ini, ganti baju. Aku semalem gabisa gantiin km baju." sweater hitam besar dan hot pants telah disiapkan.
Zora berdiri dibantu bi,lalu ke ruang ganti baju.
Setelah selesai, dia mengambil hot cappucinno di meja yg telah disediakan untuknya.
Berjalan menghampiri bianca yg telah duduk di tempatnya semula.
"mama mana bi?" tanya zora.
"mama sekarang kan di puncak zor, sama papa. Lg liburan. Dia abis dr singapur. Coba buat nyembuhin penyakitnya. Kata dokter dia gaboleh terlalu stress. So, papa ngajak kesana." bi menyeruput kopinya.
Zora menyalakan rokoknya, "get well soon for your mama"
"i hope so" ujar bianca berdiri, lalu memberi zora kecupan mesra di kening.

Suara motor besar menggema. Bi dan zora melempar pandangan ke jalanan. Motor itu berhenti tepat di depan rumah bianca. Dengan cepat bianca menarik zora ke dalam agar tidak terlihat oleh sang manusia di depan sana.
"ucup, ngapain dia?" ujar bi masih tetap memegangi tubuh zora.
Zora menegang, lidahnya kelu. "kamu duduk disini ya zor. Aku aja ya yang ngadepin dia. Tenang ya km" zora masih terdiam menurut.
Bianca menutup pintu balkon kamarnya dan berjalan santai keluar.

***

"ngapain lo kesini?" ujar bi setelah membukakan pintu.
"lo tau zora dmn?" tanya ucup terburu2.
"gatau. Ngapain lg nyari zora?"
"gausah boong lo bi.. Gue tau lo pasti tau zora dimana." ujar ucup setengah memaksa.
Bianca mendekat pada ucup, lalu berbisik "gue.. Bilang... Gatau... BANGSAT!"
ucup terdiam sesaat.
"gue tau lo, zora, semuanya masih belom bisa maafin gue. Tapi gue itu mau nyelesein semua masalah yang udah gue buat"
"gausah. Udah kelar. Skrang lo pergi aja. Ga ada waktu buat lo. Dan inget satu lagi, kalo lo masih ganggu zora, gue pastiin lo bakal ngadepin gue." bia berkata begitu sambil ngeloyor masuk kedalam rumah.

***

Bi kembali ke kamarnya. Melihat zora masih terdiam disana.
"kamu gak apa2 kan zor?" tanya bi khawatir.
"ucup bilang apa?" zora bertanya dengan tatapan kosong.
"itu gak penting buat kamu." bianca berusaha menyembunyikan semuanya.
"itu penting bi.. Penting.." zora mulai panik.
"apasih kamu? Segitu penasarannya.. Masih ada perasaan sama dia?" bianca marah, zora terdiam. Lalu duduk kmbali.
Bianca beranjak pergi meninggalkan zora, "aku ke bawah dulu siapin sarapan."

zora duduk, kenangan kenangan masa lalu yang pahit kembali diingatnya. Air mata mulai berjatuhan. Hatinya kembali bergetar. Tak ingin berada di posisi itu lagi. Dia takut.. Tapi dia pun tak yakin yang dilakukannya sekarang ini apa akan membawa kebahagiaan pada dirinya atau malah sebaliknya.
Di lain tempat, bi sebenarnya menahan perasaan yang berkecamuk. Dia takut bidadarinya akan disakiti kembali dan dia takut akan kehilangan bidadari kecilnya itu. Dia akan mati2an menolak kenyataan kalo memang itu yang terjadi. Perasaan takut, bersalah, kesal dan lain2 pun jadi satu. Haruskah dia kembali berjuang mempertahankan apa yang sudah dimilikinya skrg? Atau dia harus merelakan hal yang saat ini paling berharga demi sebuah kenormalan sosial?
»»  BERSAMBUNG... >>