Kamis, 29 September 2011

psychotique (23)

Jantung Bianca dan Zora berpacu dengan cepat, melihat sepasang bola mata wanita setengah baya itu mekihat mereka berciuman dengan mesra. Entah apa yang akan dilakukan mereka. Dunia rasanya hancur dan mereka pun membeku.
"maaf neng.." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut bi Imah. Pucat wajahnya tak bisa disembunyikan. lalu dia kemudian menutup pintunya dan kembali ke dapur dengan perasaan yang campur aduk.
Bianca tersadar, "Gimana ini?" tanyanya pada Zora yang masih diam.
"a..aku gatau Bi.." Zora menutup mukanya membayangkan kalau Bi Imah akan mengadukan ini kepada maminya.. dia takut sekali. Takut maminya marah. Takut kehilangan Bianca.

"yaudah sebentar ya.. aku mau ngomongin sama Bi Imah.." Bianca sadar ini harus diselesaikan.
"tapi Bi.." Zora berusaha melarang.
"Tenang aja, aku cuma mau omongin kok.. kamu mau ikut?" tanya Bianca. Zora hanya mengangguk dan mengekor langkahnya Bianca.

Didapur,
"Bi..." Zora memanggil bi Imah yang sedang sibuk memasak.
"Iya non?" Bi Imah kelihatan sekali sedang menguasai perasaannya.
"masalah yang tadi bi, hmm.. anu.." Sambung Bianca.
"hmm.. Bibi gapapa Non, maaf tadi Bibi masuknya maen nyelonong aja, gak ngetok pintu dulu." Jawab wanita paruh baya itu gugup.
"Enggak, aku disini mau minta maaf bi. Bibi jadi gak nyaman ngeliat yang tadi.. beneran aku minta maaf ya bi.." kata Bianca. sedangkan Zora terdiam dibelakang tubuh Bianca.
"Iya non, Bibi yang harusnya minta maaff bukannya Non. aduh gimana ya.. hmm.. Bibi sih cuma mau nanya aja, apa kalian? hmm..anu.." kata Bi Imah kikuk.
"iya Bi, kita saling sayang" Bianca mengiyakan.
"tapi bibi jangan bilang sama mamski ya?" Akhirnya Zora membuka suara juga. jujur dia sangat takut kalau nanti bi Imah mengadu semua ini kepada maminya.
Bi imah berjalan mendekati Zora yang sedang panik, lalu memeluk anak majikan kesayangannya itu. "Iya Non Zora.. bibi gak bakal bilang.. bibi gak mau non dimarahin sama nyonya.. sebenernya bibi masih gak percaya. tapi bibi seneng kok kalau non Zora juga seneng." Zora membalas pelukan Bibi yang telah menemaninya dari dia masih orok dulu. hangat. hanya dialah perempuan yang bisa mengerti bagaimana perasaan terlarang dalam hatinya ini.

***

my all - mariah carey mengalun dari handphone Zora. "halo?"
"zor, kamu dimana? kok gak sekolah?" tanya lelaki di seberang sana.
"hah? siapa ini?" tanya Zora bingung.
"Ucup" kontan muka Zora langsung pucat. ditambah ada Bianca di sampingnya.
"Dimana aja boleh." Zora langsung mematikan teleponnya.
Bianca bingung melihat tingkah Zora. "siapa sayang?" tanyanya santai.
"ah, itu gak tau.."
"kok gak tau?" Bianca mengernyitkan dahinya.
"iya, abis iseng banget nanya dimana. takut suruhan Pak guru." jawabnya asal.
"hahaha.. parno deh. makanya jangan suka bolos sekolah. bentar lagi udah mau ujian nasionak juga. jadi anak tuh yang rajin." Bianca mengeluarkan jurus seribu khotbah nya.
"bawel deh, kamu juga kan ikutan bolos Bi.." Zora mencubit hidung Bianca gemas.
"adooooh.. sakit tau.. ya ini kan gara2 kamu. aku mah aslinya rajin weeee.."
Zora menjulurkan lidahnya. lalu diam diam menonaktifkan hp nya. takut Ucup meneleponnya lagi.
»»  BERSAMBUNG... >>

Kamis, 22 September 2011

psychotique (22)



Di depan rumah Zora, Bianca sudah siap dengan mobilnya dan dandanan khas cewek tomboy, kaos dipadu celana jeans ketat.
"eh uda ganteng pacal akoooh" Zora menyambut sambil mencubit pipi Bi.. "mau kemana kita?" tanya Zora.
"kita ke GOR makan cimol." ucap Bi sambil masuk mobil.
Zora cemberut, masa iya uda pake dress begini, udah oke begini cuma mau diajak ke GOR makan cimol doang lagi..
"sayaaaaaang, masa cuma mau ke GOR makan cimol siiiiihhh???" Zora memonyongkan bibirnya, disambut tangan Bi meraup bibirnya Zora
"itu bibir biasa aja dong. hahaha.. ya abis kamunya mendadak banget sih ah. sekali sekali makan cimol" ledek Bianca.
"ya boleh aja, tapi harusnya bilang dari tadi looooh.. ini aku uda pake dress, ntar digodain ama mas mas tengil disana duduuuul.."
"tenang ada aku" Bianca masih dengan gaya coolnya, melajukan mobilnya.


***


Benar-benar Bi mengajak Zora ke gelanggang olah raga. Bi memarkirkan kendaraannya di samping tukang makanan.
"aku belum sarapan, makan lontong sayur dulu ya." ucap Bi sambil beres2 turun dari mobil.
Zora masih dengan pose memonyongkan bibirnya. "sayaaang, tega amat sih. makannya di mobil aja ya"
"idih, ntar bau makanan. ogah ah." Bi membuka pintu mobilnya. Zora masih tak bergeming. "gak mau turun? mau aku kunciin? yaudah.." Bi mengancam.
"aaah, iya iya turun" Zora buru buru turun dari mobilnya.
mereka duduk di warung tenda yang menjual lontong sayur. "kamu mau Zor?" tawar Bi.
"eh enggak, aku minum aja." Zora masih risih karena ini masih pagi, banyak yang masih berlari pagi di gor sana. dan ini kostumnya sama sekali menyimpang.
"yaudah bu satu aja, minumnya dua." Bianca stay cool memainkan handphonenya.
"bi, ini aku diliatin." Zora berbisik smbil menarik tangan Bianca.
"yaudah liatin balik." jawab Bi asal yang langsung ditimpali cubitan di pinggangnya. lumayan, membuatnya sedikit meringis.

***


Dtempat berbeda,
"Lo langsung nelepon Zora ya?" tanya Dio pada Ucup di studio bandnya.
"iya, Zora cerita?"
Dio menghembuskan asap rokoknya "yaiyalah dia cerita sama gue. lo tuh gegabah banget ya.. lo gatau apa itu hatinya Zora kayak apa dulu ? dia itu lagi ngebangun moodnya, ngebangun lagi hatinya yang uda lo hancurin. lo gabisa lah tiba2 telepon terus langsung bilang mau ngajak balikan. seenggaknya lo ngerti lah sakitnya dia tuh kayak apa. kalau dia emang langsung nolak lo mentah mentah ya gue gak heran."
Ucup menaruh gitarnya, "sumpah ya Yo, gue emang dari dulu itu ga ngert gimana caranya ngadepin cewe. ditambah ini cewe yang gue sayang banget. gue jadi out of control. gue suka ngelakuin yang akhirnya tuh bisa ngebuat gue tampak bego depan dia." Ucup pun menyalakan rokoknya.
"ya lo uda tau begitu di pikir dulu dong sebelum bertindak. Zora itu bukan cewe biasa lagi. dia cewe yang uda lo sakitin. so, bakalan gak gampang banget kalo tiba2 lo dateng minta maaf dan berharap bisa milikin hati dia lagi." Dio tetap sabar walaupun dia emosi melihat sahabatnya yang bego.
"so?" Ucup memasang tampang blo'on nya.
"sontoooool" ujar Dio depan muka Ucup dengan kesal. "au ah" kemudian Dio meninggalkan Ucup sendirian.
"halo Bi, dimana?" Dio menelepon Bianca.
"dimana mana hatiku senang. haha.." jawab bianca asal.
"jah, ditanya jawabnya konyol" ujar Dio, dia masih kesal sama Ucup.
"ah elah rempong lo. gue dimana kek bukan urusan lo." Bianca ikutan kesal.
"nah loh, kok jadi kesel?" Dio sadar kalau temannya itu marah. "hayoooh lagi dapet ya?" goda Dio.
Bianca yang lagi kesal karena Zora dari tadi mengganggu makannya sambil mengajak cepat pulang dari GOR merasa lega karena ada sasaran yang bisa dijadikan pelampiasan. "auah! ngapa si lo nelepon gue? lagi sibuk nih gue.."
"wetsweys, iya deh sorry" Dio jadi tak enak "yaudah deh lanjutin lagi ya, ntar gue telepon lagi kalo uda gak sibuk." tuut..tuuut... telepon langsung dimatikan oleh Bianca.
ya ampuuun, galak banget sih ini cewek , pikir Dio.
setelah mematikan telepon dari Dio, Bianca langsung menghadap Zora yang masih saja cemberut. "ya ampun sayang, kamu maunya apasih ya?" Bianca mencoba sabar.
"pulang..." Zora merengek.
"tapi aku belom habis makannya, katanya tadi mau jalan, udah aku ajak jalan masa mau pulang?"
"bodo" jawab Zora tak perduli. Bianca menghela nafas panjaaaaang, kemudian berjalan ke arah ibu2 pedagang sambil mengeluarkan uang untuk membayar.
"yuk pulang" ujar Bi.
Zora bangkit lalu masuk kedalam mobil. Bianca tampak kesal, dia diam saja di mobil.
Zora merasa tak nyaman sekali dengan kondisi ini.
"ih Bi kamu kok diem aja sih?"
"apa?" jawab Bianca singkat."
"kamu kenapa?" tanya Zora lagi.
"gak apa2" jawab Bi masih tetap singkat.
Zora ikut terdiam. akhirnya mereka diam2an. suasana hening karena mereka diam2an.
setelah sampai rumah, Bi memarkir mobilnya, Zora sudah terlebih dulu masuk.
Bianca berjalan ke kamarnya Zora. disana Zora terduduk di tempat tidur. Bianca menutup kamar lalu berjalan pelan kearah Zora.
"harusnya bukan aku yang ditanya kenapa sayang, tapi kamu.. kamu kenapa? aku tuh ngerasa kamu gelisah,, gak tenang.. apa ada yang ngeganggu kamu? cerita sama aku.. aku gak bisa tau kalau kamu cuma ambek2an kayak gini aja.." Bianca berkata dengan halus, sambil berdiri di depan Zora yang sedang terduduk. Bianca mengelus rambut Zora.
"aku gak apa apa kok.." jawab Zora singkat.
"kalau kamu belom mau cerita ya gak apa apa. aku tunggu sampai kamu siap buat cerita. aku disini bukan patung loh yang gak bisa ngerasain kegelisahan kamu.." zora berdiri menyeimbangi Bianca..
Bianca mengelus pipi Zora, kemudian menarik lembut mendekatkan wajah Zora pada wajahnya dan mengecup bibir Zora yang merah.
Pintu terbuka, muncul Bi Imah.yang kaget setengah mati melihat Bianca dan Zora berciuman.
"neng....." ujar Bi Imah terputus
»»  BERSAMBUNG... >>

Psychotique (21)





Matahari seperti biasa menunjukkan kecerahannya di pagi hari. Zora menggeliat malas di tempat tidurnya, mengucek matanya lalu mengambil handphone nya.
kok hp nya mati, tanyanya dalam hati. Kemudian dia baru ingat semalam Ucup menelponnya. Beberapa saat setelah handphonenya dinyalakan, masuklah sms sms yang tak lain dan tak bukan adalah dari Ucup. tiba-tiba handphonenya berdering, ahh dari bi
"halo bi?" jawab Zora.
"Kemana aja sih hp semaleman mati?! tumben-tumbenan." Bi merutuk.
Zora gugup, dia tak mau jujur tentang Ucup. Kondisi Bi juga sedang tak enak badan. "Iya, itu hp aku low ternyata sayang. ini aja sambil dicharger. pagi-pagi jangan marah dong."
"Yah lagian kamu bikin khawatir aja sih. biasanya juga kalo mau matiin hp bilang dulu" Bi sepertinya masih kesal.
"eeeeh, marah yaaaa.." Zora tak mau kalah, malah bicara dengan mengancam.
"Ya enggak, kesel ajaaaa.." Bi menyerah, kalau dia marah pasti Zora malah bakal ngambek. "Yaudah mau dijemput jam berapa kamu?" tanya Bianca lagi,
"aku males sekolah ah." sebenarnya Zora hanyalah takut kalau kalau Ucup datang kesekolah.
"Nah loh kok bisa begitu? terus mau kemana km?"
Zora berpikir keras, "yaaa.. kemana kek.." hanya itulah yang bisa keluar dari mulutnya hasil berpikir keras tadi.
"Udah deh masuk aja ya" Paksa Bianca.
"Ih gak mau !" Zora merajuk.
"yaudah yaudah, jam 8 aku jemput kamu ya sayang, sambil aku pikirin mau kemana."
Zora menghela nafas. "oke baby"
telepon ditutup.
ya ampun ya ampuuuuun, ini gimana coba jadinya?! bisa jadi perang kalau begini... musti gimana niiihhhh. Zora panik sendiri. dia teringat Dio, ya Dio pasti bisa membantunya.
Zora sibuk memainkan jempolnya mencari nomor telepon Dio. kemudian,
"halo, yooooooo!!!! heeeelllppp"
"eh buset, lo kenapa Zor? pagi pagi rusuh deh" Dio masih dengan suara serak-serak bangun tidur.
"lo baru bangun ya?!" tanya Zora.
"Iya, dan gue dibangunin orang lagi kesetanan. kenapa sih lo?" tanya Dio.
"lo tau gak sih yo? semalem tuh Ucup telepon gue. yaa ampun nightmare banget gue." Zora masih panik. Dio yang sudah tahu diam seribu bahasa.
"yo? kok lo diem? kaget kan? sama gue juga.. gimana ini?! Bianca tau bisa abis tuh Ucup." sambung Zora lagi.
"mungkin dia mau minta maaf kali Zor?" ucap Dio.
"Dia bilang mau balik lagi sama gue, Yo."
"Terus lo mau gak?" tanya Dio.
"Ya enggak lah, gue kan udah ada bi....." ups, Zora keceplosan. "gue kan udah bilang maksudnya."
"oh, beneran jadi lo gamau balikan sama Ucup.?" tanya Dio sekali lagi membuat Zora curiga.
"kok gue ngerasa lo belain Ucup ya Yo? disuap apa lo sama dia?"
"gue gak belain dia Zor, tapi gue cuma kenal dia siapa.." Zora makin gak ngerti.. "gue rasa lo musti ngomong sama dia deh Zor.."
"ah, ngomong sama lo tuh ga ada jalan keluarnya!'' Zora kesal lalu menutup teleponnya.
apa musti masalah ini dia yang selesaikan sendirian?
zora memutar otaknya keras.

***
»»  BERSAMBUNG... >>