Kamis, 22 September 2011
psychotique (22)
Di depan rumah Zora, Bianca sudah siap dengan mobilnya dan dandanan khas cewek tomboy, kaos dipadu celana jeans ketat.
"eh uda ganteng pacal akoooh" Zora menyambut sambil mencubit pipi Bi.. "mau kemana kita?" tanya Zora.
"kita ke GOR makan cimol." ucap Bi sambil masuk mobil.
Zora cemberut, masa iya uda pake dress begini, udah oke begini cuma mau diajak ke GOR makan cimol doang lagi..
"sayaaaaaang, masa cuma mau ke GOR makan cimol siiiiihhh???" Zora memonyongkan bibirnya, disambut tangan Bi meraup bibirnya Zora
"itu bibir biasa aja dong. hahaha.. ya abis kamunya mendadak banget sih ah. sekali sekali makan cimol" ledek Bianca.
"ya boleh aja, tapi harusnya bilang dari tadi looooh.. ini aku uda pake dress, ntar digodain ama mas mas tengil disana duduuuul.."
"tenang ada aku" Bianca masih dengan gaya coolnya, melajukan mobilnya.
***
Benar-benar Bi mengajak Zora ke gelanggang olah raga. Bi memarkirkan kendaraannya di samping tukang makanan.
"aku belum sarapan, makan lontong sayur dulu ya." ucap Bi sambil beres2 turun dari mobil.
Zora masih dengan pose memonyongkan bibirnya. "sayaaang, tega amat sih. makannya di mobil aja ya"
"idih, ntar bau makanan. ogah ah." Bi membuka pintu mobilnya. Zora masih tak bergeming. "gak mau turun? mau aku kunciin? yaudah.." Bi mengancam.
"aaah, iya iya turun" Zora buru buru turun dari mobilnya.
mereka duduk di warung tenda yang menjual lontong sayur. "kamu mau Zor?" tawar Bi.
"eh enggak, aku minum aja." Zora masih risih karena ini masih pagi, banyak yang masih berlari pagi di gor sana. dan ini kostumnya sama sekali menyimpang.
"yaudah bu satu aja, minumnya dua." Bianca stay cool memainkan handphonenya.
"bi, ini aku diliatin." Zora berbisik smbil menarik tangan Bianca.
"yaudah liatin balik." jawab Bi asal yang langsung ditimpali cubitan di pinggangnya. lumayan, membuatnya sedikit meringis.
***
Dtempat berbeda,
"Lo langsung nelepon Zora ya?" tanya Dio pada Ucup di studio bandnya.
"iya, Zora cerita?"
Dio menghembuskan asap rokoknya "yaiyalah dia cerita sama gue. lo tuh gegabah banget ya.. lo gatau apa itu hatinya Zora kayak apa dulu ? dia itu lagi ngebangun moodnya, ngebangun lagi hatinya yang uda lo hancurin. lo gabisa lah tiba2 telepon terus langsung bilang mau ngajak balikan. seenggaknya lo ngerti lah sakitnya dia tuh kayak apa. kalau dia emang langsung nolak lo mentah mentah ya gue gak heran."
Ucup menaruh gitarnya, "sumpah ya Yo, gue emang dari dulu itu ga ngert gimana caranya ngadepin cewe. ditambah ini cewe yang gue sayang banget. gue jadi out of control. gue suka ngelakuin yang akhirnya tuh bisa ngebuat gue tampak bego depan dia." Ucup pun menyalakan rokoknya.
"ya lo uda tau begitu di pikir dulu dong sebelum bertindak. Zora itu bukan cewe biasa lagi. dia cewe yang uda lo sakitin. so, bakalan gak gampang banget kalo tiba2 lo dateng minta maaf dan berharap bisa milikin hati dia lagi." Dio tetap sabar walaupun dia emosi melihat sahabatnya yang bego.
"so?" Ucup memasang tampang blo'on nya.
"sontoooool" ujar Dio depan muka Ucup dengan kesal. "au ah" kemudian Dio meninggalkan Ucup sendirian.
"halo Bi, dimana?" Dio menelepon Bianca.
"dimana mana hatiku senang. haha.." jawab bianca asal.
"jah, ditanya jawabnya konyol" ujar Dio, dia masih kesal sama Ucup.
"ah elah rempong lo. gue dimana kek bukan urusan lo." Bianca ikutan kesal.
"nah loh, kok jadi kesel?" Dio sadar kalau temannya itu marah. "hayoooh lagi dapet ya?" goda Dio.
Bianca yang lagi kesal karena Zora dari tadi mengganggu makannya sambil mengajak cepat pulang dari GOR merasa lega karena ada sasaran yang bisa dijadikan pelampiasan. "auah! ngapa si lo nelepon gue? lagi sibuk nih gue.."
"wetsweys, iya deh sorry" Dio jadi tak enak "yaudah deh lanjutin lagi ya, ntar gue telepon lagi kalo uda gak sibuk." tuut..tuuut... telepon langsung dimatikan oleh Bianca.
ya ampuuun, galak banget sih ini cewek , pikir Dio.
setelah mematikan telepon dari Dio, Bianca langsung menghadap Zora yang masih saja cemberut. "ya ampun sayang, kamu maunya apasih ya?" Bianca mencoba sabar.
"pulang..." Zora merengek.
"tapi aku belom habis makannya, katanya tadi mau jalan, udah aku ajak jalan masa mau pulang?"
"bodo" jawab Zora tak perduli. Bianca menghela nafas panjaaaaang, kemudian berjalan ke arah ibu2 pedagang sambil mengeluarkan uang untuk membayar.
"yuk pulang" ujar Bi.
Zora bangkit lalu masuk kedalam mobil. Bianca tampak kesal, dia diam saja di mobil.
Zora merasa tak nyaman sekali dengan kondisi ini.
"ih Bi kamu kok diem aja sih?"
"apa?" jawab Bianca singkat."
"kamu kenapa?" tanya Zora lagi.
"gak apa2" jawab Bi masih tetap singkat.
Zora ikut terdiam. akhirnya mereka diam2an. suasana hening karena mereka diam2an.
setelah sampai rumah, Bi memarkir mobilnya, Zora sudah terlebih dulu masuk.
Bianca berjalan ke kamarnya Zora. disana Zora terduduk di tempat tidur. Bianca menutup kamar lalu berjalan pelan kearah Zora.
"harusnya bukan aku yang ditanya kenapa sayang, tapi kamu.. kamu kenapa? aku tuh ngerasa kamu gelisah,, gak tenang.. apa ada yang ngeganggu kamu? cerita sama aku.. aku gak bisa tau kalau kamu cuma ambek2an kayak gini aja.." Bianca berkata dengan halus, sambil berdiri di depan Zora yang sedang terduduk. Bianca mengelus rambut Zora.
"aku gak apa apa kok.." jawab Zora singkat.
"kalau kamu belom mau cerita ya gak apa apa. aku tunggu sampai kamu siap buat cerita. aku disini bukan patung loh yang gak bisa ngerasain kegelisahan kamu.." zora berdiri menyeimbangi Bianca..
Bianca mengelus pipi Zora, kemudian menarik lembut mendekatkan wajah Zora pada wajahnya dan mengecup bibir Zora yang merah.
Pintu terbuka, muncul Bi Imah.yang kaget setengah mati melihat Bianca dan Zora berciuman.
"neng....." ujar Bi Imah terputus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar