Jantung Bianca dan Zora berpacu dengan cepat, melihat sepasang bola mata wanita setengah baya itu mekihat mereka berciuman dengan mesra. Entah apa yang akan dilakukan mereka. Dunia rasanya hancur dan mereka pun membeku.
"maaf neng.." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut bi Imah. Pucat wajahnya tak bisa disembunyikan. lalu dia kemudian menutup pintunya dan kembali ke dapur dengan perasaan yang campur aduk.
Bianca tersadar, "Gimana ini?" tanyanya pada Zora yang masih diam.
"a..aku gatau Bi.." Zora menutup mukanya membayangkan kalau Bi Imah akan mengadukan ini kepada maminya.. dia takut sekali. Takut maminya marah. Takut kehilangan Bianca.
"yaudah sebentar ya.. aku mau ngomongin sama Bi Imah.." Bianca sadar ini harus diselesaikan.
"tapi Bi.." Zora berusaha melarang.
"Tenang aja, aku cuma mau omongin kok.. kamu mau ikut?" tanya Bianca. Zora hanya mengangguk dan mengekor langkahnya Bianca.
Didapur,
"Bi..." Zora memanggil bi Imah yang sedang sibuk memasak.
"Iya non?" Bi Imah kelihatan sekali sedang menguasai perasaannya.
"masalah yang tadi bi, hmm.. anu.." Sambung Bianca.
"hmm.. Bibi gapapa Non, maaf tadi Bibi masuknya maen nyelonong aja, gak ngetok pintu dulu." Jawab wanita paruh baya itu gugup.
"Enggak, aku disini mau minta maaf bi. Bibi jadi gak nyaman ngeliat yang tadi.. beneran aku minta maaf ya bi.." kata Bianca. sedangkan Zora terdiam dibelakang tubuh Bianca.
"Iya non, Bibi yang harusnya minta maaff bukannya Non. aduh gimana ya.. hmm.. Bibi sih cuma mau nanya aja, apa kalian? hmm..anu.." kata Bi Imah kikuk.
"iya Bi, kita saling sayang" Bianca mengiyakan.
"tapi bibi jangan bilang sama mamski ya?" Akhirnya Zora membuka suara juga. jujur dia sangat takut kalau nanti bi Imah mengadu semua ini kepada maminya.
Bi imah berjalan mendekati Zora yang sedang panik, lalu memeluk anak majikan kesayangannya itu. "Iya Non Zora.. bibi gak bakal bilang.. bibi gak mau non dimarahin sama nyonya.. sebenernya bibi masih gak percaya. tapi bibi seneng kok kalau non Zora juga seneng." Zora membalas pelukan Bibi yang telah menemaninya dari dia masih orok dulu. hangat. hanya dialah perempuan yang bisa mengerti bagaimana perasaan terlarang dalam hatinya ini.
***
my all - mariah carey mengalun dari handphone Zora. "halo?"
"zor, kamu dimana? kok gak sekolah?" tanya lelaki di seberang sana.
"hah? siapa ini?" tanya Zora bingung.
"Ucup" kontan muka Zora langsung pucat. ditambah ada Bianca di sampingnya.
"Dimana aja boleh." Zora langsung mematikan teleponnya.
Bianca bingung melihat tingkah Zora. "siapa sayang?" tanyanya santai.
"ah, itu gak tau.."
"kok gak tau?" Bianca mengernyitkan dahinya.
"iya, abis iseng banget nanya dimana. takut suruhan Pak guru." jawabnya asal.
"hahaha.. parno deh. makanya jangan suka bolos sekolah. bentar lagi udah mau ujian nasionak juga. jadi anak tuh yang rajin." Bianca mengeluarkan jurus seribu khotbah nya.
"bawel deh, kamu juga kan ikutan bolos Bi.." Zora mencubit hidung Bianca gemas.
"adooooh.. sakit tau.. ya ini kan gara2 kamu. aku mah aslinya rajin weeee.."
Zora menjulurkan lidahnya. lalu diam diam menonaktifkan hp nya. takut Ucup meneleponnya lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar