Rabu, 05 Oktober 2011

psychotique (24)


"Hai Zor.." sapa laki-laki ganteng bertubuh tegak.
"duduk." Sambut Zora dingin. Laki-laki itu menuruti perintah Zora.
Zora menyundut rokoknya. "Mau lo tuh apa sih cup sbenernya?"
"Gue gak mau apa-apa kok Zor." Jawab Ucup.
"Nah terus kenapa lo balik lagi ngehubungin gue? Gue itu udah sangat tenteram tanpa lo."
"Apa gak ada kesempatan kedua buat gue?" Ucup memelas.
"Udah gak ada." Zora sengit.
"Gue cuma mau perbaikin kesalahan gue waktu itu. Gue mau yakinin lo kalo gue itu dijebak sama Rara. Kenapa sih gak bisa?"
"Eh gausah maksa lo ya. Lo bener kan emang tidur sama Rara waktu itu?" Tanya Zora sudah mulai emosi.
"Oke, iya itu bener. tapi wktu itu gue mabok. gue gak sadar.." Sanggah Ucup.
"Alah, lo kira gue bego? gak sadar gak sadar.. Emangnya badan Rara segede apa ampe bisa perkosa lo? Gue bukan anak kecil, Cup. Lo nya emang dasarnya mau."
"Tapi gue gak sadar, Zor..."
"Gak ngaruh buat gue." Jawab Zora Acuh.
"Bener-bener gak ada kesempatan bagi gue? walau cuma mau bertemen sama lo???" Ucup sepertinya sudah patah semangat.
"Kalo masalah bertemen, nanti gue pikir-pikir lagi. Yang penting lo gak usah rese lagi. Gue pusing nih ngadepin Bianca. Lo tau kan Bianca benci banget sama lo. bisa darah tinggi dia kalo tau lo sebegini ngototnya mau ngejelasin yang uda lewat." Ucup hanya tertunduk. Zora mematikan rokoknya yang masi setengah batang. Lalu beranjak pergi.
"Mau kemana?" Cegah Ucup.
"Pulang lah.." Zora tak peduli.
"Gue anter ya?" Tawar Ucup.
"Gue bawa motor kali, Cup." Zora kemudian berlalu meninggalkan Ucup yang masih sakit hati mendengar perkataan Zora tadi.
Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya, kesalahan masa lalunya terlalu fatal untuknya. Wanita yang dicintainya pun pergi karena kebodohannya. Dia hanya sendiri.

***

"Sumpah ya Zor, kamu lama banget." Ujar Bianca yang telah menunggu sejak tadi.
"Hehe.. maaf sayang.. Tadi ada masalah yang harus aku kelarin." Zora nyengir sambil membuka helm nya.
"Masalah apa?" Bianca mencium seesuatu mencurigakan.
"Udah deh, nanti aku ceritain.. Ayok kita masuk." Zora merangkul pinggang bianca masuk ke sbuah toko buku.
Disana mereka memilih-milih buku yang akan dibeli. maklum lah sbentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional. suatu momok yang menakutkan bagi pelajar.
"sst.. kamu mau cerita apa sih?" bisik Bianca.
"ntar aja udah, sambil makan. aku laper nih." Zora menyikut Bianca.
Sesaat kemudian mereka berdua sudah khusyu kembali memilih buku.
Setelah membayar buku yang dibelinya, mereka jalan keluar menuju sebuah cafe didekat situ.
"hmm... aku mau lasagna nya dooooong.." Ujar Zora manja.
Bianca sibuk memesan makanan, sedangkan Zora melihat-lihat lagi buku yang sudah dibelinya tadi.
"So, apa yang kamu mau ceritain?" Tanya Bi stelah beres memesan.
"Sebenernya tuh beberapa hari yang lalu Ucup mulai hubungin aku lagi. Gak tau deh dapet nomor aku dari siapa. Aku mau bilang kamu, tapi takut kamu emosi. Jadi aku baru berani bilang sekarang deh." Muka Bi langsung berubah datar.
"Trus?"
"Yah trus tadi tuh aku temuin Ucup dulu sebelum kesini. Bilang dan minta dia supaya gak ganggu aku lagi. Soalnya aku uda tenang tanpa dia. Awalnya dia maksa..."
"Brengsek..." Gumam Bianca memotong pembicaraan Zora.
"Sabar dulu.. aku terus kekeh bilang gak ada kesempatan kedua lagi buat dia. Yah akhirnya dia nyerah sih.. dia bilang yaudah pengen sekedar jadi temen aja." Zora menceritakan dengan muka tanpa dosa.
"Alah, alesan itu! dasar cowo gak tau diri.." Bianca emosi. "Itu pasti yang ngasih nomor kamu ke dia si Dio.." lanjut Bianca.
"Yaaaaa aku sih curiganya begitu."
"Pasti, siapa lagi kalo bukan dia. Inget ya sayang, aku gak suka sama dia. jangankan dia bertemen sama kamu, dia ketemu kamu gak sengaja pun aku gak suka. jauhin itu orang! kalo kamu sayang aku, kamu pasti ngerti." Bianca berusaha menahan emosinya.
Zora hanya mengangguk angguk. menahan perutnya yang keroncongan.
Akhurnya makanan pun datang, tanpa ba bi bu lagi Zora langsung menyambar makanan nya.. Bianca kebingungan melihat kekasihnya yang dengan napsunya melahap makanannya.
"Kamu gak makan dari SD ya sayang?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar