Jumat, 21 Oktober 2011

psychotique (25)


"loh, kok kalian disini" Sapa Dio yang kebetulan lewat cafe tempat Bianca dan Zora makan.
"eh iya.." Zora salah tingkah dan berhenti melahap makannnya.
"Ngapain lo disini, Yo?" tanya Bianca setengah kaget.
"hmm.. gue mau ke toko buku yang disana.. mau nyari komik.." Dio garuk garuk kepala.
"oh.." Bianca datar.
"yaudah yah gue kesana dulu.." kata Dio lalu di iyakan oleh Zora dan Bianca.

"untung kamu lagi gakpegang tangan aku beb..." bisik Zora.
Bianca hanya cengengesan.

***

setelah selesai makan, mereka berdua pergi.
Dio membuntuti dengan motor sport besarnya.

didalam mobil,
"Biiiiiii....." Zora mengeluh manja.
"Apa sih? kenapa?" Bi fokus menyetir.
"Aku kekenyangan niiihhhhh.." Bi tersenyum melihat tingkah pacarnya yang seperti anak kecil. lalu mengelus perlahan perut sang Zora.
Dio menjajarkan motornya dengan mobil Bianca, dan tak sengaja melihat perlakuan Bi kepada Zora.
kaget melihatnya, shock!
"gila ini ada yang salah nih.. gak bener.." rutuk Dio .
Dio lalu memelankan laju motornya agar tidaksejajar lagi dengan mobilnya Bianca dan terus membuntutinya.

***

akhirnya sampai lah dirumahnya Bianca.
Zora turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, sementara Bianca memarkir mobilnya.
Dio duduk diatas motornya dikejauhan dan mengawasi mereka.
sudah tercium hawa hawa tak enak di pikiran Dio.
tetapi Dio tak ingin mengambil kesimpulan yang nantinya malah akan membawa kesalah pahaman.

didalam rumah, papanya Bianca sudah bersimbah air mata memegang tubuh lunglai istrinya tercinta.
Zora terpaku melihat pemandangan itu, dia shock. dia takut membayangkan hal terburuk yang mungkin terjadi pada mamanya Bianca.
"Hah?!! mama....." Bianca agak berteriak, kaget melihat kondisi yang terjadi di ruang tamu rumahnya. seketika itu juga Bianca menghampiri mamanya..
"Ini kenapa? kenapa?!!!" Bianca berteriak kepada papanya. sedangkan papanya hanya menangis tak menjawab.
Bianca dengan sigap mencoba menggotong tubuh mamanya yang memang sudah kurus sekali di geragoti kanker dalam tubuhnya.
"biar papa aja, kamu siapin mobilnya." Papanya baru tersadar akan apa yang harusnya dilakukan. dia tidak boleh terlambat bertindak.
Bianca berlari ke depan sambil menghapus air matanya, sesigap mungkin dia menyalakan mobilnya kembali.
Zora pun membantu papanya menggotong mama Bi.
dan meluncurlah mereka ke rumah sakit terdekat.
Dio kaget, karena baru saja Bianca dan Zora masuk ke rumah lalu tiba tiba ada ribut ribut.
Dio kembali menunggangi motornya dan membuntuti dari belakang.

antara konsen dan tidak Bi menyetir mobilnya ke rumah sakit terdekat..
yang ada di pikirannya adalah dia harus cepat sampai agar mamanya selamat dari maut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar