Rabu, 26 Oktober 2011

psychotique (26)

Bianca menyandarkan tubuhnya di dinding dingin depan ruangan itu. panik. itu yang terpancar dari wajahnya. Bekas air mata yang mengering  tampak jelas menghiasi pipinya. Entahlah, pikirannya melayang ke negeri entah berantah, dia hanya bisa mengingat bahwa tadi dia sangat panik melihat mamanya terkulai lemah.
Zora pun tampak panik, dia berjalan lunglai meninggalkan Bianca sendirian menuju ke kantin di rumah sakit itu.
sampainya disana, dia pun menyalakan rokoknya dengan korek api lumba-lumba. berharap semua kepanikan dan prasangka buruk tentang mamanya Bianca akan berlalu bersama asap rokok  yang sekarang sudah bertengger manis di bibirnya yang merekah.
tiba tiba Dio yang sudah tidak tahan ingin bertanya tentang keadaan mamanya Bianca, menghampiri Zora yang duduk di kantin.
"eh, kok lo ada disini?" tanya Zora kaget.
"e.. i.. iya.. tadi gue pas nyampe depan rumahnya Bianca, lo sama Bianca udah pergi lagi naek mobil ngebut, pas gue tanya ke pembantunya katanya pada kerumah sakit. makanya gue susulin deh."
"oooh.. iya, mamanya Bianca kambuh." jelas Zora sambil mempersilakan Dio untuk duduk di depannya.
"terus gimana keadaannya sekarang?" tanya Dio.
"Belum tau, papanya masih ada di ruang dokter."
"sama Bianca?"
"enggak, Bianca ada di depan ruang dokter. dia daritadi kayak patung, gue ajak ngomong gak bisa. gue ikutan panik. jadi daripada nanti gue ribut sama dia ya gue kesini aja. nenangin diri." Zora menghembuskan asapnya kelangit.
"ohh begitu, yaudah deh gue mau nemuin Bianca dulu. dimana ruangannya?" tanya Dio bergegas.
"dari sini lurus sampe mentok belok kanan."
"oke, caw dulu ya Zor.." Zora mengiyakan dengan mengangkat tangannya.

Dio berjalan menghampiri Bianca,
"hey,," sapanya singkat.
Bianca hanya tersenyum simpul.
"gimana?" tanya dio lagi berusaha mencairkan suasana yang kaku. Bianca hanya mengangkat kedua bahunya.
Dio kemudian terdiam. Lalu papanya Bianca keluar dari ruangan dokter. lelaki tegap itu tampak lemah dan lesu.
tak berkata apa-apa, hanya duduk disebelah Dio yang masih terdiam, tak berani menanyakan apa apa.
Bianca yang masih berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di dinding membuka suara "gimana pa?"
"Mama kamu sudah gak bisa diselamatkan lagi. kankernya sudah terlalu ganas, diangkat pun gak bisa. even papa bilang bakal di bawa kerumah sakit luar negeri mana saja yang terbagus, the doctor said itu akan percuma." Papanya menangis terisak.
Bianca membisu, airmatanya menetes dan terjatuh di lantai. beberapa detik kemudian meledak lah tangis Bianca.
"Gak mungkin paaaah... mama itu masih sehat, mama masih bisa senyum sama Bi!!" Bianca lemas tak bisa lagi menahan tubuhnya. Dio dengan sigap menahan tubuh Bianca.
"sabar Bi, lo gak boleh begini.." Dio coba menenangkan pujaannya itu.
"SABAR GIMANA?!!" Bianca berteriak histeris masih smbil menangis meraung.
Zora datang, kaget. tapi dia bisa melihat ketidakberesan disini. pertanyaannya dia simpan untuk nanti.
dia merangkul kekasih rahasianya itu, "hey.. you are strong girl.. gak boleh begini ya.." Bianca tak memperdulikan sekelilingnya, terus saja menangis. Begitu pedih baginya untuk menyadari kalau cepat atau lambat dia akan ditinggal oleh orang nomor satu di hidupnya.
"Om mau tengok Tante dulu ya.." Papanya mungkin sudah tak kuat melihat anak satu satunya menangis begitu pilu.
lalu dia pun berlalu.
Zora dan Dio kerepotan untuk menenangkan Bianca yang histeris.
"udah ya tenang, kalo gak tenang tenang gimana bisa nengok mama?" Zora berkata selembut mungkin.
"gi..ma..na bisa te..nang... mama zoooor.. mamaaaa... dokter bilang mama tuh udah gak bi...sa di obatin la.. la..gi..."Bianca bicara terbata bata, mengatur napasnya.
"itu takdir Bi, seenggaknya kan kamu bisa ngebahagiain mama sebelum mama dipanggil ke sisi-Nya.."
"Gak mau Zor, aku mau aku aja yang gantiin tempatnya mama!!!!" Bianca makin histeris.
"hus, gak boleh begitu.. kamu harus sabar, nanti mamanya kasian loh.." Zora memeluk Bianca.
Bianca makin kencang menangis di pelukan Zora, entahlah.. dunianya seakan runtuh.
dia tidak bisa membayangkan kalau tidak ada mamanya yang mendampingi hidupnya lagi, tak bisa membayangkan kalau tidak ada yang cerewet membangunkannya pagi pagi dan menyuruhnya sarapan.. tidak bisa membayangkan kalau tidak ada yang tersenyum disaat dia melakukan hal hal konyol dirumah, tidak bisa membayangkan kalau tidak ada pelukan penuh kehangatan lagi yang dia butuhkan sewaktu waktu....

2 komentar: